oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Halo Ayah dan Ibu Kejora Indonesia.

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar mengenai skoliosis, ya? Mungkin dulu saat masih di bangku sekolah, saat kita mendapatkan pelajaran IPA. Nah, untuk Ayah dan Ibu yang belum tahu dan penasaran sebenarnya skoliosis itu apa sih, mari simak artikel berikut ini.

Apakah Skoliosis itu?

Skoliosis adalah suatu kondisi dimana tulang belakang tidak lurus atau bengkok. Skoliosis cukup banyak terjadi pada anak, terutama yang sedang dalam masa pertumbuhan (growth spurt). Pada masa ini anak-anak tumbuh dengan pesat. Gangguan pada masa ini dapat menimbulkan risiko terjadinya kelainan pada batang tubuh (trunk) anak, termasuk pada tulang belakang. Salah satu risiko tersebut adalah Skoliosis atau yang kita kenal dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS).

Kelainan skoliosis terjadi apabila derajat kemiringan tulang belakang kita lebih dari sepuluh derajat. Derajat tersebut dinilai dari arah belakang melalui pemeriksaan foto roentgen vertebra (tulang belakang). Skoliosis memiliki tiga derajat berdasarkan sudut kemiringannya yang disebut sebagai sudut Cobb. Derajat Ringan apabila sudut Cobb di bawah 20 derajat. Derajat sedang apabila sudut Cobb antara 20-40 derajat. Sedangkan derajat berat apabila sudut Cobb lebih dari 40 derajat.

Apakah skoliosis itu berbahaya?

Ayah dan Ibu, skoliosis itu sebenarnya tidak berbahaya, namun skoliosis dapat menimbulkan beberapa kondisi. Kondisi tersebut antara lain gangguan pernapasan, keterbatasan aktivitas fisik serta beberapa keluhan lain seperti nyeri, rasa pegal, cepat lelah, ataupun kelumpuhan pada anak.

Lalu, bagaimanakah cara mendeteksi Skoliosis?

Sebenarnya skoliosis bisa dideteksi sejak dini, sebelum derajat kemiringannya bertambah berat. Ayah dan Ibu bisa memeriksa tulang belakang anak dengan cara melihat dari arah belakang tubuh anak, yaitu apakah tulang belakang anak lurus posisinya dari atas hingga bawah. Cara mendeteksinya dimulai dari area leher, punggung, pinggang, sampai tulang ekornya. Selain itu, Ayah dan Ibu juga dapat membandingkan ketinggian bagian-bagian tubuh anak antara sisi kanan dan kiri seperti area bahu, tulang belikat, panggul, ataupun lutut. Penting untuk membandingkan apakah kedua sisi kanan dan kiri anak sama tingginya di beberapa area tersebut, atau apakah terjadi perbedaan tinggi di area tertentu yang dapat dicurigai sebagai skoliosis.

Bagaimanakah perawatan Skoliosis?

Tatalaksana skoliosis anak tergantung dari derajat skoliosisnya. Pada derajat ringan, anak disarankan untuk melakukan olahraga atau latihan peregangan dan latihan penguatan pada otot-otot tulang belakang yang bermasalah. Untuk skoliosis derajat sedang, disarankan penggunaan alat bantu pada tulang belakang yang disebut sebagai brace, brace memiliki bermacam jenis sesuai indikasi medis, di samping anak harus tetap aktif melakukan latihan. Sedangkan untuk derajat berat, terkadang diperlukan tindakan operasi untuk mengoreksi letak tulang belakangnya. Selain itu diperlukan penggunaan brace paska operasi dan latihan peregangan dan penguatan otot-otot tulang belakang.

Nah Ayah dan Ibu Kejora, ingat untuk mengecek tulang belakang anak sejak dini ya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya..

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

SUMBER:

  1. Staheli, Lynn T. Fundamentals of Pediatric Orthopedics. 4th edition. Philadeplhia: Lippincott Williams&Wilkins. 2008.
  2. Molnar GE, Alexander MA. Pediatric Rehabilitation. 3th edition. Philadeplhia: Hanley&Belfus Inc. 1999.

639total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *