oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

*Bekerja sama dengan Safe Kids Indonesia dan Yayasan Sioux Ular Indonesia

Halo Keluarga Sehat Kejora! Belakangan ini ramai sekali pemberitaan mengenai ditemukannya ular di pemukiman warga di berbagai tempat. Satu ekor ular saja dapat menyebabkan keresahan, bagaimana bila ditemukan lebih banyak lagi ya. Apakah Ayah dan Ibu sudah pernah “berkenalan” dengan ular? Apa yang dapat kita lakukan bila berhadapan dengan situasi seperti ini? Yuk kita simak ulasannya.

Mitos dan Fakta

Mungkin Keluarga Kejora pernah menerima informasi yang menyebutkan kalau sedang camping di hutan, jangan lupa tebarkan garam disekitar tenda agar ular tidak mendekat. Betulkah seperti itu? Ternyata itu hanya mitos lho! Faktanya, ular tidak takut garam karena ia terlindungi oleh sisiknya. Ular juga tidak takut terhadap belerang, obat rayap, ataupun obat semut. Justru, yang tidak disukai oleh ular adalah bau yang menyengat karena akan mengganggu penciumannya, misalnya cuka.

Ayah dan Ibu Kejora, perlu diketahui pula bahwa tidak semua ular berbisa itu mematikan. Faktanya, hanya 77 dari 348 spesies ular di Indonesia yang bisanya mematikan. Namun, menjaga kewaspadaan tetap penting ya, Ayah dan Ibu. Lalu bagaimana dengan warna ular? Apakah warna-warna tertentu erat kaitannya dengan bisa yang mematikan? Ternyata itu juga hanya mitos!

Membedakan ular berbisa atau tidak

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dari 348 spesies ular di Indonesia hanya 77 yang bisanya mematikan. Tipe ular dibedakan berdasarkan bisanya: highly venomous (sangat beracun) dan non venomous (tidak beracun). Kedua tipe ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat membantu kita membedakannya.

Karakteristik dari ular yang highly venomous adalah gerakannya yang lambat. Selain itu, ia memiliki betuk kepala segitiga, mata berbentuk elips, dan memiliki sisik satu baris/ tidak terbagi di bagian buntut. Tipe ular ini membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa melalui taringnya dan memiliki lubang penginderaan panas (heat-sensing) di dekat hidungnya.

Berbeda dari ular yang highly venomous, karakteristik ular yang non-venomous hampir berkebalikan, seperti gerakannya yang cepat, bentuk kepala dan mata yang bulat, dan tidak memiliki taring bisa. Pada bagian buntut sisiknya terbagi menjadi dua baris. Tipe ular ini gigitannya tidak mematikan, namun membunuh mangsanya dengan cara membelit.

Mencegah ular datang ke rumah

Salah satu alasan ular mendatangi tempat tinggal adalah karena lapar. Bisa jadi hal itu terjadi karena telah putus rantai makanannya pada habitat sebelumnya. Agar dapat mencegah ular datang ke rumah, kita dapat belajar memahaminya melalui karakter biologi dari ular. Misalnya, ular sangat mengandalkan penciumannya yang berada pada lidahnya untuk mendeteksi mangsa dan musuh. Ia sangat sensitif dan tidak suka dengan bau yang menyengat. Bila area tempat tinggal kita sering kedatangan ular, trik ini dapat membantu mencegah ular datang ke rumah. Namun, dengan menjaga tempat tinggal kita bersih, ular pun akan segan untuk datang, karena pada dasarnya ular takut dengan manusia.

Ciri-ciri tempat yang disukai ular

Setiap hewan memerlukan tempat yang kondusif untuk hidup. Pastikan tempat tinggal kita bukan salah satunya ya, Ayah dan Ibu. Ciri-ciri tempat yang disukai ular termasuk diantaranya:

  1. Kering, tidak basah lantainya atau hanya sedikit lembab tanpa adanya genangan air.
  2. Tanpa cahaya atau gelap. Ular yang aktif pada malam hari (nokturnal) akan sembunyi di siang hari. Sedangkan, ular yang aktif pada siang hari (diurnal) akan tidur di malam hari di tempat yang sedikit terbuka.
  3. Di dalam lubang. Karena ular tidak berkaki atau tangan, maka ia akan memanfaatkan lubang yang telah dibuat oleh hewan lain.

Contoh tempat di sekitar rumah yang disukai oleh ular adalah plafon atap, lubang pondasi, saluran sampah, dan tumpukan material.

Yang dilakukan bila bertemu ular

Ayah dan Ibu, saat manusia bertemu dengan ular, bukan hanya manusia yang syok dan stres. Ular pun ternyata merasakan yang sama! Saat ular panik atau takut, yang ia lakukan hanyalah berlari, bertahan, mengancam, dan menyerang. Jangan sampai kita memprovokasi. Bagaimana agar ular tidak menyerang? Kita harus STOP. Maksudnya?

S Silent. Jangan bergerak. Ular akan merespon bila melihat gerakan. Jika kita diam, ular tidak bisa membedakan antara kita dan benda mati (misalnya pohon bila kita sedang berada dekat pepohonan).
T Think. Pikirkan ular macam apa ini? Highly venomous atau non venomous?
O Observe. Lihat sekitar kita. Apakah ada benda yang bisa membantu kita untuk memegang atau mengangkat ular, dan apakah memungkinkan untuk kita berpindah atau mundur.
P Prepare. Apa yang akan kita lakukan? Mengejar ular, menangkap, atau mundur?

Bila kita tidak berani mengambil aksi, kita cukup diam dan ular akan pergi sendiri. Ayah dan Ibu juga dapat menghubungi petugas Pemadam Kebakaran di nomor 113 untuk bantu menangani situasinya.

Penanganan gigitan ular

Ayah dan Ibu Kejora, yang paling penting dilakukan bila digigit ular adalah untuk tetap tenang dan tidak panik—jangan berteriak atau berlarian. Pindahlah ke tempat yang aman dan hubungi pemadam kebakaran (113) untuk bantuan. Bersihkan luka gigitan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan.

Lilitkan perban dan lakukan pembidaian pada area yang digigit untuk meminimalkan pergerakan (imobilisasi). Posisikan bagian yang luka lebih rendah dari posisi jantung. Bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) atas saran dokter yang menangani dan diobservasi selama 2 x 24 jam. Penting diingat untuk menghindari obat-obatan tradisional, menghisap luka, ataupun mengikat luka dengan sangat kencang. Masa penyerangan mematikan bergantung kepada jenis ularnya, rata-rata sekitar 10 menit hingga 24 jam. Maka dari itu, penting sekali korban diberikan pertolongan yang memadai.

Semoga kita semua selalu terlindungi ya, Ayah dan Ibu Kejora!

394total visits,5visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *