oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu, pernah engga sih kepikiran, “Perlu engga ya, anakku meminta maaf?” Mungkin, di satu sisi kita merasa bahwa si kecil tidak perlu meminta maaf karena ia masih kecil, namun di sisi lain kita juga merasa penting untuk mengajarkan si kecil meminta maaf dan mengetahui bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah suatu kesalahan. Jadi, sebenarnya bagaimana ya baiknya? Perlu tidak, ya?

Para ahli mengatakan bahwa seorang si kecil tidak perlu dipaksa untuk meminta maaf saat melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti si kecil dibiarkan saja ketika melakukan kesalahan, terutama jika merugikan orang lain. Saat si kecil melakukan kesalahan, orang dewasa atau Ayah dan Ibu perlu memberikan penjelasan terkait alasan perilaku tersebut tidak baik untuk dilakukan. Selain menjelaskan perilaku yang salah, maka Ayah dan Ibu juga hendaknya memberikan informasi perilaku yang benar atau perilaku yang sebaiknya dilakukan. Memaksa si kecil untuk mengucapkan kata maaf, hanya akan membuat si kecil mengucapkan kata maaf dengan tidak tulus dan justru menjadi tidak paham arti kata ‘maaf’ tersebut.

Kadangkala, ada si kecil yang sulit sekali untuk mengungkapkan kata maaf, namun ada yang justru mudah mengungkapkan kata ‘maaf’. Pernahkah Ayah dan Ibu melihat ada si kecil yang mudah mengungkapkan kata ‘maaf’ namun kembali melakukannya? Kadangkala, si kecil mengeluarkan kata ‘maaf’ untuk menyenangkan orang dewasa dan menghindari hukuman. Akhirnya, kata ‘maaf’  yang sering dikeluarkan oleh si kecil justru berujung pada kelegaan pada Ayah dan Ibu. Namun, setelah Ayah dan Ibu lengah, si kecil bisa saja kembali melakukan perbuatan serupa. Hal ini bisa dikarenakan si kecil belum betul-betul paham makna dari kata ‘maaf’. 

Jadi, Apa yang perlu dilakukan ketika si kecil melakukan kesalahan?

1. Bicara dari hati ke hati

Saat si kecil melakukan kesalahan, ajaklah ia untuk bicara dari hati ke hati. Mulailah berfokus pada perasaan yang si kecil miliki. Bisa jadi, si kecil melakukan hal yang kurang baik karena satu alasan. Misalnya saat si kecil tidak meminjamkan mainan kepada adiknya dan memilih untuk merajuk. Bisa jadi ini adalah wujud dari perasaan cemburu.

Ayah dan Ibu dapat menanyakan, “mengapa kamu melakukan itu?” Setelah si kecil mengungkapkannya, Ayah dan Ibu dapat menanyakan perasaan si kecil ketika berada di posisi anak atau pihak lain. Hal ini perlu dilakukan agar si kecil tahu bahwa orangtua tetap ada untuknya sekalipun ia melakukan hal yang salah. 

Setelah tahap tadi selesai, ajak si kecil berfokus pada perasaan dari orang lain. Misalnya, “dik, kalau misalnya kamu mau pinjam mainan tapi sama temanmu tidak diperbolehkan gimana?” Jika diperlukan, lakukan role play agar si kecil betul-betul merasakan hal serupa.

Setelah si kecil mendapatkan dua sudut pandang, maka rangkumkan perasaan si kecil, perasaan orang lain, hal yang salah, serta hal yang harus dilakukan ke depannya. 

2. Ajarkan formula dalam mengungkapkan kata maaf

Jika ingin mengajarkan si kecil kata ‘maaf’, maka ajarkan si kecil mengenai formula kata ‘maaf’ yang lengkap dan bermakna. Kata maaf yang baik, bukan hanya sekedar mengucapkan ‘maaf’ saja, namun mengandung penjelasan mengenai perbuatan atau perilaku yang salah, alasan mengapa perilaku tersebut salah, dan solusi di masa depan. Misalnya saja saat si kecil tidak sengaja memukul dahi temannya. Ajarkan si kecil untuk mengungkapkan, “aku meminta maaf karena memukul dahimu. Itu salah karena dahimu pasti sakit sekali. Besok aku tidak akan mengulanginya kembali.”

3. Jadilah contoh yang baik 

Ingatlah bahwa si kecil pasti belajar melalui contoh dari orang-orang terdekat, misalnya saja ayah, ibu, atau orang lain di rumah. Berusahalah untuk bukan hanya sekedar mengucap maaf, namun betul-betul mengungkapkan perasaan bersalah dengan cara yang bermakna dan positif. 

4. Selalu konsisten

Selalu berusaha untuk konsisten juga menjadi hal yang penting. Berbagai aturan yang jelas dan disepakati oleh keluarga mengenai batasan perilaku yang diperbolehkan dan tidak juga sebaiknya diterapkan di rumah. Hal ini supaya si kecil juga tidak bingung terkait perilaku yang boleh dan tidak diperbolehkan.

 

Editor: drg Valeria Widita Wairooy

Sumber:

Smith, C. E. , Chen, D. & Harris, P. L. (2010). When the happy victimizer says sorry: Children’s understanding of apology and emotion.  British Journal of Developmental Psychology Vol 28. 727-746.

 

341total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *