oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora !

Kembali lagi ke topik tentang mata, bulan ini kita akan membahas tentang salah satu penyakit mata merah yang tersering yaitu konjungtivitis. Kalau Ayah dan Ibu sering mendengar “eh dia sakit mata, jangan dekat-dekat yah” seringkali orang tersebut mengalami penyakit konjungtivitis ini. Secara garis besar, penyebab konjungtivitis dibagi menjadi infeksi dan non infeksi. Namun yang lebih sering terjadi di masyarakat adalah karena infeksi. Konjungtivitis ini bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia (bayi, anak, dewasa, maupun lansia), tingkat sosial ekonomi, lokasi, maupun waktu; sehingga penting sekali menjaga kebersihan diri sejak dini untuk menjaga higienitas serta mencegah penyakit menular

Yuk, mari kita mulai bahas tentang konjungtivitis ini…

Definisi

Ayah dan Ibu Kejora, salah satu penyebab mata merah yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis. Konjungtivitis adalah suatu infeksi atau peradangan yang terjadi pada konjungtiva, suatu lapisan/membran tipis yang terletak pada bagian terdepan mata.

Gambar 1. Perbandingan mata yang normal dengan mata yang mengalami konjungtivitis

Etiologi

Konjungtivitis dapat terjadi melalui proses infeksi (oleh virus dan bakteri) maupun non infeksi. Beberapa penyebab non infeksi antara lain: alergi, mekanik/toksik/iritatif, berhubungan dengan sistem imun, serta keganasan. Konjungtivitis akibat infeksi lebih banyak ditemukan dibandingkan yang non infeksi.3

Virus penyebab konjungtivitis antara lain adalah adenovirus, herpes simpleks, varicella zoster/herpes zosterdan molluscum contagiosum.Adenovirusmerupakan penyebab konjungtivitis virus yang terbanyak (65-90%). Umumnya, konjungtivitis virus disertai dengan batuk, flu dan radang tenggorokan yang juga bersifat sangat menular. Konjungtivitis sering ditularkan melalui kontak langsung oleh jari tangan yang terkontaminasi cairan mata, penularan peralatan medis, kolam renang umum, sekolah, tempat kerja, atau tempat-tempat yang padat populasi.

Gambar 2. Gambaran konjungtivitis virus (merah, berair , dan jarang ada sekret/kotoran/belek)

Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri juga sangat menular dan biasanya menghasilkan kotoran/sekret/belek yang banyak. Penyebab konjungtivitis bakteri ini antara lain adalah bakteri Streptococcus, Staphylococcus, H. influenzae, Moraxella catarrhalis, N. gonorrhea,dan Chlamydia trachomatis.

Gambar 3. Gambaran konjungtivitis bakteri (merah, berair, dan banyak sekret/kotoran/belek yang kental)

Jenis konjungtivitis non infeksi yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis alergi, dengan beberapa tipenya antara lain: konjungtivitis vernal, atopic, seasonal allergicdan giant papillary conjunctivitis. Konjungtivitis alergi ini tidak menular seperti yang terjadi pada jenis infeksi. Gejala yang dominan pada konjungtivitis alergi biasanya adalah rasa gatal, mata merah, berair, dan bengkak. Penting sekali untuk mengetahui pencetus/alergen yang menyebabkan konjungtivitis ini.

Gambar 4. Gambaran konjungtivitis alergi: merah, berair, dan banyak folikel (berupa tonjolan) di bagian tarsal konjungtiva

Tanda dan Gejala

  1. Mata merah
  2. Kelopak mata bengkak
  3. Mata terasa mengganjal/ sensasi benda asing
  4. Mata berair
  5. Mata terasa gatal atau perih
  6. Mata keluar banyak kotoran /sekret/belek
  7. Mata terasa lebih silau / sensitif terhadap cahaya

Gambar 5. Perbandingan gambaran tanda dan gejala antara mata normal dan konjungtivitis

Tatalaksana

Tata laksana konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya.

Pada konjungtivitis virus, gejala terberat terjadi pada 3-5 hari pertama dan pada umumnya akan sembuh dalam 7-14 hari. Ayah dan Ibu Kejora, tahukah Anda kalau konjungtivitis virus berhubungan erat dengan kondisi imunitas tubuh? Jadi, anak yang mengalami konjungtivitis disertai dengan infeksi saluran pernapasan (batuk, pilek, dan/atau radang tenggorokan) harus mendapatkan pengobatan untuk infeksi saluran pernapasannya juga. Untuk mengembalikan imunitas tubuh, Si Kecil membutuhkan istirahat dan makan yang cukup dengan pola makan teratur. Sedangkan, pengobatan untuk mata konjungtivitis sendiri pada umumnya berupa obat tetes mata antibiotik dan anti radang untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, juga air mata buatan (artificial tears) untuk mempercepat penyembuhan.

Pada konjungtivitis bakteri, meskipun keadaan lebih berat namun penyembuhannya lebih cepat yaitu antara 2-5 hari. Pengobatan yang diberikan berupa obat tetes antibiotik dan antiradang serta air mata buatan.

Tata laksana yang utama pada konjungtivitis alergi adalah menghindari pencetus atau alergen. Ayah dan Ibu Kejora yang memiliki anak dengan alergi harus mencari tahu penyebab alerginya. Si Kecil akan diberikan tetes mata anti alergi dan anti radang serta air mata buatan, dan apabila memiliki alergi berat dapat ditambahkan obat anti alergi oral.

Pencegahan

Ayah dan Ibu Kejora, mengingat sifat konjungtivitis yang sangat menular, penting sekali melakukan pencegahan terutama pada usia anak-anak yang rentan sekali terkena infeksi. Infeksi ini umumnya terjadi saat mereka sedang melakukan eksplorasi di lingkungan sekitarnya.

Jadi, berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk pencegahan konjungtivitis:

    • Ajari anak untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang mata
    • Ajari anak untuk tidak mengucek-ucek mata, katakan untuk sebisa mungkin tidak memegang mata dan sekitarnya karena kita tidak bisa menjamin kondisi tangan kita selalu bersih
    • Ajari anak untuk tidak berbagi sesuatu yang digunakan pada badan dengan teman (handuk, baju, topi, kacamata) untuk menghindari penularan
    • Jaga kesehatan tubuh (makan makanan yang bergizi dengan pola makan dan tidur yang cukup) agar sistem imun tetap terjaga sempurna sehingga terhindar dari infeksi apapun termasuk konjungtivitis.

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology and preferred pattern staff. Conjunctivitis. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Conjunctivits. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 5-11. Available from : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiImb_R8s3eAhUDbn0KHSrKDHgQFjAAegQIBxAC&url=https%3A%2F%2Fwww.aao.org%2FAssets%2F07524e1e-859e-4862-a32f-0235f076ede0%2F635200264565170000%2Fconjunctivitis-ppp-pdf&usg=AOvVaw29zGLlA1vTHEyiGo3tZaa9
  2. Goodman DM, Rogers J, Livingstone EH. Conjunctivitis. JAMA. 2013;309(20) : 2176
  3. Boyd K. Conjunctivitis : what is pink eye ?. 2018. Available from : https://www.aao.org/eye-health/diseases/pink-eye-conjunctivitis
  4. American Academy of Ophthalmology staff. Examination techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5
  5. Teeple R. Seasonal Allergic Conjunctivitis. 2016. Available from : http://teepleoptometry.com/seasonal-allergic-conjunctivitis/
  6. Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA. 2013;310(16):1721-29.

564total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *