oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini kita akan membahas tonsil palatina atau AMANDEL pada anak. Banyak pertanyaan seputar amandel yang disampaikan orangtua pada praktek dokter sehari-hari. Bahkan tidak jarang yang periksa ke dokter dengan keluhan sang buah hati “sakit amandel”, atau menanyakan apakah amandel anaknya yang besar perlu dioperasi. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai amandel pada anak.

Apa itu amandel?

Amandel atau tonsil palatina merupakan bagian dari kelenjar getah bening yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel terlihat seperti benda bulat yang menyerupai bakso di kanan dan kiri ujung belakang rongga mulut yang dapat dilihat bila anak membuka mulut lebar sambil menjulurkan lidahnya.

Bahayakah jika amandel anak besar?

Sistem kelenjar getah bening, termasuk amandel mengalami perkembangan pesat saat anak berusia 5-15 tahun. Pada usia tersebut ukuran normal amandel anak dapat mencapai dua kali ukuran dewasa sehingga orang tua tidak perlu kuatir jika ukuran amandel anak besar, asalkan tidak disertai gejala peradangan.

Apakah itu radang amandel?

Radang amandel atau yang dikenal dengan tonsilitis merupakan infeksi pada saluran napas bagian atas yang dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah amandel terlihat merah, nyeri dan bengkak sehingga tampak lebih membesar. Keluhan tersebut dapat disertai dengan demam, nyeri menelan, batuk, atau pun pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

Bagaimana penanganan radang amandel?

Radang amandel yang disebabkan akibat virus akan pulih dengan sendirinya. Hal yang perlu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Kejora adalah memastikan buah hati lebih banyak minum air putih untuk mengurangi nyeri pada tenggorokan dan mencegah dehidrasi. Berikan anak makanan bergizi yang bertekstur lembut, jika terdapat keluhan nyeri menelan dan pastikan anak beristirahat yang cukup untuk memulihkan sistem kekebalan tubuhnya. Jika radang amandel disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik. Pastikan anak minum antibiotik sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.

Apakah amandel yang besar perlu dioperasi?

Ukuran amandel yang besar pada anak bukan merupakan alasan untuk dioperasi. Penyebab amandel perlu dioperasi adalah adanya gangguan napas saat anak tidur yang disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Anak diduga mengalami OSAS, jika lebih dari 3 hari dalam seminggu tidurnya mendengkur, terdapat gejala henti napas saat tidur yang diikuti gelagapan seperti hendak terbangun, namun kemudian anak kembali tidur. Gejala lain yang bisa terjadi adalah sering mengantuk pada siang hari dan bahkan adanya gangguan prestasi belajar sekolah. Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis OSAS pada anak menggunakan polisomnografi (PSG).

Alasan kedua perlunya operasi adalah radang amandel dan tenggorokan (tonsilofaringitis) akibat kuman streptokokus yang terjadi hingga 7 kali atau lebih dalam 1 tahun terakhir, atau 5 kali per tahun dalam dua tahun berturut, atau 3 kali pertahun dalam 3 tahun berturut. Gejala radang amandel akibat kuman streptokokus, diantaranya adalah demam tinggi dengan nyeri tenggorokan yang berat, dan amandel terlihat sangat merah disertai bercak putih pada permukaannya sehingga anak memerlukan terapi antibiotik yang adekuat.

Jadi operasi amandel dilakukan hanya dengan indikasi yang sangat jelas. Apakah masih perlu kuatir dengan amandel sang buah hati? Semoga pembahasan ini bisa membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan amandel. Sampai bertemu pada topik ilmu kesehatan anak lainnya. 

 

Editor : Saka Winias

Sumber :

  1. Naning R, Triasih R, Setyati A. Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis Akut. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.289-95.
  2. Supriyatno B. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) pada anak. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.402-11.

724total visits,6visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *