oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu tentang penyakit polio? Mari simak pembahasan Kejora berikut ini untuk mengenal lebih dekat tentang penyakit polio.

Polio merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang anak-anak yang disebabkan oleh infeksi virus polio. Virus polio masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna. Penularan penyakit ini biasanya terjadi melalui kontak dengan tinja seseorang yang terinfeksi virus polio atau melalui air liur dari orang yang terinfeksi virus polio saat bersin atau batuk. Setelah masuk ke saluran cerna, bakteri ini akan berkembang biak dan selanjutnya masuk ke dalam darah dan menyerang saraf.

Gejala yang dijumpai pada anak yang menderita penyakit polio serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya, antara lain demam, lesu, nyeri perut, nyeri kepala, dan mual. Selain itu, kelumpuhan pada kaki dan tangan juga bisa terjadi, karena virus polio dapat menyerang saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Kelumpuhan ini bersifat permanen dan akan menyebabkan disabilitas pada penderitanya. Pada beberapa kasus, virus polio juga menyerang saraf otot yang berperan dalam pernafasan, yang dapat mengakibatkan kesulitan bernafas dan kematian.

Sampai dengan saat ini, polio belum dapat disembuhkan. Pada anak yang menderita penyakit polio, penanganan yang diberikan bersifat suportif atau mengurangi disabilitas jangka panjang, seperti fisioterapi, terapi okupasi, maupun pembedahan untuk mengoreksi kelainan pada tulang akibat virus polio. Meskipun demikian, penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi polio pada anak sebanyak 5 kali, yaitu pada saat baru lahir, pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan.

Saat ini, di Indonesia tersedia dua jenis vaksin polio, yaitu vaksin yang diteteskan melalui mulut (oral) dan yang disuntikkan. Selain perbedaan cara pemberian, perbedaan kedua vaksin ini juga terletak pada jenis virus di dalamnya. Vaksin polio tetes berisi virus polio hidup yang sudah dilemahkan. Setelah diteteskan dan ditelan, virus yang telah dilemahkan tersebut akan berkembang biak di usus dan membentuk kekebalan terhadap virus polio liar. Sedangkan, vaksin polio yang disuntikkan mengandung virus polio yang sudah mati. Virus ini hanya membentuk kekebalan di dalam darah. Jika anak yang mendapat vaksin polio suntik terinfeksi virus polio liar, virus tersebut tetap bisa berkembang biak di usus dan virus yang terkandung dalam tinja bisa menginfeksi anak lain di sekitarnya. Namun, infeksi ini tidak menyebabkan anak sakit karena sudah memiliki kekebalan di dalam darah. Hal inilah yang mendasari pemberian vaksin polio tetes di negara yang masih mengalami penularan vaksin polio liar. Pemberian vaksin polio tetes akan beralih ke pemberian vaksin suntik kalau selama ≥ 5 tahun tidak ditemukan virus polio liar.

Jadi, sudahkah buah hati Ayah Ibu mendapatkan vaksinasi polio? Jika belum, konsultasikan dengan Dokter mengenai pemberian imunisasi polio untuk si kecil ya. Dengan memastikan pemberian imunisasi polio untuk si kecil, maka Ayah dan Ibu sudah berpartisipasi untuk mewujudkan dunia bebas polio yang diharapkan tercapai pada tahun 2020.

Sumber:
https://www.nhs.uk/conditions/polio/
https://www.cdc.gov/polio/about/
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-polio
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

383total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *