oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

Andi tau bahwa ia harus buang air besar (BAB) saat ini. Tapi ketika ia duduk di toilet, tidak ada feses yang keluar. Dia menunggu lagi hingga hampir 15 menit tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Akhirnya dia mencoba untuk mengedan dengan kuat, namun terasa sakit. Setelah beberapa saat, feses berukuran kecil dan keras seperti kelereng keluar. Andi lalu menyiram kotorannya dan cuci tangan, namun ia tidak merasa lebih nyaman. Kenapa? Dia mengalami konstipasi.

Ayah dan Ibu, mungkin kisah di atas sudah tidak asing lagi terdengar. Sembelit, atau konstipasi, merupakan masalah kesehatan yang sangat umum terjadi pada anak. Anak mungkin mengalami sembelit apabila dalam seminggu buang air besar kurang dari 3 kali, terdapat kesulitan dalam memulai buang air besar, atau fesesnya sangat besar, keras, dan kering.

Gejala apa yang muncul ketika anak mengalami sembelit?

Setiap anak memiliki pola buang air besar yang berbeda. Salah satu anak mungkin bisa buang air besar hingga 2-3 kali per hari sementara anak lainnya mungkin buang air besar setiap 2 hari. Secara umum anak dapat dicurigai mengalami sembelit bila mengalami gejala berikut, yaitu:

  1. BAB dengan frekuensi yang kurang dari biasanya
  2. Sulit BAB atau nyeri ketika BAB
  3. Merasa kembung, begah, atau mengalami sakit perut
  4. Mengedan ketika BAB
  5. Terdapat sedikit darah pada saat BAB
  6. Ditemukan feses dalam celana anak
  7. Berubah postur atau posisi misal berdiri dengan tumit, menyempitkan otot bokong, atau gerakan-gerakan tidak biasa lainnya
  8. Pada keadaan yang lebih jarang, anak jadi sering mengompol/tidak bisa menahan kencing karena tekanan usus yang terisi penuh pada kandung kemih

Apa yang menyebabkan sembelit pada anak?

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan sembelit. Dari segi pola makan, anak bisa mengalami sembelit apabila tidak minum cukup air dan makan cukup serat. Anak yang terbiasa menunda atau menahan buang air besar hampir selalu mengalami sembelit. Biasanya anak yang seperti ini menunda BAB karena tidak ingin menggunakan toilet selain toilet di rumah, karena tidak ingin berhenti bermain atau mungkin karena ia takut izin atau perlu ditemani ke toilet.

Stres juga merupakan salah satu faktor penyebab sembelit. Ada sebuah keadaan yang disebut irritable bowel syndrome, yang dapat dipicu oleh stres, yang menyebabkan anak mengalami sembelit atau diare. Penggunaan beberapa obat-obatan seperti suplemen zat besi, antasida, dan antidepresan dapat menyebabkan sembelit juga.

Walaupun jarang, sembelit juga bisa merupakan sebuah tanda dari penyakit lain yang lebih serius, seperti tumor atau penyakit saraf pada usus. Sehingga, orang tua tetap perlu konsultasi kepada dokter bila anak mengalami sembelit.

Apa yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah dan menangani sembelit?

  1. Ajak dan berikan anak lebih banyak air minum.

Air/cairan yang cukup akan membantu feses agar dapat bergerak dengan mulus di dalam rongga usus.

  1. Berikan serat yang lebih untuk anak.

Makanan tinggi serat seperti buah dan sayur sulit untuk dicerna sehingga akan membantu mengeluarkan isi usus, sehingga dapat mencegah konstipasi.

  1. Pastikan anak cukup beraktivitas dan berolahraga.

Aktivitas fisik juga membantu usus untuk bekerja, sehingga doronglah anak untuk sering-sering berolahraga atau bergerak. Aktivitasnya dapat berupa aktivitas yang sederhana seperti bermain tangkap-tangkapan, naik sepeda, dan lain-lain.

  1. Ubah kebiasaan anak untuk pergi ke kamar mandi.

Biasakan anak untuk tidak menahan BAB bila sudah terasa akan BAB. Selain itu, bentuklah pola dan kebiasaan anak untuk BAB secara teratur misalnya dengan membiasakannya untuk duduk di toilet selama 10 menit setiap hari di waktu yang sama.

Bila kondisi sembelit terlanjur berat, maka atas saran dari dokter, anak mungkin perlu diberikan pencahar untuk mengatasi sembelit tersebut sambil memperbaiki pola BABnya. Di sisi lain, bila sembelit disebabkan oleh penyakit lain, maka penanganannya akan tergantung kepada penyakit yang mendasari.

Risiko apa yang dapat terjadi bila anak mengalami sembelit berkepanjangan?

Sembelit berkepanjangan akan menyebabkan penumpukan feses di dalam rongga usus. Feses yang tertahan ini mengalami penyerapan kembali sehingga menjadi semakin keras. Penumpukan berlebih kotoran yang keras tersebut membuat proses BAB menjadi sulit.

Ada banyak konsekuensi yang muncul akibat proses ini. Nafsu makan anak dapat terganggu akibatnya. Selain itu, ketika anak mengedan sangat keras untuk mengeluarkan kotorannya, anus dapat terluka dan timbul lecet, sehingga akan semakin mempersulit proses buang air besar berikutnya. Lecet ini jugalah yang memungkinkan ditemukannya darah pada saat BAB.

Kadang-kadang, ketika sembelit cukup berat, kotoran berair seperti diare dapat keluar dengan sendirinya. Hal ini akan sangat membuat malu anak dan dapat mengganggu kepercayaan dirinya. Walaupun jarang, turunnya isi usus (rektum) sehingga dapat terlihat dari luar dapat terjadi pada anak yang mengalami sembelit.

Jadi, kapan harus ke dokter?

Ayah dan Ibu perlu membawa si kecil ke dokter apabila sembelit telah berlangsung 1 minggu atau lebih, BAB di celana, si kecil mengalami nyeri perut yang berat, muntah, kurang makan, atau bila Ayah dan Ibu telah mencoba melakukan upaya perbaikan diatas namun belum ada perbaikan pada sembelit yang dialami anak.

Edited by dr. Nurul Larasati

205total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *