oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo, Keluarga Kejora!

Saat Ayah dan Ibu Kejora kecil dulu, apakah sering disiapkan teh manis hangat oleh Kakek dan Nenek di pagi hari? Tapi, sebenarnya anak-anak boleh minum teh atau tidak, ya?

Yuk, kita simak tanya jawab dengan dr Juwalita Surapsari, MGizi, SpGK yang akan menjabarkan mengenai konsumsi teh pada anak-anak!

Dok, sebenarnya apa saja sih kandungan dalam teh?

“Yuk, mari kita kenali kandungan di dalam teh ya! Teh mengandung senyawa bioaktif cathecin yang termasuk dalam golongan flavonoid. Nah, dalam beberapa studi, kandungan flavonoid dalam teh disebutkan turut berkontribusi dalam menjaga fungsi sel-sel endotel pembuluh darah sehingga bermanfaat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kandungan lainnya adalah kafein, meskipun kadarnya jauh di bawah kafein pada kopi. Selain dua zat tersebut, teh juga diketahui mengandung zat anti-nutrisi yang harus kita pahami.”

Ternyata kandungan flavonoid dalam teh sangat bermanfaat, ya Dok, dan baru mendengar tentang zat anti-nutrisi dalam teh. Jadi, apakah yang dimaksud dengan zat anti-nutrisi, Dok?

“Ayah Ibu Kejora tidak perlu khawatir! Zat anti-nutrisi dalam teh sebenarnya tidak berbahaya, tapi berpotensi dapat mengganggu penyerapan beberapa mineral penting. Zat anti nutrisi yang ada dalam teh adalah tanin dan oksalat. Tanin sebenarnya merupakan senyawa antioksidan, tapi juga diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme yang asalnya dari sumber nabati (seperti yang terkandung dalam sayur bayam, bit, kacang-kacangan, dan makanan yang difortifikasi). Zat anti-nutrisi dalam teh yang kedua adalah asam oksalat. Asam oksalat ini dapat menghambat penyerapan kalsium dalam makanan.”

Wah, kalau begitu, apakah si buah hati masih boleh minum teh, Dok?

“Boleh-boleh saja kok, Ayah dan Ibu Kejora. Tapi, perlu diperhatikan kapan waktu minum teh oleh si buah hati. Karena teh mengandung zat anti-nutrisi yang menghambat penyerapan mineral tadi, maka sebaiknya teh dikonsumsi tidak bersamaan dengan jam makan utama. Beri jarak sekitar 2 jam setelah makan agar tidak mengganggu penyerapan nutrisi penting. Selain itu, jangan biasakan si buah hati mengonsumsi teh kemasan karena biasanya teh kemasan memiliki kadar gula tinggi. Berikan saja teh yang diseduh sendiri di rumah. Untuk anak-anak yang mengalami defisiensi zat besi ataupun berisiko mengalami kekurangan kalsium karena tidak mengonsumsi dairy product, sebaiknya minimalkan konsumsi teh agar penyerapan zat gizi tetap optimal.”

Terima kasih dr. Juwalita atas penjelasannya mengenai konsumsi teh pada anak-anak. Jadi, Ayah Ibu Kejora tidak perlu khawatir lagi karena si buah hati boleh-boleh saja minum teh.

Sumber:

  1. Garbowska B, Wieczorek JK, Polak-Sliwinska M. The content of minerals, bioactive compounds and anti-nutritional factors in tea infusions. Journal of Elementology, 2017.
  2. Khan N, Mukhtar H. Tea and health: Studies in humans. Curr Pharm Des, 2013.

Editor: drg. Rizki Amalia

401total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *