oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam sehat untuk Keluarga Kejora!

Kali ini, kita akan membahas mengenai konsumsi kopi untuk Si Kecil ya. Kalau kita amati, belakangan ini kedai kopi sudah semakin banyak dan mudah untuk ditemukan dimana-mana. Kedai kopi menyediakan beragam jenis kopi, mulai dari kopi murni, kopi susu, hingga berbagai rasa minuman yang dicampur dengan kopi. Warna yang menarik dengan rasa manis tentunya sering menarik perhatian Si Kecil.

Nah, apakah Ayah dan Ibu bertanya-tanya apakah Si Kecil boleh minum kopi?

Artikel kali ini akan mengulas mengenai efek kafein pada anak-anak dan remaja.

Ayah dan Ibu tahu bahwa kopi mengandung kafein. Kafein adalah salah satu zat psikoaktif yang sangat mudah didapatkan secara legal dan dikonsumsi. Kafein dikategorikan dalam kategori stimulan yang dapat merangsang sistem saraf pusat. Walaupun secara umum kafein dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika, FDA (Food and Drug Administration), penggunaan kafein yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius dan dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan kematian. Sayangnya, penelitian yang dilakukan pada anak-anak masih lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian pada orang dewasa, sehingga pengetahuan kita mengenai kafein pada anak-anak dan remaja juga terbatas.

Selain dalam kopi, kafein juga dapat ditemukan dalam teh hitam, coklat, juga dalam minuman soda, minuman energi, juga dalam beberapa obat pereda nyeri. Kandungan kafein dalam setiap produk ini sangat beragam, terutama dalam minuman soda dan berenergi. Di beberapa tempat, kafein juga dimasukkan dalam air minum kemasan, permen, permen karet, coklat, dll. Beberapa produk ini bahkan memang ditawarkan kepada anak-anak dan remaja.

Kafein bekerja langsung pada reseptor yang terdapat pada otak. Selain efeknya yang telah diketahui dengan jelas pada tidur dan kewaspadaan kita, kafein juga memiliki pengaruh pada pola perilaku, yang dipengaruhi oleh jumlah kafein yang kita konsumsi.

Sebagai contoh, konsumsi 200-300 mg kafein diketahui dapat memperlambat detak jantung, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan energi, meningkatkan tekanan darah dan juga meningkatkan kewaspadaan. Sebagai perbandingan, 200 mg kafein setara dengan 350 ml kopi, sedangkan secangkir espresso mengandung 63 mg kafein, dan segelas kopi decaf (kopi rendah kafein) mengandung 3 mg kafein.

Konsumsi kafein dikatakan tinggi ketika sebanyak dikonsumsi >400 mg. Hal ini dapat menimbulkan perasaan cemas, mual, gelisah, nyeri perut, perubahan mood, dan gugup. Bagi orang dewasa, konsumsi kafein sebanyak 200 mg/sekali minum atau 400 mg/hari tidak membahayakan, namun tidak diketahui batas aman konsumsi kopi pada anak-anak dan remaja. European Food Safety Authority (EFSA)/Badan Pengawas Makanan Eropa menentukan batas aman konsumsi kopi pada anak dan remaja berdasarkan batas aman konsumsi kopi pada dewasa (3 mg/kgBB) (EFSA, 2015). Di Amerika, belum ditetapkan standar untuk konsumsi kafein bagi anak-anak, sedangkan Kanada memberikan batas aman konsumsi kafein sebanyak 45 mg/hari (setara dengan 1 kaleng minuman bersoda).

Konsumsi kafein yang berlebihan dapat menimbulkan kesulitan tidur dan menyebabkan kelelahan di pagi hari pada anak sekolah, tertidur saat di sekolah, emosi marah yang meningkat, tendensi melakukan kekerasan dan prestasi sekolah yang menurun. Anak-anak dan remaja diperkirakan dapat lebih sensitif dibandingkan dewasa karena masih mengalami perkembangan otak dan sistem saraf. Pada anak yang lebih kecil, gejala ini dapat muncul walaupun kafein yang dikonsumsi sangat sedikit. Kafein berlebih juga dapat menganggu absorpsi kalsium yang penting untuk pertumbuhan tulang, sedangkan penambahan gula dan krim pada kopi susu dengan krim berisiko menyebabkan kenaikan berat badan dan gigi berlubang.

Jadi, kapankah pemberian kopi diperbolehkan?

Beberapa teguk tentu tidak masalah, namun jika konsumsi kopi ini menjadi kebiasaan sehari-hari, hal ini dapat mengakibatkan berbagai gejala merugikan yang harus diperhatikan. Karena kopi dapat menyebabkan adiksi, memulai minum kopi sebaiknya ditunda hingga anak sudah di akhir masa tumbuh-kembangnya saat berusia 18 tahun.

Referensi:

  1. Temple JL. Caffeine use in children: what we know, what we have left to learn, and why we should worry. Neurosci Biobehav Rev. 2009;33(6):793-806.
  2. Richards G, Smith AP. Caffeine Consumption and General Health in Secondary School Children: A Cross-sectional and Longitudinal Analysis. Front Nutr. 2016;3:52. Published 2016 Nov 28. doi:10.3389/fnut.2016.00052
  3. Broderick P, Benjamin AB. Caffeine and psychiatric symptoms: a review. J Okla State Med Assoc. 2004;97:538–42.
  4. Kerrigan S, Lindsey T. Fatal caffeine overdose: two case reports. Forensic Sci Int. 2005;153:67–9.
  5. EFSA NDA Panel. Scientific opinion on the safety of caffeine. EFSA J (2015) 13:4102.10.2903/j.efsa.2015.4102

Editor : drg. Saka Winias., M.Kes., Sp.PM

457total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *