Otitis Media Efusi

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejoara sudah pernah mendengar mengenai Otitis Media Efusi atau OME? Otitis media efusi (OME) merupakan suatu keadaan adanya cairan non- infeksi yang terkumpul di dalam telinga tengah. Keadaan ini terjadi karena akumulasi cairan akibat terjadi radang berulang pada daerah saluran napas atas. Otitis media efusi umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 minggu.

Gambar 1. Level udara-cairan di dalam telinga

OME terjadi karena adanya gangguan fungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan daerah hidung dan tenggorok) sehingga cairan pada telinga tengah tidak dapat mengalir dengan baik. Keadaan tersebut menyebabkan cairan menetap lebih lama dan menyebabkan terjadinya penurunan pendengaran. Keadaan- keadaan yang menyebabkan adanya gangguan fungsi tuba, antara lain:

  • Fungsi tuba belum berkembang sempurna pada anak
  • Pembesaran adenoid
  • Batuk pilek atau alergi yang menyebabkan pembengkakan pada lapisan telinga, tuba eustashius, hidung dan tenggorok

Otitis media efusi (OME) paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan – 3 tahun. Keadaan ini umumnya sulit untuk diketahui karena tidak terdapat gejala akut yang jelas. Gejala-gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Gangguan pendengaran
  • Anak tampak sering menarik atau memegang telinga dan terlihat tidak nyaman
  • Gangguan keseimbangan
  • Hambatan bicara

Keadaan ini dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu. Antibiotik tidak diperlukan jika tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi akut pada telinga. Apabila keadaan tidak membaik dalam waktu 2-3 bulan dan mengganggu perkembangan bicara serta performa si buah hati di sekolah, maka perlu dilakukan tindakan pemasangan pipa ventilasi pada gendang telinga untuk mengalirkan cairan keluar.

Tindakan pemasangan pipa ventilasi pada anak – anak umumnya dilakukan dalam pembiusan. Setelah pemasangan pipa dilakukan dan cairan di telinga tengah dikeluarkan maka pendengaran akan segera membaik. Pipa ventilasi akan terlepas dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih 6-12 bulan dan gendang telinga akan menutup kembali.

Gambar 2. Prosedur pemasangan pipa ventilasi

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Forest, et al. Improving Adherence to Otitis Media Guidelines With Clinical Decision Support and Physician Feedback. Pediatrics Apr 2013, 131 (4) e1071-e1081; DOI: 10.1542/peds.2012-1988
  2. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
  3. Usatine, R.P. Air-fluid levels in ear. J Fam Pract. 2013 September;62(9), diakses dari https://www.mdedge.com/familymedicine/article/77660/air-fluid-levels-ear pada tanggal 12 Januari 2020.
  4. Donaldson, JD. Ear Tubes, diakses dari https://www.emedicinehealth.com/ear_tubes/article_em.htm#what_are_ear_tubes pada tanggal 12 Januari 2020.

Banjir dan Kaitannya dengan Kesehatan Anak

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Pada awal bulan Januari 2020, Jakarta sempat dihebohkan dengan terjadinya bencana banjir. Bahkan sampai pertengahan bulan ini pun, kita tetap diingatkan untuk selalu waspada karena musim hujan masih berlangsung. Oleh karena itu, Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal ‘serba serbi’ banjir dan kaitannya dengan kesehatan anak.

 

Mengenal beragam penyakit pada anak yang bisa terjadi akibat banjir

Terdapat beberapa penyakit yang bisa terjadi pada anak akibat banjir, diantaranya adalah:

  1. DiareBanjir bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang disebarkan lewat air yang terkontaminasi (waterborne diseases) oleh virus ataupun bakteri. Bahkan tidak hanya melalui air, namun juga melalui penularan secara oral akibat lingkungan pengungsian yang padat dan higienitas yang kurang. Diare ditandainya dengan adanya peningkatan frekuensi buang air besar dan atau disertai dengan perubahan konsistensi feses. Hal yang perlu diperhatikan adalah anak tidak boleh kekurangan cairan (dehidrasi).
  1. Infeksi saluran pernapasan akutKondisi ini dapat disebabkan oleh virus yang ditandai dengan adanya keluhan demam dan batuk serta pilek.
  1. Infeksi kulit dan mataPenyakit kulit dapat disebabkan oleh berbagai organisme seperti bakteri, virus, jamur, parasit, atau kutu yang menginfeksi kulit. Anak merasakan gatal, kulit kemerahan akibat iritasi dan tanda infeksi lain pada kulit. Infeksi mata juga bisa ditularkan melalui air, seperti moluskum kontagiosum atau penyakit pada kelopak mata dan konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah.
  1. Otitis eksternaAnak yang terkena air banjir yang kotor juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada kulit tipis yang membungkus saluran telinga luar.
  1. Demam dengue dan malariaWaspada terhadap penyakit yang bisa ditularkan oleh nyamuk. Demam dengue dan malaria diperantarai oleh 2 jenis nyamuk yang berbeda dengan keluhan klinis yang tidak sama. Namun keduanya dapat menimbulkan keluhan demam disertai dengan gejala penyerta lainnya. Kondisi ini perlu diwaspadai terutama pasca-banjir karena akan terjadi banyak genangan air yang dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk.
  1. LeptospirosisLeptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang menyebar luas pada saat curah hujan tinggi di tempat yang sanitasinya buruk dan sistem drainasenya kurang baik. Penularannya terjadi pada anak yang terpapar air kencing binatang pengerat seperti tikus. Gejala pada leptospirosis, diantaranya demam, nyeri kepala, diare dan nyeri tekan di area betis.
  1. Demam tifoid dan hepatitis ADemam tifoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi, sedangkan hepatitis A disebabkan oleh virus. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan keluhan demam dan gangguan pencernaan yang disebabkan karena kurangnya higienitas, diantaranya adalah penyajian makanan yang tidak bersih.

 

Apa yang perlu diperhatikan Ayah dan Ibu pada saat banjir supaya anak tetap sehat?

  • Bagi ibu yang sedang menyusui, maka pemberian ASI harus tetap dilanjutkan.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang higienis.
  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan, ataupun pasca-buang air besar.
  • Jauhkan anak dari aktivitas bermain di dalam air dan tidak merendam kaki dalam air banjir. Hindari paparan luka terbuka dengan air banjir yang berpotensi jadi akses masuknya kuman.
  • Gunakan sarung tangan dan sepatu bot, jika harus beraktivitas di tengah air banjir.
  • Segera mengganti pakaian basah dengan pakaian kering untuk mencegah hipotermia.

 

Apa yang bisa dilakukan pasca-banjir untuk mempertahankan kesehatan anak?

Aspek kebersihan merupakan hal yang utama. Kondisi rumah biasanya sangat kotor dan berantakan pasca-banjir, bahkan terdapat sisa air banjir dan lumpur. Oleh karena itu bersihkan seluruh area rumah dengan baik menggunakan disinfektan dan gunakan masker saat membersihkan rumah dari sisa banjir. Pastikan kondisi mainan anak dalam keadaan bersih sebelum digunakan kembali. Anak sebaiknya diungsikan ke tempat yang lebih bersih untuk sementara waktu hingga rumah dalam kondisi bersih. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama saat menyiapkan makanan atau susu. Perhatikan juga saat membuang popok sekali pakai si kecil dengan dibungkus terlebih dahulu dalam kantong plastik.

 

Lebih baik mencegah daripada mengobati!

Anak sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan kita sudah paham bahwa begitu banyak penyakit yang bisa terjadi pada anak dalam kondisi banjir. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu memahami upaya untuk mencegah anak sakit, diantaranya adalah :

  • Mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan bergizi, terutama pemberian ASI pada bayi secara eksklusif dan dilanjutkan sampai dengan usia 2 tahun.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan bahan makanan dan juga berbagai perabotan bersih sebelum digunakan.
  • Menjaga kebersihan rumah dan meningkatkan upaya 3 M Plus (menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas untuk mencegah penyebaran nyamuk dan plus: menggunakan kelambu saat tidur, menaburkan bubuk abate, dan sebagainya)
  • Melengkapi vaksin Sang Buah Hati, diantaranya dengan vaksin hepatitis A, demam tifoid, serta influenza.

 

Kita semua tentunya berharap dampak dari banjir dapat segera teratasi dan banjir tidak terulang lagi. Namun tetap waspada dan selalu ingat untuk menjaga kebersihan dan membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya sebagai salah satu upaya kecil yang berdampak besar demi pencegahan banjir.

 

Referensi

  1. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi RS Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota 2009:World Health Organization; 2009.
  2. Departemen IKA FKUI-RSCM. Panduan Praktik Klinis. Jakarta: FKUI-RSCM; 2015.

 

LOW BACK PAIN (LBP) / NYERI PINGGANG BAWAH

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Haloo Keluarga Kejora.. Semoga sehat selalu..

Keluarga Kejora, apakah Anda pernah merasakan nyeri di pinggang bagian bawah? Jika Anda memiliki keluhan nyeri pinggang bawah (LBP), Anda tidak sendirian. Hampir 80% orang dewasa mengalami LBP pada masa tertentu semasa kehidupannya. Hal ini menyebabkan gangguan dalam pekerjaan dan peranan kita sehari-hari.

Nah..mari kita bahas lebih lanjut.

 

Seperti apakah LBP itu?

Pria dan wanita mengalami angka kejadian LBP yang hampir sama, bervariasi dari nyeri tumpul, konstan hingga nyeri yang mendadak serta nyeri tajam yang sangat mengganggu. Nyeri dapat timbul tiba-tiba akibat kecelakaan atau mengangkat sesuatu yang berat, atau bertambah secara bertahap sesuai dengan perubahan degeneratif pada tulang belakang akibat bertambahnya usia. Pola hidup sedentari (tidak banyak gerak) juga dapat mencetuskan LBP, akibat beban berlebih pada tulang belakang.

 

Berdasarkan durasinya LBP dapat terjadi secara akut apabila terjadi kurang dari 4 minggu, subakut, hingga kronis yaitu terjadi lebih dari 3 bulan. Pada umumnya sebagian nyeri dapat sembuh sendiri tanpa menyebabkan gangguan fungsi sehari-hari. Namun, ada juga kasus LBP yang berat dan dapat mengganggu aktivitas harian sehingga membutuhkan penanganan yang lebih serius.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Penyebab LBP dapat dibedakan menjadi mekanikal, nonmekanikal, dan nyeri pinggang rujukan. Masalah mekanik atau muskuloskeletal merupakan penyebab 90% kasus, dimana 75% nya tidak memiliki penyebab spesifik melainkan akibat terjadinya otot terkilir atau cedera pada ligamen. Penyebab nyeri pinggang mekanik lainnya adalah degenerasi pada sendi, diskus atau cakram tulang belakang akibat proses penuaan, serta herniasi atau robekan diskus yang biasa dikenal sebagai saraf terjepit (herniated nucleous pulposus).

Penyebab nonmekanik antara lain adanya tumor, radang sendi atau infeksi pada struktur sekitar tulang belakang. Sedangkan nyeri pinggang rujukan dapat diakibatkan oleh penyakit pada organ dalam tubuh, seperti kantong empedu, batu ginjal, infeksi ginjal, aneurisma aorta, dll. Tidak jarang, nyeri pinggang dapat pula disebabkan oleh masalah sistemik ataupun psikologis, seperti fibromyalgia dan penyakit somatik.

Adanya kondisi darurat (red flags) pada kasus LBP pada Tabel 1 di bawah ini dapat mengindikasikan keadaan darurat yang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Pada kondisi yang tertera di Tabel 1, umumnya akan dilakukan pemeriksaan penunjang medis lain seperti halnya pemeriksaan radiologis pencitraan (MRI atau CT) ataupun pemeriksaan neurologis sesuai kebutuhan.

 

Tabel 1. Kondisi darurat kasus LBP

 

Riwayat Gejala pada pemeriksaan fisis
Kanker Gangguan sensasi pada area panggul
Berat badan turun Hilangnya kontrol BAB
Penggunaan steroid Kelemahan otot pada anggota gerak bawah
Infeksi saluran kemih Demam
Nyeri tidak berkurang dengan istirahat Nyeri tulang belakang
Demam Gangguan lingkup gerak tulang belakang
Riwayat trauma (jatuh, angkat beban berat) Gangguan neurologis menetap lebih dari 1 bulan
BAK dan BAB tidak tertahan atau tidak lancar

 

 

Bagaimanakah pengobatan LBP?

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Pengobatan LBP bergantung pada penyebabnya. Secara umum pembedahan direkomendasikan hanya bila terdapat bukti perburukan kerusakan saraf atau bila diperlukan koreksi struktural pada tulang belakang. Terapi konvensional yang paling sering digunakan pada kasus LBP adalah penggunaan Hot atau cold packs, imobilisasi atau mengistirahatkan area sekitar tulang belakang untuk sementara, disertai dengan terapi latihan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyeri. Latihan peregangan dan tetap aktif dalam melakukan aktivitas harian normal dengan mengurangi posisi atau gerakan yang mencetuskan nyeri dapat dimulai sedini mungkin.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Bukti penelitian menunjukkan bahwa mereka yang tetap melanjutkan aktivitas rutin tanpa bed rest berkepanjangan pada kasus LBP nampaknya memiliki fleksibilitas tulang belakang yang lebih baik dibandingkan yang melakukan bed rest selama satu minggu. Studi lain membuktikan bahwa bed rest saja bahkan dapat memperberat kondisi nyeri tulang belakang dan menyebabkan munculnya komplikasi sekunder seperti depresi, berkurangnya tonus otot, dan penggumpalan darah pada tungkai.  Latihan penguatan otot utama di sekitar tulang belakang sangat penting dan efektif untuk mempercepat pemulihan pada kasus LBP. Demikian pula halnya latihan koordinasi dan fleksibilitas, perbaikan postur serta keseimbangan otot.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Penggunaan obat pengurang nyeri over the counter (OTC) terkadang berbahaya karena tingkat keamanan obat serta interaksi dan efek samping obat yang membutuhkan pertimbangan medis lebih lanjut. Obat anti-inflamasi nonsteroid, opioid, antikonvulsan, antidepresan atau obat anti nyeri topikal dapat diresepkan sesuai kebutuhan pasien. Penggunaan modalitas terapi seperti diatermi, traksi, biofeedback,Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), akupunktur serta injeksi dan blok saraf dapat pula dipertimbangkan pada kondisi LBP yang menetap dan lebih serius.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Referensi:

  1. Bratton, Robert L. Assessment and Management of Acute Low Back Pain. Diunduh dari: https://www.aafp.org/afp/1999/1115/p2299.html
  2. National Institute of Neurological and Stroke. Low Back Pain Fact Sheet. Diunduh dari: https://www.ninds.nih.gov/DISORDERS/PATIENT-CAREGIVER-EDUCATION/FACT-SHEETS/LOW-BACK-PAIN-FACT-SHEET
  3. Manusov EG (September 2012). “Evaluation and diagnosis of low back pain”. Care. 39 (3): 471–9. doi:10.1016/j.pop.2012.06.003

Mengenal Ultra-Processed Foods (UPF bagian I)

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai ultra-processed foods(UPF). Melalui terjemahan bahasa yang sederhana, UPF adalah makanan yang diproses “ultra”. Arti dari “processed foods” atau makanan-yang-telah-melalui-pemrosesan sendiri adalah bahan makanan yang telah diubah dari bentuk alaminya. International Food Information Council menjelaskan arti pemrosesan (makanan) sebagai “perubahan bahan makanan dalam bentuk apapun sebelum makanan itu siap dimakan”.  Proses pemanasan, pasteurisasi, pengalengan, dan pengeringa nsemuanya dapat dikategorikan sebagai pemrosesan makanan. Jadi, selain memetik apel dari pohon dan langsung memakannya atau memerah susu sapi segar dan langsung meminumnya, sesungguhnya sebagian besar makanan yang kita konsumsi merupakan makanan pemrosesan (processed foods, PF). Nah, lalu apa sih perbedaan makanan proses (PF) dengan makanan proses ultra (UPF)?

 

NOVA adalah salah satu alat yang telah divalidasi oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan Pan American Health Organization untuk penelitian gizi dan kesehatan masyarakat yang membagi klasifikasi makanan berdasarkan pemrosesan makanan. Penelitian dan publikasi mengenai NOVA telah dilakukan sejak tahun 2009 karena kesadaran terhadap tingginya (pandemi) angka kejadian penyakit tidak menular yang berhubungan dengan diet/makanan, khususnya mengenai pemrosesan makanan.

 

NOVA mengkategorikan makanan menjadi 4 grup:

1. “Unprocessed or minimally processed foods” yaitu makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan. Bahan makanan alami ini dapat merupakan bagian dari tumbuhan (biji, daging buah, daun, tunas, akar) atau hewan (otot, telur, susu), dan juga jenis jamur, ganggang, dan air.

Makanan dalam grup ini dapat dikonsumsi setelah melalui proses sederhana seperti membuang bagian yang tidak diperlukan, mengeringkan, memecahkan, menggiling, memotong, memfilter, memanggang, merebus, pasteurisasi, mendinginkan, membekukan, memasukkan dalam tempat makanan, di-vacuum, atau fermentasi non-alkoholik.

Contoh: buah/sayuransegar, perasan sari buah/sayur, buah/sayur yang didinginkan, dibekukan, dikeringkan; jagungutuh; legumes seperti kacang merah, kacang hijau, dll; akar-akaran seperti kentang dan singkong; jamur segar atau jamur kering; ikan dan makanan laut; telur; susu; bahkan dalam grup 1 ini juga termasuk granola yang terbuat dari sereal, kacang yang dikeringkan tanpa penambahan gula, minyak dan madu.

 

2. “Processed culinary ingredientsyaitu makanan dari grup 1 atau dari alam yang diproses dengan pressing (penekanan), refining, grinding (penggilingan), milling, spray drying.

Tujuan dari pengolahan bahan makanan grup 2 ini adalah untuk menciptakan produk yang digunakan di dapur rumah/restoran yang telah siap untuk digunakan untuk memberikan bumbu, rasa dan memasak makanan di grup 1.

contoh: gula dan molasses dari tebu atau bit, garam yang diolah dari air laut, madu yang diekstrak dari sarang lebah dan sirup dari pohon maple, minyak dari zaitun dan biji-bijian, mentega dari susu dan lemak hewani, juga starch(pati) dari jagung/tumbuhan lainnya.

 

3. “Processed foodsyaitu produk makanan yang ditambahkan gula, garam, minyak, atau makanan grup 2 ke dalam makanan grup 1. Kebanyakan makanan dalam grup ini memiliki 2 atau 3 bahan dalam komposisi makanannya. Proses yang dimaksud dalam grup ini termasuk berbagai jenis pengawetan atau cara memasak.

Tujuan pengolahan makanan di grup ini adalah untuk meningkatkan ketahanan makanan grup 1, atau untuk meningkatkan kualitas rasa.

contoh: sayuran dalam kaleng, kacang dan biji-bijian yang telah diberi garam atau gula/madu, buah dalam sirup yang dikalengkan, ikan kalengan, daging asap, dll.

 

4. “Ultra-processed foodsyaitu kelompok makanan yang pada umumnya merupakan hasil formulasi industri dengan komposisi makanan yang sangat banyak (biasanya lebih dari 5 jenis). Beberapa jenis bahan komposisi yang terdapat di dalam UPF: gula, minyak, lemak, garam, antioksidan, penyeimbang, pengawet. Bahan yang hanya dapat ditemukan dalam grup ini termasuk bahan yang biasanya tidak digunakan dalam proses memasak, juga zat aditif yang bertujuan untuk imitasi rasa dari grup 1 atau menyamarkan bau/rasa/warna yang tidak diinginkan. Biasanya bahan makanan dari grup 1 hanya memiliki proporsi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali dari grup ini.

Bahan yang hanya ada pada produk UPF seringkali merupakan ekstrak dari makanan grup 1, seperti kasein, laktosa, whey, gluten, minyak hidrogenasi atau interesterifikasi, protein hidrolisat, isolate protein kedelai, maltodextrin, high fructose corn syrup; sedangkan aditif yang hanya bisa ditemukan dalam grup ini: pewarna, penstabil pewarna, perasa, peningkat perasa, pemanis non-gula, dan berbagai tambahan agen karbonasi, pengelmusi, dan lain-lain.

Tujuan utama industri UPF ini adalah menciptakan produk yang siap saji, untuk diminum atau dimakan, atau dipanaskan. Beberapa karakteristik makanan dalam grup ini adalah: hyperpalatibility (sangat gurih, sangat sedap), memiliki kemasan yang sangat menarik, menggunakan cara marketing yang agresif terhadap anak dan konsumen dewasa muda, klaim kesehatan, memiliki banyak keuntungan, penggunaan branding.

contoh: minuman soda, cemilan dalam kemasan, eskrim, coklat, permen, roti hasil produksi masal, margarin, biskuit, kue tart, “breakfast cereal”, “cereal” dan “energy bar”, minuman susu, “fruit yogurt”, minuman coklat, ekstrak daging dan saus instan, susu formula, “health” and “slimming” products, “nuggets”, sosis, burger, hot dog, pizza, hasil olahan daging, sup instan, mie instan, makanan penutup instan.

 

Editor: drg. Valeria Widita W

 

Ptosis Kongenital

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di beberapa bulan sebelum ini saya membahas tentang infeksi dan trauma , kali ini saya akan coba membahas mengenai salah satu kelainan bawaan yang dapat terjadi pada mata anak, yaitu ptosis kongenital. Kelainan kongenital merupakan suatu kondisi yang tidak normal/cacat bawaan yang terjadi saat lahir atau pada masa perkembangan janin. Kelainan kongenital itu banyak sekali, salah satu yang bisa terjadi pada mata adalah kondisi yang dinamakan ptosis. Mungkin ayah dan ibu Kejora jarang mendengar tentang kelainan ini karena jumlah kasus tidak banyak seperti kasus infeksi ataupun trauma namun kondisi ini penting untuk diketahui apabila terjadi pada anak kita sendiri ataupun keluarga kita, karena dapat mempengaruhi perkembangan penglihatan seorang anak. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu ptosis, penyebab dan apa yang harus dilakukan apabila menemukan kasus ptosis ini.

Definisi

Ptosis merupakan keadaan turunnya kelopak mata atas di bawah kedudukan normal yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan dapat menutupi jalur penglihatan ataupun tidak. Ptosis kongenital merupakan ptosis yang terjadi akibat kegagalan pertumbuhan dari otot yang berfungsi untuk membuka kelopak mata (levator palpebra superior) seperti pada gambar 1 yang diberi kotak merah.

Gambar 1. Gambaran anatomi kelopak mata

Ptosis kongenital ini muncul pada saat lahir atau pada usia 1 tahun pertama. Ptosis memiliki jenis/etiologi yang beragam namun kali ini saya hanya membahas ptosis kongenital karena ptosis ini banyak ditemukan pada anak-anak. Ptosis kongenital ini jarang, angka kejadiannya di katakan 1 banding 842 kelahiran. Dari kepustakaan lain disebutkan prevalensi ptosis kongenital pada populasi umum sebesar 0,18-1,41%. Gambar 2 di bawah ini merupakan gambaran ptosis unilateral/satu mata dan ptosis bilateral/kedua mata.

Gambar 2. Gambaran Ptosis kongenita. A. Ptosis unilateral , B. Ptosis bilateral

Tanda dan Gejala

  1. Kelopak mata turun pada salah satu ataupun kedua mata/ kelopak mata tidak simetris (gambar 2)
  2. Kelopak mata yang turun dapat menutupi sebagian/seluruh pupil (anak mata) (gambar 3)

Gambar 3. Gambaran A. Ptosis yang muntupi seluruh pupil  , B. Ptosis yang menutupi sebagian pupil

  1. Tidak ditemukan lipatan kelopak/lid crease
  2. Pada saat melihat kebawah di dapatkan kedudukan kelopak mata yang lebih tinggi pada mata yang mengalami ptosis (lid lag)
  3. Penglihatan tidak optimal/buram/tidak jelas à terutama pada ptosis yang berat/yang sudah menutupi pupil/jalur penglihatan

Tatalaksana

Ayah dan ibu kejora tatalaksana dari ptosis kongenital ini ada 2 , yaitu:

  1. Tindakan bedah/ operasi.
  2. Observasi : pada kasus dimana kondisi ptosisnya tidak berat/tidak menutupi pupil/jalur penglihatan

Pada ptosis kongenital ini yang paling ditakutkan adalah ptosis ini dapat menutupi jalur penglihatan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada perkembangan penglihatan mata anak atau dapat menjadi mata malas. Kondisi ini terutama terjadi pada pasien ptosis unilateral/pada satu mata.

Yang paling penting untuk diketahui oleh ayah dan ibu kejora adalah (1) kenali kelainan ptosis ini dan (2) apabila anak atau sanak saudara ada yang memiliki kelainan ini segeralah bawa ke dokter Mataà jangan menunda!!!. Karena apabila terlambat dan sudah terjadi mata malas àkondisi penglihatan anak sudah tidak dapat optimal kembali, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan masa depan anak di sekolah.

Yang paling banyak di tanyakan oleh orang tua pasien apabila kondisi ptosisnya sudah berat adalah kapan waktu yang tepat untuk dilakukan operasi ptosis??

  • Apabila anak menderita ptosis unilateral: operasi harus dilakukan segera karena dapat mengancam perkembangan penglihatan / risiko untuk menjadi mata malas.
  • Apabila anak menderita ptosis bilateral: operasi dapat ditunda sampai anak usia 4 tahun atau sebelum masuk sekolah karena pada ptosis bilateral terdapat mekanisme chin-up sehingga risiko menjadi mata malas lebih kecil dan pada usia 4 tahun sehingga pengukuran dan pemeriksaan kelopak mata dapat dilakukan lebih akurat.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Referensi:

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Eyelid disorder. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 200-1
  2. American Academy of Ophthalmology staff. Periocular Malpositon and Involutional Changes. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Orbit, eyelid and Lacrimal System. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 201-6
  3. Marenco M, Macchi I, Galassi E, Giordano M, Lambiase A. Clinical presentation and management of congenital ptosis. Clin Ophthalmol.2017;11:453-63
  4. Wang Y, Xu Y, Liu X, Lou L, Ye J. Amblyopia, Starbismus and refractive errors in Congenital Ptosis : a systematic review and metanalysis. Sci Rep 2018; 8: 8320
  5. SooHoo JR, Davies BW, Allard FD, Durairaj VD. Congenital Ptosis. Surv ophthalmol ; 2014;59(8): 483-92
  6. Raj A, Maitreya A, Bahadur H. Congenital ptosis : etiology and its management. Int J Ocular Oncology and Oculoplasty 2017; 3(1):8-13

 

Penanganan Ular

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

*Bekerja sama dengan Safe Kids Indonesia dan Yayasan Sioux Ular Indonesia

Halo Keluarga Sehat Kejora! Belakangan ini ramai sekali pemberitaan mengenai ditemukannya ular di pemukiman warga di berbagai tempat. Satu ekor ular saja dapat menyebabkan keresahan, bagaimana bila ditemukan lebih banyak lagi ya. Apakah Ayah dan Ibu sudah pernah “berkenalan” dengan ular? Apa yang dapat kita lakukan bila berhadapan dengan situasi seperti ini? Yuk kita simak ulasannya.

Mitos dan Fakta

Mungkin Keluarga Kejora pernah menerima informasi yang menyebutkan kalau sedang camping di hutan, jangan lupa tebarkan garam disekitar tenda agar ular tidak mendekat. Betulkah seperti itu? Ternyata itu hanya mitos lho! Faktanya, ular tidak takut garam karena ia terlindungi oleh sisiknya. Ular juga tidak takut terhadap belerang, obat rayap, ataupun obat semut. Justru, yang tidak disukai oleh ular adalah bau yang menyengat karena akan mengganggu penciumannya, misalnya cuka.

Ayah dan Ibu Kejora, perlu diketahui pula bahwa tidak semua ular berbisa itu mematikan. Faktanya, hanya 77 dari 348 spesies ular di Indonesia yang bisanya mematikan. Namun, menjaga kewaspadaan tetap penting ya, Ayah dan Ibu. Lalu bagaimana dengan warna ular? Apakah warna-warna tertentu erat kaitannya dengan bisa yang mematikan? Ternyata itu juga hanya mitos!

Membedakan ular berbisa atau tidak

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dari 348 spesies ular di Indonesia hanya 77 yang bisanya mematikan. Tipe ular dibedakan berdasarkan bisanya: highly venomous (sangat beracun) dan non venomous (tidak beracun). Kedua tipe ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat membantu kita membedakannya.

Karakteristik dari ular yang highly venomous adalah gerakannya yang lambat. Selain itu, ia memiliki betuk kepala segitiga, mata berbentuk elips, dan memiliki sisik satu baris/ tidak terbagi di bagian buntut. Tipe ular ini membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa melalui taringnya dan memiliki lubang penginderaan panas (heat-sensing) di dekat hidungnya.

Berbeda dari ular yang highly venomous, karakteristik ular yang non-venomous hampir berkebalikan, seperti gerakannya yang cepat, bentuk kepala dan mata yang bulat, dan tidak memiliki taring bisa. Pada bagian buntut sisiknya terbagi menjadi dua baris. Tipe ular ini gigitannya tidak mematikan, namun membunuh mangsanya dengan cara membelit.

Mencegah ular datang ke rumah

Salah satu alasan ular mendatangi tempat tinggal adalah karena lapar. Bisa jadi hal itu terjadi karena telah putus rantai makanannya pada habitat sebelumnya. Agar dapat mencegah ular datang ke rumah, kita dapat belajar memahaminya melalui karakter biologi dari ular. Misalnya, ular sangat mengandalkan penciumannya yang berada pada lidahnya untuk mendeteksi mangsa dan musuh. Ia sangat sensitif dan tidak suka dengan bau yang menyengat. Bila area tempat tinggal kita sering kedatangan ular, trik ini dapat membantu mencegah ular datang ke rumah. Namun, dengan menjaga tempat tinggal kita bersih, ular pun akan segan untuk datang, karena pada dasarnya ular takut dengan manusia.

Ciri-ciri tempat yang disukai ular

Setiap hewan memerlukan tempat yang kondusif untuk hidup. Pastikan tempat tinggal kita bukan salah satunya ya, Ayah dan Ibu. Ciri-ciri tempat yang disukai ular termasuk diantaranya:

  1. Kering, tidak basah lantainya atau hanya sedikit lembab tanpa adanya genangan air.
  2. Tanpa cahaya atau gelap. Ular yang aktif pada malam hari (nokturnal) akan sembunyi di siang hari. Sedangkan, ular yang aktif pada siang hari (diurnal) akan tidur di malam hari di tempat yang sedikit terbuka.
  3. Di dalam lubang. Karena ular tidak berkaki atau tangan, maka ia akan memanfaatkan lubang yang telah dibuat oleh hewan lain.

Contoh tempat di sekitar rumah yang disukai oleh ular adalah plafon atap, lubang pondasi, saluran sampah, dan tumpukan material.

Yang dilakukan bila bertemu ular

Ayah dan Ibu, saat manusia bertemu dengan ular, bukan hanya manusia yang syok dan stres. Ular pun ternyata merasakan yang sama! Saat ular panik atau takut, yang ia lakukan hanyalah berlari, bertahan, mengancam, dan menyerang. Jangan sampai kita memprovokasi. Bagaimana agar ular tidak menyerang? Kita harus STOP. Maksudnya?

S Silent. Jangan bergerak. Ular akan merespon bila melihat gerakan. Jika kita diam, ular tidak bisa membedakan antara kita dan benda mati (misalnya pohon bila kita sedang berada dekat pepohonan).
T Think. Pikirkan ular macam apa ini? Highly venomous atau non venomous?
O Observe. Lihat sekitar kita. Apakah ada benda yang bisa membantu kita untuk memegang atau mengangkat ular, dan apakah memungkinkan untuk kita berpindah atau mundur.
P Prepare. Apa yang akan kita lakukan? Mengejar ular, menangkap, atau mundur?

Bila kita tidak berani mengambil aksi, kita cukup diam dan ular akan pergi sendiri. Ayah dan Ibu juga dapat menghubungi petugas Pemadam Kebakaran di nomor 113 untuk bantu menangani situasinya.

Penanganan gigitan ular

Ayah dan Ibu Kejora, yang paling penting dilakukan bila digigit ular adalah untuk tetap tenang dan tidak panik—jangan berteriak atau berlarian. Pindahlah ke tempat yang aman dan hubungi pemadam kebakaran (113) untuk bantuan. Bersihkan luka gigitan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan.

Lilitkan perban dan lakukan pembidaian pada area yang digigit untuk meminimalkan pergerakan (imobilisasi). Posisikan bagian yang luka lebih rendah dari posisi jantung. Bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) atas saran dokter yang menangani dan diobservasi selama 2 x 24 jam. Penting diingat untuk menghindari obat-obatan tradisional, menghisap luka, ataupun mengikat luka dengan sangat kencang. Masa penyerangan mematikan bergantung kepada jenis ularnya, rata-rata sekitar 10 menit hingga 24 jam. Maka dari itu, penting sekali korban diberikan pertolongan yang memadai.

Semoga kita semua selalu terlindungi ya, Ayah dan Ibu Kejora!

Merkuri dalam Ikan dan Makanan Laut

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk sebagian orang, konsumsi ikan dan makanan laut seringkali dihindari karena dianggap mengandung merkuri yang berbahaya. Wah, sayang sekali kalau demikian ya, padahal ikan merupakan salah satu sumber protein berkualitas tinggi. Selain itu, sebagian besar ikan memiliki kadar lemak rendah, dan lemak yang terdapat pada ikan merupakan lemak tidak jenuh eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) yang bermanfaat bagi tubuh. Ikan juga merupakan sumber selenium, zinc, iodine, besi, serta vitamin B12, vitamin A dan D.

Merkuri atau yang dikenal juga dengan raksa merupakan elemen yang secara alamiah memang ada di udara, air, ataupun tanah.  Merkuri dapat juga merupakan kontaminan dari limbah pabrik maupun aktivitas pertambangan. Di dalam air atau sedimen, molekul merkuri ini akan berubah menjadi metilmerkuri yang sifatnya berbahaya untuk otak dan sistem saraf pusat apabila seseorang terpapar dalam jumlah berlebihan. Selain itu, paparan terhadap merkuri juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim.

Hampir semua ikan mengandung setidaknya sejumlah kecil metilmerkuri karena metilmerkuri ini akan masuk melalui makanan ikan. Oleh sebab itu, metilmerkuri ini akan terdapat dalam kadar tinggi pada ikan-ikan berukuran besar yang memangsa ikan kecil dan pada ikan yang masa hidupnya lebih panjang.

Ada anggapan bahwa ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari ikan dan makanan laut agar terhindar dari paparan merkuri. Akan tetapi, berbagai penelitian telah menyimpulkan bahwa nutrisi pada ikan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan dan selama masa pertumbuhan anak.

Selanjutnya, bila kita harus tetap mengonsumsi ikan, maka apakah dengan mencuci, membersihkan, dan mengolah ikan dapat menurunkan kadar merkuri dari ikan yang akan dikonsumsi? Jawabannya tidak, ya Ayah dan Ibu Kejora. Merkuri terdapat di seluruh jaringan tubuh ikan, sehingga mencuci dan memasaknya tidak akan mengurangi kadar merkuri. Cara paling tepat untuk mengurangi jumlah paparan merkuri adalah dengan memilih ikan yang akan dikonsumsi berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh US EPA (Environmental Protection Agency) dan US FDA (Food and Drug Administration) berikut ini:

  1. Best Choices (dikonsumsi 2 hingga 3 saji per minggu), contohnya adalah:
  • anchovy
  • atlantic mackerel
  • black sea bass
  • catfish
  • kepiting
  • herring
  • lobster
  • tiram
  • salmon
  • sardin
  • scallop
  • udang
  • cumi
  • tuna, canned light
  1. Good choices (dikonsumsi 1 saji per minggu), contohnya adalah:
  • kerapu
  • halibut
  • mahi-mahi
  • kakap
  • tuna, albacore
  • tuna, yellowfin
  1. Choices to avoid (kadar merkuri tertinggi)
  • king mackerel
  • marlin
  • hiu
  • swordfish
  • tuna, bigeye

Seberapakah yang disebut dengan 1 saji/serving?

  • Untuk dewasa: 4 oz (1 oz = 28.3g)
  • Untuk anak usia 2 tahun: 1 oz dan ditingkatkan hingga 4 oz saat anak berusia 11 tahun

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. FDA News Release: FDA and EPA issue final fish consumption advice, January 2017.
  2. 2015-2020 Dietary Guidelines for Americans
  3. World Health Organization, Mercury and health, March 2017

Tahapan Menyusui Buah Hati

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Kelenjar ASI pada payudara ibu sudah mulai aktif sejak minggu ke-16 kehamilan. Hormon kehamilan secara otomatis akan menghambat keluarnya ASI untuk menjaga kehamilan sampai cukup bulan. Setelah bayi dan ari-ari lahir peran hormon kehamilan mulai berkurang. Di sisi lain peran hormon menyusui akan meningkat yakni oksitosin dan prolaktin, yang bekerja untuk mengeluarkan dan menjaga lancarnya produksi ASI.

Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah bayi lahir. Kolostrum mengandung antibodi IgA sekretoris, laktoferin, sel darah putih, dan faktor-faktor pertumbuhan. Kolostrum memiliki fungsi utama untuk menyokong daya tahan tubuh dan pertumbuhan bayi di hari-hari pertama kehidupan.

ASI transisi / peralihan muncul saat kandungan laktosa di dalam ASI meningkat menjelang akhir minggu pertama setelah bayi lahir atau berkisar pada akhir minggu pertama setelah kelahiran bayi.

ASI matur mulai dihasilkan tubuh ibu sekitar minggu kedua setelah persalinan. Kandungan ASI matur kaya makronutrien seperti laktosa (karbohidrat), protein, dan lemak untuk mencukup kebutuhan nutrisi bayi. ASI juga mengandung cukup cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan harian bayi.

Penggolongan ASI ini penting diketahui untuk dapat memahami tahapan menyusui. Ayah dan Ibu Kejora perlu mengetahui bahwa tahapan produksi ASI ini akan sejalan dengan kebutuhan minum bayi. Bayi cukup bulan yang lahir pada usia kehamilan 37-40 minggu dengan rentang berat 2500g-4000g memiliki kapasitas lambung lebih kurang 5-7 mL (1 sendok teh) pada hari pertama hidupnya. Volume ini akan meningkat menjadi sekitar 22-27 mL pada hari ketiga, dan 45-60 mL pada minggu pertama. Saat bayi berumur 1 bulan, bayi dapat menampung kurang lebih 80-150 mL dalam lambungnya.

Pastikan teknik menyusui yang tepat serta nutrisi Ibu dan Ayah yang paripurna untuk menjaga kesinambungan menyusui si kecil.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi:
Ballard OJ, Morrow AR. Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. as: Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 49–74.

Boba, Minuman Kekinian untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Gerai minuman bubble teashop memang menjadi tren dan sangat menyenangkan sekarang ini. Tentu saja, anak dan remaja juga seringkali mengonsumsi minuman kekinian tersebut. Perpaduan bubble pearl atau tapioca pearl yang kenyal dan manis dipadu dengan beragam minuman manis seperti teh, susu, kopi, sirup dengan berbagai rasa menjadikan minuman ini favorit untuk semua kalangan.

Berita yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah seorang anak remaja berusia 14 tahun di Cina diberitakan mengalami sakit perut dan sembelit sehingga dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, anak tersebut seringkali mengonsumsi bubble tea. Setelah dilakukan tindakan CT scan ternyata ditemukan gambaran butiran bola-bola di dalam  perut anak tersebut yang cukup banyak. Sehingga anak tersebut diberikan pencahar untuk dapat mengeluarkan tumpukan bola-bola tersebut.

Bubble pearl ini terbuat dari tepung kanji atau tapioka, dicampur sedikit gula. Beberapa produk ada yang ditambahkan tepung terigu. Untuk membentuk bola-bola tapioka, semua bahan dicampur dengan air, diuleni, dibentuk bulat, kemudian direbus. Tapioka merupakan pati yang diekstrak dari akar singkong, komposisi gizi  terdiri dari karbohidrat  dan sedikit protein. Tapioka yang mengandung pati resisten tersebut sulit dicerna oleh tubuh  dan cepat memberikan rasa kenyang.

Bubble pearl dalam minuman tersebut seringkali disajikan dengan sedotan besar yang meningkatkan risiko tersedak pada anak terutama pada anak dibawah 4 tahun. Bubble pearl yang dihisap dapat tidak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika ingin mencoba bubble tea/boba, pastikan anak berusia di atas 4 tahun untuk mengurangi risiko tersedak.

Bubble tea seringkali mengandung kafein karena dicampur dalam teh hitam atau hijau dan disajikan dalam gelas yang cukup besar. Diperkirakan dalam 400 ml bubble tea mengandung kafein sebesar 130 mg, yang merupakan kadar yang cukup besar untuk anak kecil. Selain itu, bubble tea dengan berbagai campuran di dalamnya dapat mencapai energi sebesar 500 kalori dalam gelas terbesarnya. Kalori tersebut merupakan 1/3 kebutuhan anak dalam sehari. Kalori sebesar itu, setengahnya (200 kalori) berasal dari lemak dan sisanya adalah berupa gula. Asupan gula dan lemak yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan risiko untuk obesitas pada anak.

Jika ingin mengonsumsi bubble tea/boba untuk anak pastikan tidak terlalu sering (1 kali dalam 1-2 minggu) dan setelah makan utama. Pilihlah gelas dengan ukuran terkecil dan tingkat kemanisan yang terendah. Hindari memilih susu yang ditambahkan dalam boba berupa krimer atau susu kental manis. Orang tua juga dapat meminta untuk mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bubble pearl untuk anak. Jika menambahkan bubble pearl, minumlah boba tersebut dalam posisi duduk/ tidak berjalan dan sambil bicara.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Posisi imunisasi yang Menyamankan

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Apa kabar, Ayah dan Ibu? Sampai di penghujung tahun, semoga semua anggota keluarga dalam keadaan sehat.

Sepanjang tahun pasti hal yang tidak bisa kita hindarkan saat berkonsultasi ke dokter anak adalah saat imunisasi. Imunisasi bertujuan untuk menstimulasi tubuh anak untuk menghasilkan tentara (antibodi) untuk menghalau bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh anak kita. Proses imunisasi sering sekali disertai dengan rasa takut dan tangisan berderai. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara agar proses imunisasi menjadi proses yang lebih menyenangkan.

Salah satu cara untuk membuat proses imunisasi berjalan dengan lancar adalah posisi penyuntikan. Bayi atau anak akan merasa aman dan nyaman dalam dekapan orang tua, sementara dalam proses imunisasi seringkali bayi atau anak langsung dibaringkan ke atas tempat tidur. Hal ini tergantung kesepakatan dengan orang tua, jika memang bayi atau anak tidak bisa digendong dengan tenang maka dibaringkan di atas tempat tidur menjadi pilihan kedua.

Suntikan imunisasi sampai usia 2 tahun dilakukan di paha tengah samping (vastus lateralis). Pada anak di atas 2 tahun, imunisasi dapat disuntikan pada lengan atas (deltoid) atau paha tengah samping.

Gambar 1. Lokasi penyuntikan di paha samping tengah

Gambar 2. Penyuntikan di lengan atas (deltoid)

 

Cara memegang dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Posisi cruddle

 

  1. Posisi straddle

Posisi menentukan prestasi; dengan posisi yang nyaman, maka bayi atau anak dapat merasa tenang dalam dekapan orang tua sehingga rasa sakit bisa teralihkan. Orang tua perlu memegang dengan kuat anak dalam dekapan sehingga tidak bergerak secara berlebihan. Kunci pergerakan bahu, panggul dan kaki.

Semoga dengan mempraktikkan tips di atas, proses imunisasi bisa berjalan lebih nyaman dan tangisan berkurang atau lebih cepat berhenti.

Editor: dr. Sunita

 

Sumber

https://www.health.govt.nz/publication/immunisation-handbook-2017