oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Gerai minuman bubble teashop memang menjadi tren dan sangat menyenangkan sekarang ini. Tentu saja, anak dan remaja juga seringkali mengonsumsi minuman kekinian tersebut. Perpaduan bubble pearl atau tapioca pearl yang kenyal dan manis dipadu dengan beragam minuman manis seperti teh, susu, kopi, sirup dengan berbagai rasa menjadikan minuman ini favorit untuk semua kalangan.

Berita yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah seorang anak remaja berusia 14 tahun di Cina diberitakan mengalami sakit perut dan sembelit sehingga dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, anak tersebut seringkali mengonsumsi bubble tea. Setelah dilakukan tindakan CT scan ternyata ditemukan gambaran butiran bola-bola di dalam  perut anak tersebut yang cukup banyak. Sehingga anak tersebut diberikan pencahar untuk dapat mengeluarkan tumpukan bola-bola tersebut.

Bubble pearl ini terbuat dari tepung kanji atau tapioka, dicampur sedikit gula. Beberapa produk ada yang ditambahkan tepung terigu. Untuk membentuk bola-bola tapioka, semua bahan dicampur dengan air, diuleni, dibentuk bulat, kemudian direbus. Tapioka merupakan pati yang diekstrak dari akar singkong, komposisi gizi  terdiri dari karbohidrat  dan sedikit protein. Tapioka yang mengandung pati resisten tersebut sulit dicerna oleh tubuh  dan cepat memberikan rasa kenyang.

Bubble pearl dalam minuman tersebut seringkali disajikan dengan sedotan besar yang meningkatkan risiko tersedak pada anak terutama pada anak dibawah 4 tahun. Bubble pearl yang dihisap dapat tidak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika ingin mencoba bubble tea/boba, pastikan anak berusia di atas 4 tahun untuk mengurangi risiko tersedak.

Bubble tea seringkali mengandung kafein karena dicampur dalam teh hitam atau hijau dan disajikan dalam gelas yang cukup besar. Diperkirakan dalam 400 ml bubble tea mengandung kafein sebesar 130 mg, yang merupakan kadar yang cukup besar untuk anak kecil. Selain itu, bubble tea dengan berbagai campuran di dalamnya dapat mencapai energi sebesar 500 kalori dalam gelas terbesarnya. Kalori tersebut merupakan 1/3 kebutuhan anak dalam sehari. Kalori sebesar itu, setengahnya (200 kalori) berasal dari lemak dan sisanya adalah berupa gula. Asupan gula dan lemak yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan risiko untuk obesitas pada anak.

Jika ingin mengonsumsi bubble tea/boba untuk anak pastikan tidak terlalu sering (1 kali dalam 1-2 minggu) dan setelah makan utama. Pilihlah gelas dengan ukuran terkecil dan tingkat kemanisan yang terendah. Hindari memilih susu yang ditambahkan dalam boba berupa krimer atau susu kental manis. Orang tua juga dapat meminta untuk mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bubble pearl untuk anak. Jika menambahkan bubble pearl, minumlah boba tersebut dalam posisi duduk/ tidak berjalan dan sambil bicara.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

425total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *