Anak dengan Clubfoot (Kaki Pengkor)

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernah dengar sebutan kaki pengkor? Sebenarnya sebutan medis untuk penyakit ini adalah clubfoot atau congenital talipes equniovarus (CTEV), namun memang di masyarakat lebih dikenal sebagai kaki pengkor. Apakah bisa diperbaiki? Mari simak artikel berikut ya, Ayah dan Ibu.

Clubfoot adalah kelainan yang penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas, walaupun ada teori yang mengatakan berkaitan dengan genetik. Kelainan ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Namun, penyakit ini juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit kelainan di bagian tubuh lainnya, misalnya kelainan pada anggota tubuh bagian atas, atau tulang belakang. Clubfoot biasanya terjadi sejak bayi baru lahir, namun juga dapat terjadi saat anak sudah besar karena adanya ketidakseimbangan kekuatan otot, misalnya pada anak dengan cerebral palsy.

Kelainan kaki pada clubfoot akan mempengaruhi seluruh bagian dari kaki, yaitu bagian depan (forefoot), tengah (midfoot), dan belakang (hindfoot). Telapak kaki sang buah hati akan terlihat berputar ke arah dalam dan ke bawah, sedangkan jari-jari kakinya mengarah ke sisi dalam, dan tungkai yang terkena juga cenderung lebih kecil. Kelainan utama dari penyakit ini merupakan kelainan dari otot dan urat di sekitar kaki yang kaku dan tegang, bukan kelainan tulang. Namun, karena kekakuan dan penegangan ini, tulang-tulang di kaki menjadi tertarik ke sisi dalam. Kelainan ini dapat dideteksi dini saat sang bayi masih berada di dalam janin, dengan tingkat keakuratan yang tinggi apabila dilakukan pada saat trimester kedua. Akan tetapi tindakan diagnostik ini bukan untuk mengobati dini, melainkan ditujukan agar sang ibu dan keluarga dapat mempersiapkan diri pada saat sang bayi lahir serta menyusun rencana pengobatan segera setelah bayi lahir.

Karena kelainan pada clubfoot merupakan kelainan otot dan urat, setiap kelainan ini diperlukan perbaikan secara bertahap. Waktu terbaik untuk dilakukan penatalaksanaan ini adalah saat sang bayi masih berusia 1-2 minggu. Metode penatalaksanaan clubfoot diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Ignacio Ponsetti dari Universitas Iowa, Amerika Serikat. Metode Ponsetti ini meliputi koreksi kelainan bentuk kaki dengan menggunakan gips. Gips ini dipakaikan selama 7 hari, dan akan dipakaikan kembali berulang sampai sekitar 5-6 kali.

Pada akhir periode pemasangan gips, kelainan bentuk kaki ini akan dievaluasi oleh dokter Orthopaedi apakah kelainan bentuk tersebut dapat terkoreksi dengan mudah dan baik. Apabila pemakaian gips serial kurang bisa mengoreksi kelainan bentuk tersebut, maka perlu dilakukan tindakan bedah untuk memanjangkan urat tendon Achilles, yakni urat di belakang tumit kaki. Tindakan bedah ini memerlukan bius total agar sang bayi tenang, namun tindakan bedah dilakukan dengan sayatan yang minimal.

Setelah tindakan operasi, kaki sang buah hati akan perlu dipasang gips kembali sekitar 2-3 minggu untuk mempertahankan posisi. Setelah periode tersebut, sang bayi akan dibuatkan alat khusus (Dennis Brown brace) agar dapat membantu mempertahankan posisi kaki. Pada awalnya, alat khusus ini akan dipakai selama hampir satu hari penuh, namun waktu pemakaian alat akan dikurangi seiring dengan perbaikan bentuk kaki. Alat ini perlu dipakai hingga usia 4 tahun.

Dennis Brown Brace

Sebagai orang tua, kesabaran dan kepatuhan terhadap instruksi dokter adalah kunci dari penanganan clubfoot ini. Penyakit ini tidak dapat dicegah karena penyebabnya yang belum diketahui secara pasti. Namun, bila diabaikan, sang buah hati akan mengalami kesulitan dan rasa nyeri saat berjalan. Konsekuensinya, anak akan menolak untuk belajar berjalan. Maka dari itu, peranan orang tua sangat penting untuk mendukung kesembuhan sang buah hati.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

  1. Jowett C. R., Morcuende J. A., Ramachandran M. Management of congenital talipes equinovarus using the Ponseti method. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2011 93-B:9, 1160-1164.
  2. Siapkara A., Duncan R. Congenital talipes equinovarus: A Review of Current Management. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2007 89-B:8, 995-1000

 

Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Perlukah Si Kecil Belajar Meminta Maaf?

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu, pernah engga sih kepikiran, “Perlu engga ya, anakku meminta maaf?” Mungkin, di satu sisi kita merasa bahwa si kecil tidak perlu meminta maaf karena ia masih kecil, namun di sisi lain kita juga merasa penting untuk mengajarkan si kecil meminta maaf dan mengetahui bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah suatu kesalahan. Jadi, sebenarnya bagaimana ya baiknya? Perlu tidak, ya?

Para ahli mengatakan bahwa seorang si kecil tidak perlu dipaksa untuk meminta maaf saat melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti si kecil dibiarkan saja ketika melakukan kesalahan, terutama jika merugikan orang lain. Saat si kecil melakukan kesalahan, orang dewasa atau Ayah dan Ibu perlu memberikan penjelasan terkait alasan perilaku tersebut tidak baik untuk dilakukan. Selain menjelaskan perilaku yang salah, maka Ayah dan Ibu juga hendaknya memberikan informasi perilaku yang benar atau perilaku yang sebaiknya dilakukan. Memaksa si kecil untuk mengucapkan kata maaf, hanya akan membuat si kecil mengucapkan kata maaf dengan tidak tulus dan justru menjadi tidak paham arti kata ‘maaf’ tersebut.

Kadangkala, ada si kecil yang sulit sekali untuk mengungkapkan kata maaf, namun ada yang justru mudah mengungkapkan kata ‘maaf’. Pernahkah Ayah dan Ibu melihat ada si kecil yang mudah mengungkapkan kata ‘maaf’ namun kembali melakukannya? Kadangkala, si kecil mengeluarkan kata ‘maaf’ untuk menyenangkan orang dewasa dan menghindari hukuman. Akhirnya, kata ‘maaf’  yang sering dikeluarkan oleh si kecil justru berujung pada kelegaan pada Ayah dan Ibu. Namun, setelah Ayah dan Ibu lengah, si kecil bisa saja kembali melakukan perbuatan serupa. Hal ini bisa dikarenakan si kecil belum betul-betul paham makna dari kata ‘maaf’. 

Jadi, Apa yang perlu dilakukan ketika si kecil melakukan kesalahan?

1. Bicara dari hati ke hati

Saat si kecil melakukan kesalahan, ajaklah ia untuk bicara dari hati ke hati. Mulailah berfokus pada perasaan yang si kecil miliki. Bisa jadi, si kecil melakukan hal yang kurang baik karena satu alasan. Misalnya saat si kecil tidak meminjamkan mainan kepada adiknya dan memilih untuk merajuk. Bisa jadi ini adalah wujud dari perasaan cemburu.

Ayah dan Ibu dapat menanyakan, “mengapa kamu melakukan itu?” Setelah si kecil mengungkapkannya, Ayah dan Ibu dapat menanyakan perasaan si kecil ketika berada di posisi anak atau pihak lain. Hal ini perlu dilakukan agar si kecil tahu bahwa orangtua tetap ada untuknya sekalipun ia melakukan hal yang salah. 

Setelah tahap tadi selesai, ajak si kecil berfokus pada perasaan dari orang lain. Misalnya, “dik, kalau misalnya kamu mau pinjam mainan tapi sama temanmu tidak diperbolehkan gimana?” Jika diperlukan, lakukan role play agar si kecil betul-betul merasakan hal serupa.

Setelah si kecil mendapatkan dua sudut pandang, maka rangkumkan perasaan si kecil, perasaan orang lain, hal yang salah, serta hal yang harus dilakukan ke depannya. 

2. Ajarkan formula dalam mengungkapkan kata maaf

Jika ingin mengajarkan si kecil kata ‘maaf’, maka ajarkan si kecil mengenai formula kata ‘maaf’ yang lengkap dan bermakna. Kata maaf yang baik, bukan hanya sekedar mengucapkan ‘maaf’ saja, namun mengandung penjelasan mengenai perbuatan atau perilaku yang salah, alasan mengapa perilaku tersebut salah, dan solusi di masa depan. Misalnya saja saat si kecil tidak sengaja memukul dahi temannya. Ajarkan si kecil untuk mengungkapkan, “aku meminta maaf karena memukul dahimu. Itu salah karena dahimu pasti sakit sekali. Besok aku tidak akan mengulanginya kembali.”

3. Jadilah contoh yang baik 

Ingatlah bahwa si kecil pasti belajar melalui contoh dari orang-orang terdekat, misalnya saja ayah, ibu, atau orang lain di rumah. Berusahalah untuk bukan hanya sekedar mengucap maaf, namun betul-betul mengungkapkan perasaan bersalah dengan cara yang bermakna dan positif. 

4. Selalu konsisten

Selalu berusaha untuk konsisten juga menjadi hal yang penting. Berbagai aturan yang jelas dan disepakati oleh keluarga mengenai batasan perilaku yang diperbolehkan dan tidak juga sebaiknya diterapkan di rumah. Hal ini supaya si kecil juga tidak bingung terkait perilaku yang boleh dan tidak diperbolehkan.

 

Editor: drg Valeria Widita Wairooy

Sumber:

Smith, C. E. , Chen, D. & Harris, P. L. (2010). When the happy victimizer says sorry: Children’s understanding of apology and emotion.  British Journal of Developmental Psychology Vol 28. 727-746.

 

Apakah Anak Gemuk Berarti Sehat?

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Senang sekali kita bisa kembali bertemu untuk membahas topik menarik berkaitan dengan kesehatan anak. Nah, kali ini Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal kegemukan atau OBESITAS pada anak. 

Apa itu obesitas?

Obesitas adalah kelebihan berat badan akibat lemak berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas pada anak dapat dimulai sejak usia balita hingga remaja. Asupan makanan yang berlebih merupakan penyebab utama obesitas (obesitas primer atau nutrisional) dan hanya sekitar 10% oleh karena kelainan hormon, sindrom atau kerusakan gen (obesitas sekunder atau non-nutrisional).

Bagaimana mengenali obesitas?

Cara mudah mengetahui anak obesitas diantaranya dengan melihat bentuk pipi yang tembem, dagu rangkap, leher tampak pendek, perut membuncit dan berlipat, payudara membesar, kedua tungkai umumnya berbentuk X, dan pada anak laki penis tampak kecil dan terbenam. Selain ciri fisik tadi, keadaan ini dapat dipastikan dengan melakukan pengukuran berat badan terhadap tinggi badan dan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Obesitas pada anak usia < 2 tahun ditegakkan jika Z score > +3 SD dengan menggunakan grafik IMT WHO 2006, sedangkan pada anak usia 2-18 tahun menunjukkan nilai IMT di atas P95 dengan grafik IMT CDC 2000.

Apakah obesitas pada anak berbahaya?

Anak gemuk dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti ngorok, gangguan tidur (sleep apnea), tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, perlemakan hati, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, kencing manis (diabetes mellitus), dan masih banyak lagi. Nah, supaya hal ini tidak terjadi, pahamilah obesitas sejak anak masih kecil.

Bagaimana cara mencegah obesitas?

Cara mencegah anak menjadi obesitas adalah pemberian ASI eksklusif, mengurangi camilan, makanan manis dan ‘junk food’, memperbanyak aktivitas fisik yang disesuaikan dengan usia, serta membatasi ‘screen time’ pada anak dengan panduan yang bisa dibaca dari salah satu topik bahasan Kejora yang berjudul ‘Mendidik Anak pada Era Digital’. 

Apakah yang dapat dilakukan pada buah hati yang mengalami obesitas?

Bila anak mengalami obesitas, sebaiknya konsultasi dengan dokter spesialis anak. Prinsip tata laksana anak dengan obesitas adalah menerapkan pola makan yang benar, aktivitas fisik yang adekuat, dan modifikasi perilaku dengan orangtua sebagai panutan. Target untuk menurunkan berat badan 0,5 kg dalam seminggu atau turun mencapai 20% diatas berat badan ideal. 

Pola makan terjadwal dengan makan besar 3x/hari dan camilan 2x/hari (camilan diutamakan dalam bentuk buah segar), diberikan air putih di antara jadwal makan utama dan camilan, serta lama makan 30 menit/kali. Panduan makanan berupa traffic light diet dapat diterapkan. Buah dan sayur, daging tanpa lemak, ikan, kacang, roti gandum, susu rendah lemak dan air termasuk green food pada traffic light diet yaitu dapat dikonsumsi setiap hari. Yellow food adalah makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi tidak setiap hari yaitu daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, kue dan biskuit rendah lemak dan gula. Red food adalah makanan yang boleh dikonsumsi 1x/minggu, diantaranya berupa gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis dan coklat.

Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, dan kemampuan fisis anak. Keluarga ikut berpartisipasi dalam mendukung keberhasilan anak dan jangan lupa memberi pujian terhadap setiap perilaku sehat yang anak lakukan. 

 

Referensi

  1. Rekomendai Ikatan Dokter ANak Indonesia. Diagnosis, tatalaksana dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Gultom LC, Hendarto A, Lestari ED, Sidharta IGL, Mexitalia M, penyunting. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi ke-1, 2014.
  2. Sjarif DR. Obesitas anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS, penyunting. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2011.h.230-41.

Perawatan Luka

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo keluarga Kejora! Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang anak dapat terjatuh dan mengalami luka ringan. Tahukah Ayah dan Ibu tentang cara merawat luka yang benar? Apakah mengoleskan minyak tradisional maupun minyak esensial pada luka tersebut dapat membantu penyembuhannya? Pembahasan berikut ini akan menjawab kedua pertanyaan tersebut.

 

Luka merupakan suatu kondisi yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Luka terjadi akibat kerusakan jaringan kulit dan gangguan fungsi kulit sebagai salah satu pertahanan tubuh. Jika suatu bagian tubuh mengalami luka, maka respons tubuh terhadap luka tersebut adalah memulai proses penyembuhannya, mulai dari pembekuan darah, pembentukan fibrin, sampai dengan pembentukan jaringan parut. Penyembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain penyebab terjadinya luka, status gizi, adanya penyakit penyerta (seperti diabetes, penyakit autoimun), lokasi, dan ukuran luka. Selain itu, usia juga mempengaruhi lama penyembuhan luka. Penyembuhan luka pada anak pada umumnya lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, produksi kolagen dan elastin pada proses penyembuhan luka anak juga lebih banyak.

 

Penanganan luka meliputi beberapa hal, antara lain: menghentikan perdarahan, mencegah terjadinya infeksi dan pengenalan tanda infeksi, serta membalut luka. Penghentian perdarahan dapat dilakukan dengan melakukan penekanan langsung pada bagian yang luka. Hal ini tentu dengan memperhatikan kebersihan agar luka tidak terinfeksi. Pencegahan infeksi juga dilakukan dengan membersihkan luka dengan air dan larutan antiseptik, serta membersihkan kulit di sekitar luka dengan air dan sabun. Dalam proses penyembuhannya, luka perlu dievaluasi secara rutin apakah terdapat tanda-tanda infeksi, yaitu terdapat bengkak, kulit di sekitar luka teraba lebih panas dibandingkan dengan kulit pada bagian lain, kemerahan,nyeri, dan ada atau tidaknya nanah. Jika terdapat tanda-tanda infeksi tersebut, segera periksakan kondisi luka ke dokter untuk dilakukan penanganan yang meliputi pembersihan luka dengan lebih seksama dan pemberian antibiotik untuk meredakan infeksi. Cara membalut luka bergantung pada jenis dan kapan luka terjadi. Jika luka baru terjadi dan telah dibersihkan dengan baik, maka dapat dibalut tertutup (misalnya dengan kasa dan plester atau plester saja jika lukanya kecil). Luka akibat benda asing atau gigitan binatang, sebaiknya dibiarkan terbuka. Luka yang bernanah, sebaiknya dibalut dengan kasa lembab dan balutannya diganti secara berkala.

 

Lalu, bagaimana dengan mengoleskan luka dengan minyak tradisional atau minyak esensial yang banyak beredar di pasaran? Meskipun minyak tradisional ini banyak digunakan untuk mengobati luka dalam masyarakat, belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan perannya dalam mengobati luka. Sejauh ini, pendapat mengenai penggunaan minyak tradisional pada luka masih berdasarkan pengalaman dan pengamatan. Hal serupa juga berlaku untuk minyak esensial. Terdapat pendapat bahwa minyak esensial yang mengandung bahan tertentu (seperti lavender, chamomile Jerman) dapat membantu penyembuhan luka, namun penelitian yang menjelaskan peran kandungan tersebut secara ilmiah dalam penyembuhan luka masih terbatas pada hewan coba dan belum teruji meyakinkan secara klinis.

 

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu dalam menangani luka ringan! Salam sehat Kejora!

 

Sumber:

http://www.ichrc.org/932-prinsip-perawatan-luka

Kerr, J. The use of essential oils in healing wounds. The International Journal of Aromatherapy. 2003; 12 (4): 202-206.

HSE National Wound Management Guidelines 2018.(https://www.hse.ie/eng/services/publications/nursingmidwifery%20services/wound-management-guidelines-2018.pdf)

 

 

 

SERAT PADA ANAK

 

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ibu sehat Kejora!

Bagi Ibu yang memiliki anak berusia lebih dari 2 tahun tentu sering mendapati anak susah makan sayur atau buah. Ternyata kandungan serat pada sayur buah penting bagi kesehatan anak.

Serat memadatkan dan melembutkan konsistensi feses sehingga memperlancar proses buang air besar. Serat juga memiliki efek cepat mengenyangkan, mengurangi rasa lapar, dan meningkatkan pemecahan lemak.

Cara terbaik yang optimal dalam memperoleh serat yaitu dari variasi sumber bahan makanan, bukan dari suplemen. Sumber serat pada bahan makanan antara lain sayur, buah, biji-bijian. Pada anak di atas usia 2 tahun dapat diberikan serat dengan perhitungan (umur dalam tahun + 5) gram per hari. Misal, ibu memiliki anak berusia 3 tahun, maka serat yang diberikan sebesar 8 gram per hari, atau setara dengan 1,5 labu siam. Perlu diperhatikan bahwa bayi sebaiknya tidak diberikan porsi serat sebanyak anak yang lebih besar, karena beberapa jenis sayur buah dapat menghambat penyerapan nutrisi lain di tubuh bayi. Pada bayi, diterapkan prinsip mengenalkan sayur buah dalam jumlah sedikit.

Berikut beberapa tips agar anak menyuka sayur dan buah:

  • Pada anak yang lebih besar, beri pengertian tentang pentingnya serat bagi kesehatan tubuh
  • Ajak anak mengonsumsi makanan sehat dengan memilih makanan yang disukai dan dapat diterima anak. Tingkatkan juga konsumsi sayur dan buah. Buah potong dapat diberikan pada saat jam snack sebanyak 2 kali yaitu di antara sarapan dan makan siang, serta antara makan siang dan malam. Tak lupa menyertai makanan tinggi serat dengan tinggi asupan air.
  • Membiasakan pemberian serat pada anak dapat dimulai bertahap, misal berikan 1 porsi buah atau sayur per hari, kemudian ditingkatkan bertahap pada hari-hari berikutnya. Peningkatan secara bertahap ini dapat lebih diterima anak dibandingkan pemberian serat secara tiba-tiba dengan target porsi yang banyak.
  • Sebaiknya waktu makan tidak lebih dari 30 menit. Bila anak menunjukkan tanda-tanda tidak mau makan, tawarkan kembali makanan tanpa memaksa atau membujuk. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, akhiri proses makan.
  • Semangati anak agar makan sendiri.
  • Beri dorongan dan pujian setiap kali anak berhasil makan makanan sehat.
  • Libatkan anggota keluarga lain dan guru di sekolah untuk mendukung anak memilih makanan sehat.

Mari dorong anak-anak agar makan buah dan sayur sehingga kebutuhan serat dapat terpenuhi!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  1. Dietary fiber and digestive health in children
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia
  3. American Academy of Pediatrics

Cara Belajar Si Kecil Tipe Visual, Auditori, atau Kinestetik?

 

 

 

 

oleh dr. Grace Hananta, C.Ht

Dokter Umum

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Kira-kira Ayah dan Ibu sudah kenal belum tipe belajar si kecil? Semoga sudah ya. Tetapi bila belum, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu untuk lebih memahami cara belajar yang sesuai dengan si kecil. Dengan begitu, ia dapat belajar dengan lebih nyaman dan menstimulasi mereka untuk menjadi lebih berkembang.

 

Kesulitan belajar pada si kecil terkadang membuat orang tua merasa putus asa, terlebih bila ia disebut “bodoh” oleh sekitarnya. Ayah dan Ibu, ternyata masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika, menurut National Institute of Health (NIH), diperkirakan terdapat kasus kesulitan belajar sebanyak 15 – 20 persen total penduduk dan sekitar 4 persennya adalah populasi anak.

 

Perlu diketahui bahwa setiap anak memiliki cara belajarnya tersendiri. Misalnya, sebagian anak lebih memilih untuk belajar berkelompok dibanding sendirian karena ia lebih mudah menerima dan memproses informasi bila dilakukan pengulangan bersama-sama. Sebagian lain ada juga yang lebih memilih cara lain seperti melihat (visualisasi), mendengar, atau mengerjakan langsung dalam kehidupan sehari-hari agar lebih mudah memahami apa yang dipelajarinya. Untuk itu, orang tua harus terlebih dahulu memahami bagaimana tipe belajar si kecil sehingga mereka dapat lebih mengalami proses belajar yang nyaman dan menyenangkan.

 

Tipe-tipe Belajar

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menyimpulkan bahwa 20-30% anak usia sekolah mengingat lebih kuat dengan cara mendengar, 40% mengingat kembali secara visual (menulis ulang, menggambarkan dalam pikiran apa yang dilihat/baca, menggunakan jari, dsb), dan sisanya kesulitan bila tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari hal itu, tipe belajar seseorang dibagi menjadi tiga:

  1. Tipe Visual

Anak lebih optimal menyerap informasi bila dibaca atau dilihatnya. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu:

  • Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran.
  • Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar.
  • Mudah mengingat gambar, bentuk, warna, huruf angka.
  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya.
  • Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat.
  • Mencoret-coret tanpa arti selama belajar atau hal lainnya.
  • Lebih mudah mempraktekan apa yang pernah dilihatnya.
  • Menyukai seni gambar.
  • Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata yang tepat.
  • Biasanya tidak terganggu dengan keributan.
  • Lebih menyukai buku bergambar, foto, dan video.

2. Tipe Auditori

Anak lebih optimal menyerap informasi melalui apa yang didengarnya. Misalnya dalam bentuk musik, irama, dialog internal, atau suara lainnya. Anak yang dominan auditori memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Suka berbicara kepada diri sendiri saat belajar.
  • Perhatiannya mudah terpecah dan mudah terganggu oleh keributan.
  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca.
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.
  • Lebih suka meneruskan informasi secara lisan.
  • Berbicara dalam irama yang terpola.
  • Lebih suka musik daripada seni gambar.
  • Mudah mengingat lagu atau cerita.
  • Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar.
  • Mempunyai keterbatasan dengan pelajaran yang melibatkan visualisasi.
  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.

3. Tipe Kinestetik

Anak lebih optimal menyerap informasi melalui gerak, emosi, dan sentuhan. Misalnya bila dicontohkan terlebih dahulu atau dengan membayangkan orang lain melakukan hal yang dipelajarinya. Ciri-ciri anak dengan tipe belajar kinestetik meliputi:

  • Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat berbicara.
  • Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang lain.
  • Suka menggerakan anggota tubuh saat membaca, mendengarkan atau bicara (kaki, jari tangan).
  • Ingin selalu mempraktekkan hal sedang diajarkan.
  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
  • Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.
  • Banyak menggunakan isyarat tubuh.
  • Tidak dapat diam untuk waktu yang lama.
  • Menyukai permainan yang menyibukkan.

Namun demikian, memungkinkan juga bila anak memiliki tipe campuran dari tiga tipe belajar diatas, misalnya Auditori-visual atau Visual-kinestetik atau ketiga-tiganya walau biasanya satu tipe belajar lebih mendominasi.

 

Strategi Belajar Tiap Tipe

Lantas, strategi belajar seperti apa yang dapat membantu masing-masing tipe?

1. Tipe Visual

Bagi anak-anak tipe visual akan lebih mudah belajar dengan media diagram, charts, gambar, film/video, dan perintah tertulis. Sehingga arahkanlah untuk membuat to-do list dan catatan tertulis atau bergambar.

 

2. Tipe Auditori

Bagi anak-anak tipe auditori akan lebih mudah belajar dengan mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh pengajarnya. Dengan variasi nada bicara dan bahasa tubuh akan membuat si kecil tetap tertarik dan perhatian terhadap materi yang diajarkan. Pada tipe ini, anak akan lebih menyerap pelajaran/ informasi dengan cara mendengarkan dan mengulang kembali pelajaran dengan bercerita tentang pelajarannya.

 

3. Tipe Kinestetik

Kebanyakan dari sekolah menggunakan cara belajar kinestetik: sentuhan, perasaan, pengalaman langsung tersentuh oleh tangan. Anak – anak dengan tipe ini sangat mudah belajar dengan aktifitas belajar yang aktif. Misalnya lab sains, presentasi drama, field trip, menari, dan aktivitas aktif lainnya.

Ayah dan Ibu, yuk kita mulai perhatikan dan kenali cara belajar si kecil. Berikanlah dukungan yang terbaik agar mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat dan menggapai setiap potensi terbaik yang mereka bisa.

 

 

Sumber:

Farwell T. “Is your kid a visual, auditory or kinestetic learner?” https://www.familyeducation.com/school/multiple-intelligences/learning-styles-visual-auditory-kinesthetic

 

Hand, foot, and mouth disease/ flu Singapura

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Keluarga Kejora..

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar istilah “flu Singapura, kan? Sebenarnya seperti apa sih “flu Singapura” itu dan bagaimana ciri-cirinya?

 

Apa sih penyebab flu Singapura?

Flu Singapura, dengan nama lain hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan, kaki, dan mulut, umumnya disebabkan oleh Coxsackievirus tipe A16 dan Human Enterovirus 71.

 

Bagaimana penyebaran flu Singapura?

Penyebaran flu Singapura atau HFMD di lingkungan sekolah dapat terjadi di dalam ruang kelas. Infeksi tidak hanya dapat dialami oleh siswa, namun juga guru atau orangtua.

Penyebaran virus HFMD dari penderita dapat terjadi melalui cairan hidung (ingus), tenggorokan (ludah atau dahak), lesi kulit yang pecah, dan feses. Peningkatan kemungkinan penyebaran virus dapat terjadi akibat beberapa hal seperti kontak erat dengan penderita (berbicara, memeluk, mencium), terpapar melalui udara (bersin atau batuk), kontak dengan feses penderita, dan kontak dengan objek atau permukaan yang tercemar oleh virus HFMD (gagang pintu, permukaan meja, perabotan, dll).

Virus sangat mudah ditularkan oleh penderita HFMD di minggu pertama gejala muncul atau sakit. Terkadang virus masih dapat ditularkan setelah beberapa hari atau minggu, bahkan setelah gejala dan tanda infeksi pada penderita telah hilang.

 

Bagaimana tanda dan gejalanya?

  • Umumnya menyerang anak-anak.
  • Periode inkubasi sekitar 3-10 hari.
  • Diawali dengan demam, tidak enak badan, nyeri tenggorokan/menelan, nafsu makan menurun.
  • Setelah demam 1-2 hari, timbul bintik-bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut dan dapat menyebar ke area lidah) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian timbul ruam kulit dan bintik-bintik dengan batas kemerahan di telapak tangan dan kaki dalam 1-2 hari.

  • Ruam juga dapat muncul di tungkai, lengan, bokong, dan kulit sekitar kemaluan.

 

Bagaimakah cara mengobatinya?

  • Fase penyembuhan umumnya terjadi dalam 10 hari.
  • Tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD, pengobatan bersifat simptomatik untuk mengatasi keluhan yang ditimbulkannya. Parasetamol dapat diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri.
  • Kompres hangat dan pemberian minum yang lebih sering juga membantu menurunkan demam anak. Pada anak yang lebih besar, kumur-kumur dengan obat kumur dapat mengurangi nyeri akibat luka-luka di mulut.

 

Sumber:

  • Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry, 4thed. Mosby Elsevier; 2013.
  • Greenberg MS, Glick M. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment, 10th ed.  BC Decker Inc; 2003.

Makanan Beku Sehat Ngga Sih?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Makanan beku (Frozen food)

Seringkali kita lebih memilih untuk menggunakan makanan beku dalam mempersiapkan makanan untuk keluarga, apalagi di musim liburan pasca lebaran seperti ini. Makanan beku memang menjadi pilihan karena dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama jika disimpan dalam freezer dan dalam persiapan untuk dihidangkan juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Seringkali, makanan beku membantu untuk berhemat karena dengan menyimpan bentuk beku dari bahan makanan yang dibeli dalam jumlah banyak, kita seringkali mendapatkan harga yang lebih murah. Selain itu, makanan beku juga memudahkan kita untuk menyimpan makanan yang tidak habis dimakan sehingga mengurangi jumlah makanan yang terbuang.

Apakah makanan beku sehat?

Membekukan makanan tidak menentukan makanan tersebut sehat atau tidak sehat. Hal ini tergantung dari kandungan nutrisi makanan yang akan dibekukan. Membekukan buah dan sayuran akan lebih sehat dibandingkan membekukan pizza, snack dan makanan lain yang kurang sehat. Jika makanan yang akan dibekukan bergizi, akan tetap bergizi setelah dibekukan.

Apakah membekukan makanan mengubah kandungan gizi?

Membekukan makanan tidak mempengaruhi kalori, serat dan jumlah mineral. Namun, dapat mengubah beberapa vitamin, seperti folat dan vitamin C. Tapi secara umum, kandungan gizi  dapat dipertahankan selama proses pembekuan.

Membekukan makanan juga tidak memengaruhi kandungan lemak, protein, karbohidrat ataupun gula. Kandungan air dapat berubah karena proses “thawing(makanan beku dibiarkan dalam suhu ruangan hingga bagian beku mencair) makanan. Jika hanya air yang berkurang karena proses thawing, maka kalori dalam makanan tidak akan berpengaruh, tapi akan merubah ukuran porsi makanan tersebut.

Bagaimana memilih makanan beku yang sehat?

Jika membeli makanan beku, pilihlah produk yang tidak terlalu tinggi pemberian tambahan gula, natrium, atau saus tinggi kalorinya. Pilihlah sayuran beku tanpa penambah rasa (plain), hindari memilih sayur dengan perasa/ekstra saus. Begitu juga dengan buah, pilihlah buah beku tanpa tambahan gula atau sirup.

Memilih makanan beku berupa makananutama atau snack harus lebihdiperhatikan. Seringkali, makanan beku tersebut tinggi lemak jenuh, natrium, gula dan kalori. Bandingkan label nutrisi dari setiap makanan beku yang ingin dibeli dan pilihlah yang lebih “sehat” dibandingkan yang lain. Membeli makanan beku seperti pizza, snack rolls, sandwich, burrito, fried chicken sebaiknya dihindari.

Pilihlah daging, ikan, seafood, dan ayam beku tanpa tambahan bahan makanan lain atau tanpa perasa. Hindari makanan beku seperti ayam tepung, fish stick, corn dog dan makanan lain yang menggunakan tambahan tepung atau perasa.

Tips membekukan makanan di rumah

Hampir semua makanan yang dibeli dan dimasak dapat dibekukan. Namun, trerdapat beberapa makanan yang tidak dapat dibekukan seperti telur mentah bercangkang, mayonais, salad dressing, saus creamy dan makanan yang mengandung instruksi untuk tidak dibekukan.

Buah sebaiknya tanpa kulit, dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam plastik/freezer bag kecil dalam porsi per kali makan. Buah beku ini dapat digunakan untuk smoothies atau makanan lain yang menggunakan buah dalam resepnya.

Sayur dapat dibekukan namun membutuhkan perhatian lebih. Sayuran sebaiknya di-blanching sebelum dimasukan ke dalam plastik/freezer bag. Untuk mem-blanching/blansir sayuran adalah dengan merebus sayuran hingga mendidih selama beberapa menit dan langsung dicelupkan kedalam air es untuk menghentikan proses pematangan, karena dalam keadaan panas, proses pematangan sayur masih tetap berlangsung, sehingga sayuran dapat berubah warna menjadi coklat. Namun jika dicelup ke dalam air es, proses pematangan berhenti dan tekstur dan kesegaran dapat dipertahankan.

Daging, ayam dan ikan mentah dapat dibungkus alumunium foil, plastik tebal atau plastik makanan khusus freezer dan disimpan pada wadah makanan yang akan dibekukan. Makanan sisa atau makanan sudah siap santap yang memang akan dibekukan juga sebaiknya dibekukan dalam wadah untuk menghindari kontaminasi makanan.

Tips untuk thawing dan menyiapkan makanan beku

Sayuran beku biasanya tidak perlu di thawing sebelum dimasak. Sayuran beku dapat langsung direbus, kukus atau dimasukkan dalam microwave. Buah dan berries sebaiknya didiamkan dalam suhu ruangan sebentar saja sebelum digunakan, namun jangan sampai thawing sempurna, karena akan menjadi mushy (tekstur buah membubur).

Daging beku membutuhkan thawing sebelum dimasak, karena tanpa proses thawing, daging dapat menjadi terlalu matang di bagian luar dan masih mentah di bagian tengah. Cara melakukan thawing daging adalah dengan meletakkan daging (dalam kemasan plastik) di dalam kulkas (chiller) atau air dingin. Jangan diletakkan pada suhu ruangan dalam waktu yang terlalu lama karena dapat menumbuhkan bakteri dalam daging jika dibiarkan selama lebih 1 jam.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Waspada Infeksi Monkeypox

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Halo Ayah dan Ibu Kejora..

Akhir – akhir ini banyak pemberitaan mengenai waspada Monkeypox, karena di bandara Singapura telah ditemukan 1 orang dikarantina karena mengalami Monkeypox. Berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut, sebenarnya Apa itu Monkeypox, Apa gejalanya dan bagaimana penanganannya? Berikut akan kita bahas bersama.

Apa sih penyakit monkeypox atau cacar monyet?

Monkeypox adalah penyakit karena virus yang langka, terutama ditemukan di Afrika Tengah dan Barat. Virus dan gejala penyakit monkeypox ini mirip dengan smallpox atau cacar api yang sudah dieradikasi di tahun 1980.

Bagaimana cara penularannya?

Virus penyebab monkeypox ini adalah virus zoonosis, yaitu ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang bisa menularkan biasanya monyet dan binatang pengerat. Penularan bisa terjadi jika manusia berkontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging hewan yang terkontaminasi tanpa dimasak dengan matang juga berisiko menyebakan penularan.

Penularan antar manusa sangat jarang terjadi. Penularan terjadi melalui cairan tubuh seperti dahak dan ingus, lesi kulit dan benda yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita dalam jangka waktu lama.

Apa sih Gejalanya?

Gejala monkeypox mirip dengan infeksi virus pada umumnya. Infeksi monkeypox dibagi menjadi 2 periode:

  1. Periode infasi (0-5 hari) demam, sakit kepala berat, pembesaran kelenjar getah bening, pegal dan badan terasa sangat lemas.
  2. Periode lesi kulit (1-3 hari dari demam) muncul lesi mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian menjadi krusta/keropeng. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang. Seluruh area kulit bisa terkena, termasuk mukosa mulut, kelamin dan mata.

Monkeypox biasanya dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu. Namun dapat terjadi komplikasi, terutama pada anak atau pasien dengan gangguan daya tahan tubuh.

Bagaimana penanganannya?

Sampai saat ini belum ada obat atau vaksinasi yang spesifik untuk monkeypox. Vaksin chickenpox 85% efektif dalam mencegah monkeypox, namun saat ini vaksin tersebut sudah tidak diproduksi luas.

Bagaimana cara pencegahan agar tidak terinfeksi Monkeypox?

  • Mengurangi risiko transmisi hewan ke manusia pada daerah endemis:
    • Menghindari kontak dengan hewan liar terutama monyet, primata dan hewan pengerat.
    • Memasak daging hewan sampai matang sebelum dikonsumsi
    • Menggunakan sarung tangan dan proteksi tubuh saat kontak dengan hewan yang sakit
  • Mengurangi risiko transmisi manusa ke manusia:
    • Tidak kontak dengan pasien yang terinfeksi monkeypox dan cairan tubuhnya.
    • Memakai sarung tangan ketika merawat pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Cuci tangan setiap berkontak dengan pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Apabila curiga anggota keluarga menderita monkeypox segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa dan diisolasi bila perlu.

Sumber: