oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Ayah dan Ibu Kejora, pasti sudah akrab dengan istilah bullying, kan? Bullying adalah sebuah fenomena yang ada dimana-mana, sulit untuk dihilangkan, dan terjadi di berbagai situasi. Salah satu yang sering kita jumpai sebagai orangtua adalah bullying yang ada di sekolah. Sebenarnya apa sih definisi bullying itu sendiri? Jangan-jangan kita sering menggunakan istilah bullying tanpa mengetahui apakah tindakan kekerasan yang dilakukan seorang anak tersebut sudah masuk kategori bullying atau belum. Jangan sampai juga kita mengucapkan istilah yang kurang tepat nih Ayah dan Ibu.

Menurut Olweus (1991) bullying didefinisikan sebagai perilaku yang berulang, baik secara lisan atau fisik, yang terjadi dari waktu ke waktu dalam hubungan yang ditandai oleh ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan. Bullying termasuk dalam bentuk perilaku agresi yang dilakukan dengan sengaja, terus-menerus, dan melibatkan target khusus yaitu anak lain yang lebih lemah dan mudah diserang (Papalia, 2009). Berdasarkan definisi tersebut, maka kekerasan yang terjadi satu kali dan tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, perilaku tersebut bukanlah bullying. Mengapa kita perlu mengetahui apakah suatu bentuk kekerasan adalah bullying atau bukan? Karena hal ini akan berkaitan dengan usaha yang dapat kita lakukan untuk menguranginya.

Dalam bullying terdapat tiga peran yaitu korban, pelaku, dan penonton (atau yang dikenal dengan istilah bystander). Untuk definisi korban tentunya kita sudah familiar, dimana korban adalah pihak yang mengalami bullying dan mendapatkan dampak negatif, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Sedangkan pelaku adalah pihak yang melakukan bullying. Sementara itu, penonton merupakan pihak yang bukan termasuk korban dan bukan pelaku, melainkan pihak yang hadir saat kejadian atau yang mengetahui bullying terjadi.

Lalu apa sih pentingnya peran penonton ini? Tanpa disadari, penonton memiliki peran yang penting untuk menentukan apakah pelaku berhasil mendapatkan hal yang ia inginkan atau tidak. Setelah melakukan bullying, pelaku pastinya berharap untuk mendapatkan respon yang diharapkan dari lingkungan. Respon dapat berupa apresiasi yang diberikan oleh penonton (misalnya : bertepuk tangan, ikut tertawa) atau membuat korban takut padanya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan kekuasaan sehingga merasa posisinya berada di atas korban. Maka dari itu, penonton sebaiknya tidak memberikan respon yang diinginkan, dan dapat mengkomunikasikan dengan pihak yang berwenang (misalnya guru di sekolah) apabila mengetahui bullying terjadi.

Sekarang bagaimana ya cara kita untuk mengetahui apakah si kecil menjadi korban bullying? Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri anak korban bullying yang bisa Ayah dan Ibu perhatikan:

  1. Anak menjadi tidak bersemangat atau bahkan menolak pergi ke sekolah, dan menolak untuk menceritakan alasannya.
  2. Anak mengurangi kegiatan yang disukainya di sekolah.
  3. Anak memilih untuk menyendiri atau jarang beraktivitas bersama teman-temannya seperti sebelumnya.
  4. Anak menjadi lebih pemurung, gusar, terkadang disertai dengan gejala depresi.
  5. Terlihat luka atau memar pada bagian tubuh anak
  6. Terdengar kabar bahwa anak diejek atau dijahili di sekolah.

Lalu bagaimana kalau ternyata beberapa ciri-ciri di atas kita temukan pada si kecil? Ayah dan Ibu dapat melakukan beberapa hal seperti:

  • Membuat suasana nyaman agar si kecil mau bercerita, dan menjaga kepercayaan untuk memberitahu pihak terkait dengan persetujuannya, kecuali informasi yang harus dibagikan, misalnya ke pihak sekolah.
  • Mebiasakan si kecil untuk bercerita mengenai kesehariannya, bagaimana perasaannya, juga mengajarkan mereka bagaimana mempertahankan diri.
  • Mencari bantuan professional jika si kecil menampilkan tanda-tanda depresi atau jika sudah mengganggu fungsi hidupnya, seperti prestasi akademis, kehidupan sosial, dan lain-lain.

Nah, Ayah dan Ibu Kejora, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam memahami bullying dan menanamkan pada si kecil untuk berani bertindak jika terlibat dalam bullying.

Edited by drg. Valeria Widita

Sumber :
Olweus, Dan. (1991). Bully/Victim Problems Among School Children : Basic Facts and Effects of a School Based Intervention Program. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Papalia, D. E., Olds, S. W. & Feldman, R. D. (2009). Human Development : Perkembangan Manusia. (10th) ed. (B. Marwensdy. Terj) Jakarta : Salemba Humanika.

118total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *