oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora! Semangat ENERGY OF ASIA belum berhenti, Indonesia kembali menjadi tuan rumah bagi para atlet penyandang disabilitas di Asian Para Games 2018. Bila ayah, ibu dan si kecil berjalan di jalan raya, maka poster atau iklan dukungan Asian Games 2018 telah berubah menjadi dukungan bagi Asian Para Games 2018. Begitu juga dengan berbagai poster yang menampilkan para atlet Asian Para Games 2018.

Bukan tidak mungkin hal ini menimbulkan pertanyaan bagi si kecil, misalnya saat si kecil bertanya mengenai perenang dengan satu kaki, pelari dengan satu tangan atau petenis yang duduk di kursi roda. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan awalan untuk memperkenalkan si kecil pada disabilitas.

Nah, berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Ayah dan Ibu gunakan untuk memperkenalkan disabilitas pada si kecil:

  1. Sambut keingintahuan si kecil

Bila si kecil melihat atau terpana dengan gambar atau orang dengan disabilitas, jangan ragu untuk membuka pembicaraan dengan si kecil. Misalnya, “Nak, mama lihat kamu memperhatikan anak yang jalannya kaku itu ya? Itu namanya cerebral palsy. Nah, nanti di rumah kita cari yah apa itu cerebral palsy.”

  1. Berikan pengetahuan melalui tontonan atau bacaan

Ajak si kecil melihat iklan, video atau film tentang penyandang disabilitas. Jangan lupa selalu dampingi si kecil dan berikan hal-hal yang membantu si kecil untuk mengerti. Jelaskan mengenai jenis disabilitas, tekankan pada usaha dan semangat yang dimiliki bagi penyandang disabilitas. Terakhir, ajak si kecil untuk melihat pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar.

  1. Tanamkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang buruk.

Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa setiap orang pasti berbeda-beda dan unik. Ajak si kecil melihat adakah yang berbeda dari ayah, ibu dan dirinya. Misalnya warna kulit, bentuk hidung, sampai jam bangun di pagi hari. Katakan bahwa walaupun ayah, ibu dan si kecil berbeda, namun masih banyak hal positif yang bisa dilakukan.

  1. Tekankan kesamaan

Katakan bahwa teman-teman dengan disabilitas sama seperti orang biasa, mereka bisa bersekolah, bekerja, bahkan menghasilkan suatu prestasi. Hanya saja, mereka memiliki keterbatasan tertentu. Misalnya tidak bisa melihat, sulit untuk berjalan, dan sebagainya.

  1. Orang dengan disabilitas bukanlah orang sakit

Jelaskan kepada anak bahwa orang dengan disabilitas bukanlah orang yang sakit. Mereka tidak boleh dijauhi dan juga butuh untuk memiliki teman. Tanamkan bahwa si kecil harus menghormati dan berperilaku baik kepada semua orang, termasuk penyandang disabilitas.

  1. Menjadi contoh yang baik

Anak-anak biasanya mudah meniru hal yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu. Untuk itu, menjadi contoh yang baik juga penting. Ayah dan Ibu dapat mengajak si kecil menonton pertandingan Asian Para Games 2018. Tunjukkan sikap yang positif kepada para atlet atau penonton dengan disabilitas. Jangan bersikap kaku atau berlebihan. Tekankan kepada si kecil bahwa para penyandang disabilitas wajib dihargai dan dihormati selayaknya orang pada umumnya.

Semoga cara-cara di atas dapat membantu Ayah dan Ibu dalam memperkenalkan si kecil dengan disabilitas. Ingatlah bahwa penanaman nilai-nilai yang baik sejak dini pasti akan bermanfaat di kemudian hari. Semoga menginspirasi ya, Ayah dan Ibu.

Edited by drg. Valeria Widita

Sumber:
McGrail, E., & Rieger, A. 2013. Increasing Disability Awareness through Comics Literature. Electronic Journal of Inclusive Education. Vol 3, No 11.
Diambil dari: https://corescholar.libraries.wright.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1157&context=ejie
Williamson, C. 2014. Effects of Disability Awareness Educational Programs on an Inclusive Classroom. Honors Project. 134.
Diambil dari:
https://scholarworks.bgsu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1138&context=honorsprojects

180total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *