oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Keluarga Kejora, tahukah kalian? Pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia di tahun 1959, Presiden Soekarno meresmikan 22 Desember sebagai Hari Ibu secara nasional. Dalam rangka mengapresiasi setiap wanita yang berjasa di hidup kita, kali ini mari kita mengenal lebih jauh penyakit jantung pada wanita. 1 dari 3 kematian pada wanita disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke. Angka kematian yang disebabkan kedua penyakit tersebut setiap tahunnya lebih tinggi dari penyebab kematian gabungan karena semua jenis kanker. Tantangan lain yang dihadapi yaitu gejala penyakit jantung pada wanita yang seringkali terabaikan. Berbeda dengan laki-laki, beberapa tanda dan gejala tampak samar dan tidak khas sehingga sering diartikan sebagai gejala penyakit lain yang tak berbahaya. Beberapa gejala serangan jantung pada wanita seringkali bukan rasa nyeri dada yang khas, melainkan rasa tidak nyaman pada perut, punggung, nafas tersengal – sengal, nyeri pada lengan, mual, muntah, berkeringat, pusing, kelelahan, pingsan, atau gangguan pencernaan.

Keluarga Kejora mungkin sudah sering mendengar faktor risiko tradisional yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner baik pada pria maupun wanita, antara lain diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi, obesitas maupun overweight. Pria juga lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner dibandingkan wanita. Namun tahukah Anda bahwa risiko penyakit jantung koroner menjadi sama besarnya antara pria dan wanita ketika wanita telah mengalami menopause? Hal ini disebabkan oleh peran estrogen yang memiliki beberapa efek kardioprotektif, seperti meningkatkan high density lipoprotein (HDL) yang merupakan “kolesterol baik”, dan menurunkan low density lipoprotein (LDL) atau “kolesterol jahat”. Dengan menurunnya kadar estrogen yang terjadi pada saat mulai menopause, maka risiko untuk terjadi kerusakan dinding pembuluh darah dan penyakit kardiovaskular pun akan meningkat.

Apakah pada wanita yang belum menopause dan tidak memiliki faktor risiko tradisional sudah pasti aman dari penyakit jantung? Beberapa kondisi ternyata menunjukkan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular khususnya pada wanita.

Faktor Risiko Non Tradisional pada Wanita

  • Persalinan prematur

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa persalinan prematur merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat terutama pada wanita dengan riwayat persalinan prematur dini (<34 minggu). Penyebab dan mekanisme yang mendasari meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada populasi ini belum diketahui secara pasti. Mekanisme utama yang dipikirkan yaitu peradangan, infeksi, dan penyakit pembuluh darah.

  • Gangguan kehamilan hipertensi

Gangguan pada kelompok ini meliputi hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan maupun hipertensi yang hanya terjadi saat kehamilan dan preeklampsia. Sebuah penelitian besar menunjukkan wanita yang memiliki riwayat preeklampsia berisiko 3.7 kali lipat lebih tinggi menderita hipertensi hingga 14 tahun setelah persalinan, 2.16 kali lipat lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner, dan 1.81 kali lipat lebih tinggi risiko terjadi stroke dibandingkan wanita tanpa riwayat preeklampsia.

  • Diabetes gestasional

Diabetes gestasional didefinisikan sebagai diabetes mellitus (DM) yang baru didiagnosis setelah trimester pertama kehamilan, dan hanya berlangsung hingga proses melahirkan. Penelitian menunjukkan wanita dengan diabetes gestasional berisiko hingga 7 kali lipat tetap mengalami DM yang menetap di kemudian hari, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular lainnya. Risiko stroke juga meningkat 2 kali lipat dan risiko penyakit jantung meningkat 4 kali lipat pada wanita dengan riwayat diabetes gestasional walaupun gula darah mereka kembali normal paska melahirkan.

  • Penyakit autoimun

Pada penyakit autoimun, respon imun berlebih yang terjadi menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat terjadi secara sistemik atau memengaruhi sistem organ tertentu pada tubuh penderita. Disfungsi yang terjadi pada pembuluh darah memiliki peran penting dalam perkembangan penyakit kardiovaskular pada penderita autoimun. Pasien dengan rheumatoid arthritis (RA) berisiko 2-3 kali lipat lebih tinggi mengalami serangan jantung dan risiko stroke 50% lebih tinggi. Pada penderita systemic lupus erythematosus (SLE), risiko penyakit jantung koroner meningkat antara 9 hingga 50 kali lipat dibandingkan populasi umum.

  • Polycystic ovary syndrome (PCOS)

Wanita dengan PCOS memiliki risiko 19% lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dibandingkan wanita tanpa PCOS. Hal ini mungkin disebabkan karena wanita dengan PCOS cenderung mengalami kelebihan berat badan, tekanan darah yang tinggi, dan gangguan metabolisme glukosa hingga diabetes.

  • Radioterapi dan/atau kemoterapi pada kanker payudara

Radioterapi pada kanker payudara (terutama pada payudara sebelah kiri) seringkali melibatkan paparan radiasi pengion terhadap organ jantung, yang mempercepat proses penyakit jantung iskemik di kemudian hari. Radioterapi dan beberapa jenis obat kemoterapi juga dapat bermanifestasi menjadi penyakit jantung katup dan kardiomiopati (kelemahan otot jantung).

  • Kenaikan berat badan yang menetap setelah kehamilan

Berat badan satu tahun pascapersalinan merupakan prediktor kuat untuk kemungkinan kelebihan berat badan 15 tahun kemudian.  Penelitian menunjukkan pada wanita yang tidak menurunkan berat badan antara 3 sampai 12 bulan setelah melahirkan memiliki profil kardiometabolik yang kurang baik, seperti kadar kolesterol dan resistensi insulin yang berpengaruh dalam progresivitas penyakit jantung.

  • Gangguan stress dan depresi

Depresi pada wanita merupakan faktor risiko yang signifikan untuk penyakit jantung dan stroke, dan wanita yang sudah memiliki penyakit jantung lebih cenderung mengalami depresi dibandingkan pria.

Penerapan pola hidup sehat masih dan akan selalu menjadi kunci dalam mencegah dan memperlambat proses penyakit kardiovaskular. Jaga berat badan ideal, atur pola makan gizi berimbang, berolahraga secara teratur, serta tidak merokok merupakan langkah – langkah yang harus dilakukan setiap anggota keluarga di segala usia, baik pria maupun wanita. Lalu bagaimana jika Anda termasuk wanita dengan faktor risiko yang tinggi? Konsultasi dengan dokter mengenai risiko Anda, beberapa kondisi pasien memerlukan pemantauan dan pengobatan lebih dini dan lebih ketat dengan tujuan memperlambat proses inflamasi / peradangan yang terjadi pada tubuh Anda. Skrining jantung dan kesehatan lengkap secara berkala akan sangat bermanfaat untuk deteksi lebih dini.

Editor: drg. Valeria Widita

Referensi:
1. Cardiovascular Disease in Women: Clinical Perspectives. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4834856/
2. The protective role of estrogen and estrogen receptors in cardiovascular disease and the controversial use of estrogen therapy. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5655818/https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5655818/
3. Young women with polycystic ovary syndrome have raised risk of heart disease. Diunduh dari: https://www.escardio.org/The-ESC/Press-Office/Press-releases/Young-women-with-polycystic-ovary-syndrome-have-raised-risk-of-heart-disease

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *