oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora… Coba perhatikan kemana arah tumbuh bulu mata si kecil. Pada kondisi tertentu, ada sebagian anak yang mengalami bulu mata masuk atau epiblefaron. Kondisi bulu mata masuk ini sebetulnya jarang dikeluhkan langsung oleh anak pada fase awal/ ringan, namun apabila menetap akan mengakibatkan mata malas dan kerusakan mata yang permanen. Epiblefaron sebetulnya merupakan salah satu kelainan kelopak mata yang cukup sering ditemukan pada anak. Kenali yuk kondisi ini supaya kerusakan permanen dapat dicegah.

Bulu mata masuk pada anak itu seperti apa ya?

Bulu mata masuk pada anak atau dalam bahasa medis disebut epiblefaron merupakan suatu kondisi kelainan pada area kelopak mata dimana terdapat kelebihan kulit dan otot kelopak mata sehingga mendorong bulu mata masuk ke dalam mata dan bergesekan dengan lapisan bola mata yang terluar (kornea). Epiblefaron ini dapat terjadi pada kelopak mata bagian atas maupun bawah, namun epiblefaron pada kelopak mata bawah lebih banyak ditemukan dibanding kelopak atas.

Apa saja faktor risiko dari epiblefaron?

  1. Ras Asia terutama Asia Timur (Cina, Singapura, Taiwan, Jepang dan Korea). Insiden epiblefaron dilaporkan sebesar 46-52,5% pada anak-anak Asia
  2. Riwayat keluarga. Insiden epiblefaron lebih tinggi pada anak yang orang tuanya memiliki riwayat epiblefaron
  3. Anak dengan indeks masa tubuh yang lebih tinggi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami epiblefaron dibanding anak dengan indeks masa tubuh yang lebih rendah.

Apa penyebab dari epiblefaron?

Epiblefaron disebabkan oleh struktur kelopak mata yang berbeda dari rata-rata kelopak mata normal. Pada anak dengan epiblefaron, kulit dan otot kelopak mata tidak menempel sempurna dengan tulang kelopak akibatnya terbentuk lipatan horizontal/ terjadi kelebihan kulit dan otot (seperti pada gambar 3) di area kelopak mata bagian dalam. Hal ini menyebabkan lipatan tersebut mendorong bulu mata masuk ke dalam mata dan bergesekan dengan lapisan terluar dari bola mata (kornea).

Bagaimana tanda dan gejala dari epiblefaron?

Tanda dan gejala epiblefaron antara lain:

  1. Mata berair.
  2. Mata merah.
  3. Rasa tidak nyaman / mengganjal. Anak biasanya suka mengucek matanya karena rasa tidak nyaman akibat bulu mata menusuk ke dalam bola mata.
  4. Mata perih. Kondisi epiblefaron yang sudah berat akan membuat gangguan pada organ bening mata (kornea).
  5. Mata nyeri.
  6. Gangguan pada kornea (keratopati).
  7. Pandangan buram. Gangguan kornea terjadi akibat epiblefaron tidak diobati
  8. Peningkatan ukuran silinder kacamata (karena kerusakan kornea).

Bagaimana tatalaksana dari epiblefaron?

Terapi permanen pada epiblefaron adalah tindakan operasi. Tidak semua kasus dilakukan operasi. Kondisi epiblefaron ini dapat hilang seiring dengan perkembangan dan pematangan tulang wajah anak. Namun, apabila sudah terjadi kerusakan pada kornea mata dan peningkatan ukuran silinder kacamata harus dilakukan operasi.

Obat tetes pelembab dan di plester dengan menarik kelopak mata ke arah luar agar bulu mata tidak menusuk ke arah dalam adalah tatalaksana sementara pada epiblefaron.

Apa saja komplikasi dari epiblefaron?

  1. Infeksi pada mata (keratitis dan ulkus kornea).
  2. Mata malas, bila kelainan refraksi silinder tidak terkoreksi.
  3. Kerusakan kornea permanen.
  4. Kebutaan

 Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology. Orbit, eyelid and Lacrimal system : Classification and management of eyelid disorder In: American Academy of Ophthalmology, ed. Orbit, eyelid and Lacrimal system, San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2014-2015:148-9
  2. Yan Y, Chen T, Wei W, Li D. Epiblepharon in chinese children: relationship with body mass index and surgical treatment. J AAPOS. 2016;20:148-52
  3. Sundar G, Young SM, Tara S, Tan AM, Amrith S. Epiblepharon in East Asian Patients : The Singapore Experience. Ophthalmology. 2010;117:184-9
  4. Wang Y, Zhang Y, Tian N. Cause analysis and reoperation effect of failure and recurrence after epiblepharon correction in children. World J Clin Cases2020; 8(24): 6274-81

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *