oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Kali ini kita akan membahas mengenai pemeriksaan pada setiap bayi baru lahir. Ayah dan Ibu apakah mengetahui pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir? Apa pentingnya kita melakukan pemeriksaan tambahan pada bayi baru lahir padahal, bayi dalam kondisi sehat? Kita akan rugi, atau malah untung?

Pemeriksaan penyaring rutin (laboratorium atau penunjang) pada bayi baru lahir disebut dengan newborn screening. Pemeriksaan laboratorium rutin pada bayi baru lahir sudah menjadi kebijakan umum di negara maju. Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berhubungan dengan hormon dan metabolisme tubuh, sehingga bayi tidak mengalami kejadian yang membahayakan hidupnya, atau komplikasi yang tidak bisa disembuhkan lagi.

Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan pada hormon tiroid. Hormon tiroid sangat penting perannya dalam kehidupan, salah satunya adalah berperan dalam perkembangan otak bayi. Apabila terdapat kekurangan hormon tiroid, akan terjadi gangguan kekurangan hormon tiroid bawaan (congenital hypothyroidism). Insidensi congenital hypothyroidism adalah sebesar 1 dalam 3.000-4.000 kelahiran. Congenital hypothyroidism dapat menyebabkan gangguan intelektualitas yang menetap dan kegagalan pertumbuhan. Hal ini menjadikan diagnosis dan terapi congenital hypothyroidism harus dilakukan sedini mungkin dan menjadi prioritas. Pemeriksaan dapat dilakukan saat bayi berusia 48 jam, dengan pemeriksaan thyroid stimulating hormone (TSH).

Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan G6PD. Glocose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) adalah enzim yang bertujuan melindungi sel darah merah agar tidak pecah. Sel darah merah yang tidak memiliki enzim G6PD dalam jumlah cukup akan mudah pecah bila terkena infeksi, obat, atau makanan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi anemia. Hal tersebut dapat diketahui sedini mungkin melalui pemeriksaan enzim G6PD sejak bayi lahir. Pemeriksaan enzim G6PD dari darah dapat dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan TSH.

Pemeriksaan telinga juga menjadi salah satu bagian pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir. Perkembangan bicara sangat penting dalam 2 tahun pertama. Apabila terdapat gangguan pendengaran maka perkembangan otak bagian bicara akan terganggu dan sulit untuk melakukan stimulasi untuk mengembalikan kemampuan berbicara. Untuk itu terdapat pemeriksaan OAE (otoacoustic emissions) untuk memeriksan telinga bagian dalam. Alat OAE akan mendeteksi suara dari getaran sel rambut di telinga dalam. Bila terdapat gangguan pendengaran lebih dari 25-30 desibel, maka tidak akan terdapat produksi OAE. Pemeriksaan OAE dapat dilakukan sejak awal kehidupan, sehingga kita dapat mendeteksi secara dini apabila terdapat gangguan pendengaran.

Penting sekali apabila kita melakukan pemeriksaan laboratorium dan telinga untuk bayi baru lahir. Tujuannya adalah agar kita dapat mendeteksi kelainan sedini mungkin, sehingga generasi penerus bangsa dapat tumbuh dan berkembang sepenuhnya dengan sangat baik.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Referensi:
https://www.asha.org/public/hearing/otoacoustic-emissions/
https://kidshealth.org/en/parents/g6pd.html
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/Glands-Growth-Disorders/Pages/Congenital–Hypothyroidism-Infants.aspx

176total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *