oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Kewaspadaan tentang demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu topik yang menjadi perhatian utama di Indonesia selama musim penghujan ini. Oleh karena itu, Kejora ingin berbagi informasi mengenai DBD agar Ayah dan Ibu menjadi lebih waspada dan dapat melakukan upaya pencegahan penyakit ini. Yuk, kita simak pembahasannya!

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu bentuk infeksi virus dengue yang diperantarai oleh nyamuk Aedes aegypti. Selain bermanifestasi sebagai demam berdarah dengue, infeksi virus ini juga dapat menimbulkan demam dengue dan sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome/DSS) pada kondisi berat.

Seorang anak dicurigai mengalami demam dengue apabila terdapat demam disertai infeksi virus dengue dengan atau tanpa perdarahan, dan tanpa adanya tanda-tanda kebocoran plasma (bagian dari darah) dari pembuluh darah. Sementara itu, pada DBD dan DSS terdapat tanda kebocoran plasma yang menyertai infeksi dan demam. Kedua tipe ini (DBD dan DSS) dibedakan dari ada atau tidaknya tanda-tanda renjatan (shock), dan perbedaan ini penting untuk diketahui karena berkaitan dengan perhatian dan penanganan yang perlu diberikan.

Ada tiga fase klinis pada demam berdarah dengue, yaitu:

  • fase febris – ditandai dengan demam tinggi akibat pertambahan jumlah virus di dalam darah yang dapat berlangsung selama 2-7 hari.
  • fase kritis/kebocoran plasma — suatu fase yang ditandai dengan adanya kerentanan pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dari dalam pembuluh darah kecil ke luar pembuluh darah, biasanya menempati rongga, seperti rongga paru atau rongga perut. Fase ini berlangsung selama 1-2 hari.
  • fase konvalesen – fase pemulihan pada saat kebocoran cairan pembuluh darah sudah berakhir dan cairan yang terdapat pada rongga tubuh diserap oleh tubuh. Fase ini berlangsung selama 2-4 hari.

Tanda dan Gejala

Gejala yang umum ditemui pada infeksi virus dengue, antara lain:

    • demam tinggi
    • nyeri pada tulang dan/atau sendi
    • nyeri otot
    • nyeri kepala
    • nyeri di belakang mata
    • mual
    • muntah
    • tanda-tanda perdarahan spontan (mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah pada kulit, dll).

Jika si kecil mengalami demam selama lebih dari 3 hari, disertai dengan salah satu tanda perdarahan spontan, maka sebaiknya periksakan kondisi si kecil ke dokter.

Penanganan Penyakit Dengue

Penyakit dengue bersifat swasirna, yang artinya akan sembuh tanpa intervensi medis khusus karena virus akan dibersihkan dari tubuh ketika sistem imun berfungsi kembali secara optimal. Namun, bukan berarti penyakit dengue tidak memerlukan penanganan yang serius. Penanganan penyakit dengue mencakup pemantauan tanda vital (denyut nadi, frekuensi napas, suhu tubuh), pemantauan hasil laboratorium (terutama hemoglobin, hematokrit, dan trombosit), pemberian cairan, serta penanganan gejala (demam, mual, muntah, dsb).

Penanganan yang dapat dilakukan orang tua kepada anak yang mengalami infeksi virus dengue di rumah biasanya bersifat suportif. Apabila anak mengalami demam, pemberian obat pereda demam seperti parasetamol dapat dipertimbangkan. Untuk mencegah renjatan, kecukupan asupan cairan perlu diperhatikan, terutama jika anak mengalami muntah. Pemantauan frekuensi berkemih dapat dijadikan tolok ukur kecukupan cairan. Pada kondisi ideal, anak diharapkan berkemih minimal 1 kali tiap 4-6 jam. Apabila frekuensi berkemih menjadi lebih jarang, jumlah urin menjadi lebih sedikit, telapak tangan dan kaki teraba dingin, segera periksakan anak ke dokter terdekat untuk pertolongan lanjutan.

Pencegahan Penyakit Dengue

Untuk mencegah kejadian infeksi virus dengue, berbagai upaya dapat dilakukan. Hal ini antara lain mencakup:

  • pemberantasan sarang nyamuk (menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara berkala, dan mengubur barang bekas)
  • penaburan bubuk Abate untuk membasmi jentik nyamuk
  • penggunaan lotion anti nyamuk
  • pemasangan kelambu saat tidur
  • penanaman tanaman pengusir nyamuk
  • penghentian kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah
  • pengasapan (fogging) area yang berisiko tinggi menjadi sarang nyamuk. Pengasapan akan lebih efektif jika dilakukan pada saat nyamuk Aedes aegypti beraktivitas, yaitu antara pukul 07.00 – 10.00 atau 15.00-17.00.

Sumber:

  1. https://www.cdc.gov/dengue/resources/denguedhf-information-for-health-care-practitioners_2009.pdf
  2. https://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/clinical.html
  3. http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html

643total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *