oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

 

Ayah dan Ibu, kita dapat merasakan sendiri bahwa masa kanak-kanak merupakan masa aktif bermain bagi sang buah hati. Kabar baiknya, aktifitas fisik yang teratur memang terbukti sangat baik bagi perkembangan fisik, psikomotorik, dan intelektual anak, terutama untuk jangka panjang. Seiring dengan perkembangan jaman, semakin banyak pula Ayah dan Ibu yang mendorong anaknya untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Anak-anak pun menjadi terpapar latihan olahraga yang lama, dan sebagian melakukan latihan yang cukup keras. Sebagai akibatnya, cidera terkait olahraga di kalangan anak-anak pun kerap dijumpai.

Sistem tulang dan otot anak-anak lebih elastis dibanding orang dewasa. Hal ini membantu proses penyembuhan menjadi lebih cepat jika terjadi cidera. Pada kasus patah tulang, seringkali tulang tidak patah dengan sempurna karena support yang baik dari urat tendon dan ligamen yang masih sangat kuat. Namun, bila cidera terjadi pada urat tendon dan ligamen, pelat pertumbuhan (epifisis) yang masih lentur akan menjadi lebih rentan patah.

Mendekati usia remaja, cidera cenderung lebih sering terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara kelenturan dan kekuatan tulang. Cidera pelat pertumbuhan atau cidera serius pada sendi dapat menyebabkan perbedaan panjang tungkai, perubahan keseimbangan mekanika dari sendi, bahkan menyebabkan disabilitas jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa latihan intensitas rendah dapat merangsang pertumbuhan tulang, namun latihan intensitas tinggi justru dapat mencegah pertumbuhan.

Cidera olahraga pada anak-anak dapat berupa cidera makro, seperti patah tulang (fraktur) atau keseleo, atau berupa cidera mikro, seperti fraktur stress, retak tulang sendi (osteochondritis dissecans), peradangan lempeng pertumbuhan (apophysitis), atau peradangan urat tendon (tendinopathy).

Gejala-gejala yang perlu diperhatikan bila terjadi cidera adalah:

  1. Nyeri
  2. Bengkak
  3. Deformitas (kelainan bentuk).

Gejala ini dapat terjadi secara akut maupun berangsur-angsur memberat. Pastikan Ayah dan Ibu memberitahu kepada dokter informasi vital berikut:

  1. jenis gejala
  2. lama gejala tersebut dirasakan
  3. olahraga yang biasa dilakukan
  4. kejadian saat cidera.

Untungnya, sebagian besar cidera olahraga yang sering terjadi merupakan cidera minor yang dapat ditangani dan sembuh dengan beristirahat. Akan tetapi terkadang hal ini justru membuat para orang tua meremehkan cidera yang ternyata merupakan cidera makro. Dengan demikian, penanganan yang salah atau misdiagnosa dapat menyebabkan gangguan yang fatal bahkan permanen bagi sisa kehidupan sang buah hati.

Berikut jenis-jenis cidera makro yang sering terjadi pada anak-anak:

Cidera lutut

Cidera lutut sering terjadi pada permainan olahraga kontak seperti bela diri, basket, atau sepak bola. Gejala nyeri lutut juga seringkali terjadi karena penggunaan berlebihan, misalnya pada olahraga berlari atau melompat.

Cidera bahu

Nyeri pada area bahu seringkali dirasakan setelah terjatuh pada olahraga apa pun. Nyeri pada area ini perlu diwaspadai karena seringkali terjadi patah tulang, baik pada tulang selangka maupun pangkal lengan atas. Area patah pun seringkali terjadi pada area lempeng pertumbuhan, sehingga berbahaya bagi pertumbuhan. Pemeriksaan rontgen dapat menentukan cidera di bagian ini.

Cidera siku

Anak-anak yang gemar bermain kasti atau baseball dan memegang posisi sebagai pelempar juga cukup sering mengeluhkan nyeri siku. Nyeri ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, mulai dari sesederhana peradang lokal karena penggunaan berlebihan sampai dengan patah tulang pada penempelan otot di siku.

Cidera otot paha

Otot-otot paha yang teregang paksa pada anak-anak akan terasa sangat nyeri melebihi orang dewasa. Gejala ini seringkali disebabkan oleh cidera keseleo pada saat aktivitas berlari dan melompat. Bila nyeri terkesan berlebihan dan disertai bengkak, Ayah dan Ibu dapat mencuigai kemungkinan putusnya urat otot.

Cidera tumit

Penyebab tersering dari nyeri tumit adalah penggunaan berlebihan pada saat berlari atau melompat.

Pencegahan cidera olahraga
Lantas, bagaimana Ayah dan Ibu dapat membantu mencegah cidera-cidera tersebut terjadi pada anak?

  1. Hal yang paling pertama perlu dilakukan adalah menanamkan kebiasaan hidup sehat. Makanan yang sehat, minum yang cukup, dan tidur yang cukup, dapat membantu anak untuk fokus berolahraga.
  2. Biasakan anak untuk berolahraga bertahap dari mulai yang ringan. Batasi peningkatan beban olahraga maksimal sebesar 10% per minggunya. Hal ini berlaku pada semua hal, baik peningkatan jarak lari, beban angkat berat, kecepatan, sampai waktu berlatih.
  3. Peralatan yang sesuai dan perlindungan yang memadai juga berperan penting dalam melindungi anak anda, sehingga tidak boleh diremehkan.
  4. Pemanasan diawal latihan selalu perlu dilakukan. Latihan peregangan sebaiknya dilakukan setelah olahraga, pada saat fase akhir dari pendinginan. Latihan yang melibatkan banyak variasi otot lebih baik ketimbang hanya fokus di otot atau gerakan tertentu saja.

Pertolongan pertama

Bila anak baru saja mengalami cidera olahraga, Ayah dan Ibu dapat memberikan pertolongan pertama dengan prinsip RICE selama 72 jam pertama, yaitu:

  • Rest: istirahatkan bagian yang cidera.
  • Ice: berikan kompres es batu (dibalut dengan kain agar tidak terlalu dingin) selama 5-10 menit tiap jam. Penggunaan suhu dingin bertujuan untuk memberhentikan kemungkinan perdarahan dengan mengecilkan pembuluh darah.
  • Compression: berikan tekanan (biasanya dibalut—lihat gambar) pada bagian yang cidera untuk mengurangi bengkak.
  • Elevate: tinggikan bagian yang cidera ke posisi lebih tinggi saat beristirahat untuk mengurangi bengkak dan nyeri.

Setelah melakukan pertolongan pertama, jangan lupa untuk tetap periksakan sang buah hati ke dokter untuk pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut.

Ayah dan Ibu, semoga setelah mengenali berbagai macam cidera olahraga, pencegahan dan pertolongan pertamanya kita bisa menjadi lebih waspada dalam mengawal kegiatan berolahraga si kecil ya. Karena, seperti yang dikatakan diawal, berolahraga adalah salah satu bagian terpenting bagi pertumbuhan sang buah hati. Namun bila dilakukan dengan berlebihan dan kurang kehati-hatian justru akan menjadi masalah.

Semangat berolahraga, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi

1. Launay F. Sports-related overuse injuries in children. Orthop Traumatol Surg Res. 2015 Feb;101(1 Suppl):S139-47. doi: 10.1016/j.otsr.2014.06.030. Epub 2014 Dec 30.

2. Shanmugam C, Maffulli N. Sports injuries in children. Br Med Bull. 2008;86:33-57. doi: 10.1093/bmb/ldn001. Epub 2008 Feb 18.

3. Cross, T. Sports injuries in children. MedicineToday, June 2007, Volume 8, Number 6. Accessed from www.sportsmedicinesydney.com.au/pdf/sports-injuries-children.pdf

4. Rosendahl K, Strouse PJ. Sports injury of the pediatric musculoskeletal system. Radiol Med. 2016 May;121(5):431-41. doi: 10.1007/s11547-015-0615-0. Epub 2016 Feb 2.

 

328total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *