Manfaat Pemeriksaan USG pada Kehamilan

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obsetri Ginekolog

Halo Keluarga Kejora! Salam sehat dan sejahtera.. Kali ini, kita akan membahas mengenai manfaat pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang biasanya dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan yaa…

Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) adalah salah satu komponen penting dari pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan USG dilakukan oleh dokter yang kompeten, biasanya dokter spesialis kandungan, dengan menggunakan mesin USG untuk menilai kondisi kehamilan.

Apa yang dilakukan pada saat pemeriksaan USG?

Terdapat dua jenis pemeriksaan USG, yaitu transabdominal (dari perut), dan transvaginal (dari vagina).

  • Transabdominal: pemeriksaan ini yang umum dilakukan. Ibu akan berada dalam kondisi berbaring terlentang dan dokter akan menggunakan probe transabdomen untuk pemeriksaan.
  • Transvaginal: pemeriksaan ini biasanya memiliki indikasi khusus, seperti evaluasi kondisi kehamilan muda, menilai apakah terdapat kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi di lokasi di luar rahim), menilai plasenta bila dicurigai plasenta previa (lokasi plasenta berada di bawah dekat mulut rahim) pada pemeriksaan transabdomen, dan menilai panjang leher rahim (serviks). Ibu berada dalam posisi litotomi (telentang) dan dokter akan menggunakan probe (alat) transvagina yang dimasukkan ke dalam vagina ibu.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan USG dilakukan minimal 3 kali selama kehamilan, dan masing-masing pemeriksaan tersebut memiliki tujuan masing-masing. Waktu minimal untuk melakukan pemeriksaan tersebut adalah:

  1. 1 kali saat trimester 1 (10-13 minggu): menilai letak kehamilan di dalam atau luar kandungan, menilai kantong kehamilan, ukuran janin, viabilitas janin, dan kelainan lain pada kandungan. USG trimester 1 ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan karena akurasinya paling tinggi, dengan variasi hanya 3-5 hari.
  2. 1 kali saat trimester 2 (18-22 minggu): menilai apakah terdapat kelainan organ pada janin (skrining kelainan kongenital)
  3. 1 kali saat trimester 3 (28-32 minggu): menilai kondisi janin, plasenta, ketuban

Nah, dari hasil pemeriksaan USG standar biasanya akan diketahui jumlah dan letak janin, taksiran berat janin, posisi plasenta, kondisi ketuban, usia kehamilan, dan tanggal taksiran persalinan.

Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG tambahan, seperti:

  • Penilaian ulang plasenta pada saat usia kandungan 28 minggu, 32 minggu, dan 36 minggu bila terdapat plasenta previa
  • Penilaian indeks cairan ketuban dan arus darah tali pusat pada kehamilan postterm (lewat waktu)
  • Penilaian kesejahteraan janin pada kondisi seperti hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, dan diabetes
  • Pemantauan berkala pada kehamilan kembar
  • Penilaian khusus pada janin seperti penilaian kondisi janin (fetal echocardiography) atau detailed scan bila dicurigai adanya kelainan kongenital. Biasanya pemeriksaan USG khusus ini dilakukan oleh SpOG khusus yang mendalami USG atau konsultan fetomaternal.

Apakah pemeriksaan USG aman, dan apa bahayanya bila sering USG?

Pemeriksaan USG menggunakan gelombang suara untuk menilai kondisi bayi dan kehamilan. Karena menggunakan gelombang suara, maka USG aman dilakukan pada kehamilan (bukan menggunakan sinar radiasi / ionizing radiation seperti pada pemeriksaan rontgen atau CT scan). Saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa USG berbahaya bagi janin (cacat/kelainan janin, gangguan pertumbuhan janin, dll).

Mesin USG juga dibekali dengan biosafety profile, yaitu mechanical index (MI) dan thermal index (TI). Apabila MI dan TI dalam batas normal maka pemeriksaan dengan alat tersebut aman digunakan.

Apakah perlu rutin dilakukan USG 4 Dimensi (4D)?

USG 4D memiliki indikasi tertentu, yaitu menilai apakah ada kelainan pada permukaan tubuh bayi seperti kelainan pada wajah, kelainan pada rangka dan tengkorak. USG 4D tidak dapat menilai kondisi di dalam tubuh bayi. Oleh sebab itu USG 4D tidak perlu rutin dikerjakan.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber:
American College of Obstetrician and Gynecologists. FAQ – Ultrasound Exams.
Royal College of Obstetrician and Gynecologists. Antenatal Care.

Cara Membersihkan Telinga

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar istilah serumen/earwax? Apakah sama dengan congek? Bagaimana cara membersihkannya ya? Simak penjelasan berikut, ya!

Serumen atau earwax merupakan kotoran yang dihasilkan oleh telinga, terdiri dari produksi kelenjar serumen, kelenjar minyak, kelenjar lemak, sel kulit mati dan sisa rambut. Kotoran telinga pada setiap individu bermacam-macam jenisnya, yaitu basah, keras, lengket, berkerak, dan kering. Perbedaan terjadi karena setiap orang memiliki jumlah kelenjar-kelenjar, sel kulit mati dan sisa rambut yang berbeda-beda.

Gambar 1. Serumen atau earwax (Sumber: Medlineplus)

Serumen/earwax berbeda dengan congek. Congek merupakan cairan infeksi yg dihasilkan karena adanya suatu proses infeksi di telinga tengah. Umumnya berwarna keputihan seperti nanah. Nah, apabila ada cairan seperti ini, Ayah dan Ibu harus segera konsultasi ke dokter untuk dibersihkan dan diobati.
Sebenarnya serumen/earwax memiliki beberapa fungsi tersendiri yang sangat penting dalam menjaga kesehatan telinga. Fungsi serumen antara lain:

  • Melindungi telinga dari kuman dan jamur
  • Menjaga agar kulit liang telinga tidak kering
  • Mengusir serangga yang masuk ke telinga
  • Mengeluarkan sisa rambut dan sel kulit mati dari liang telinga

Telinga sudah memiliki mekanisme untuk membersihkan diri. Serumen/earwax yang sudah dihasilkan akan perlahan-lahan bergerak keluar dibantu oleh pergerakan otot-otot di sekitar telinga saat rahang kita bergerak ketika mengunyah atau berbicara.

Jadi, telinga perlu dibersihkan tidak, ya?

Telinga hanya perlu dibersihkan di bagian daun telinga dan bagian luar liang telinga saja. Tidak perlu dibersihkan ke dalam liang telinga. Daun telinga dapat dibersihkan dengan menggunakan kain/ lap/ tissue basah yang diusap ke bagian daun telinga dan bagian belakang telinga.

Membersihkan telinga dengan mengorek telinga tidak dianjurkan karena memiliki beberapa dampak. Ayah dan Ibu perlu tahu apa saja dampak negatif yang dapat terjadi bila kita mengorek telinga, yaitu:

  1. Kotoran telinga menjadi menumpuk
  2. Gangguan pendengaran
  3. Infeksi liang telinga
  4. Telinga berdenging/ berdengung
  5. Gendang telinga pecah

Gambar 2. Bagian luar liang telinga yang ditekan (lihat anak panah, sumber: Livescience.com)

Sekarang Ayah dan Ibu sudah tahu ya bagaimana cara membersihkan telinga. Untuk mengetahui keadaan telinga, Ayah dan Ibu dianjurkan untuk membawa anaknya ke dokter THT setiap 6 bulan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

1. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
2. F. Beatrice, S. Bucolo, r. cavallo. Earwax, clinical practice. Acta Otorhinolaryngologica Italica 2009;29(SuPPL. 1):1-20

Sudah Lengkapkah Kotak P3K Anda?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Sahabat Kejora!

Dalam kesempatan kali ini, Kejora ingin berbagi informasi dan mengingatkan Ayah dan Ibu tentang pentingnya kotak P3K. Kotak P3K adalah kotak yang berisi obat-obatan atau perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan pertolongan pertama dalam mengatasi kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan.

Isi kotak P3K di rumah, di mobil, atau yang dibawa bepergian tidaklah sama. Isinya sebaiknya disesuaikan dengan kemungkinan kecelakaan atau kondisi yang dapat terjadi dan siapa yang akan memerlukan pertolongan. Misalnya, isi kotak P3K di rumah sebuah keluarga dengan anak balita tentu berbeda dengan isi kotak P3K di rumah keluarga yang hanya berisi orang dewasa.

Secara umum, kotak P3K sebaiknya berisi perlengkapan penanganan luka sederhana dan obat-obatan yang mungkin dibutuhkan. Isi kotak P3K di rumah sebaiknya berisi:

  • perlengkapan penanganan luka (plester, perban, gunting, pinset, cairan antiseptik)
  • termometer
  • obat-obatan (seperti, paracetamol/obat penurun demam lainnya, antihistamine untuk mengatasi alergi, oralit sebagai pertolongan pertama diare, antasida)
  • krim untuk mengatasi luka bakar atau sunburn
  • lotion untuk mengurangi gatal akibat gigitan nyamuk atau serangga lainnya
  • cairan cuci mata (eye water)

Obat-obatan yang diletakkan dalam kotak P3K hendaknya sediaanya disesuaikan dengan usia penghuni rumah. Misalnya, sediakan paracetamol yang drops jika ada bayi di rumah dan syrup dengan dosis yang sesuai jika anak sudah berusia lebih besar.

Kotak P3K di mobil biasanya hanya berisi perlengkapan untuk menangani luka atau kecelakaan. Obat-obatan hendaknya dimasukkan ke dalam kotak P3K yang disiapkan untuk bepergian, baik bepergian ke luar kota atau saat beraktivitas sehari-hari di luar rumah. Obat-obatan yang perlu dibawa mencakup obat penurun demam, antihistamine, oralit, dan obat-obatan khusus yang perlu dikonsumsi secara rutin.

Jadi, sudah lengkapkah isi kotak P3K Anda?

Referensi:

https://www.nhs.uk/common-health-questions/accidents-first-aid-and-treatments/what-should-i-keep-in-my-first-aid-kit/
https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/travelers-firstaid-kit

Probiotik untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Probiotik atau seringkali dikenal sebagai bakteri “baik” adalah mikroorganisme hidup yang jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat akan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan. Probiotik secara alamiah terdapat dalam jenis makanan tertentu seperti berbagai produk susu fermentasi seperti yogurt, kefir, aneka minuman probiotik (contoh: Yakult); sayuran hasil fermentasi seperti acar dan kimchi, dll. Selain itu, probiotik juga terdapat dalam bentuk suplemen berupa pil atau serbuk.

Apakah probiotik harus diberikan dalam asupan makan harian untuk anak?

Memberikan probiotik pada anak memang tidak terbukti membahayakan kesehatan anak, namun tidak terlalu bermanfaat untuk anak dengan kondisi kesehatan yang baik. Probiotik akan bermanfaat pada anak-anak dengan kondisi tertentu, misalnya:

  • Probiotik dapat mencegah infeksi patogen (bakteri yang merugikan kita) yang menyebabkan diare. Salah satu penelitian yang melibatkan bayi usia 4-10 bulan pada tahun 2005 mendapatkan hasil bahwa bayi yang diberikan probiotik selama 12 minggu memiliki durasi diare yang lebih singkat dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi probiotik.
  • Probiotik pada bayi usia 3 bulan pertama dapat mencegah kolik, konstipasi dan refluks.
  • Probiotik lebih baik dari plasebo dalam menurunkan kejadian dan durasi infeksi saluran napas atas. Pada penelitian tahun 2015, penggunaan antibiotik dan absensi dari sekolah juga berkurang pada anak-anak yang mendapatkan probiotik
  • Penelitian lain menunjukkan bahwa probiotik yang diberikan pada ibu hamil dan menyusui dapat menurunkan kejadian eksim dan alergi pada bayinya.

Namun pemberian probiotik juga memiliki risiko infeksi pada anak dengan sistem imun yang kompromais, kanker ataupun bayi prematur. Selain itu, pemberian probiotik memiliki efek samping perut yang bergas dan kembung.

Probiotik alami vs suplemen?

Probiotik alami tentu saja disarankan untuk diberikan pada anak, misalnya dengan memberikan yogurt sebagai bagian dari asupan makan harian. Namun seringkali probiotik dalam makanan tidak bisa bertahan pada proses pembuatan dan penyimpanan sehingga anak tidak mendapatkan probiotik alami secara utuh. Begitu juga pemberian probiotik suplemen. Tidak semua produk mengandung bakteri dalam bentuk dan jumlah yang dibutuhkan oleh anak.

Untuk pemberian probiotik yang sesuai, beberapa pertanyaan ini dapat anda tanyakan ke dokter mengenai pemberian suplementasi probiotik untuk anak:

  • Apa manfaat probiotik untuk anak anda?
  • Berapa lama probiotik diberikan untuk dapat memberikan manfaat ?
  • Jika tidak melihat manfaat pada anak, apakah boleh dihentikan?
  • Berapa dosis yang dibutuhkan anak?
  • Merk yang direkomendasikan?

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Osteosarkoma: Kanker Tulang pada Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Beberapa saat yang lalu cukup banyak beredar berita orang-orang terkenal yang didiagnosis dengan berbagai macam jenis kanker, bahkan anak kecil sekalipun. Apakah kanker benar bisa mengenai semua umur dan dapat diketahui sedari dini? Jenis kanker seperti apa ya yang juga sering mengenai anak-anak selain kanker darah yang ramai dibicarakan? Mari kita simak ulasannya ya, Ayah dan Ibu.

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora, disaat sel tubuh tumbuh diluar batas normal, sel tersebut dapat berkembang menjadi sebuah benjolan atau tumor. Tumor sendiri dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas yang lebih sering kita kenal sebagai kanker. Sayangnya, kanker tidak mengenal batasan usia dan dapat menyerang sang buah hati. Osteosarkoma adalah kanker tulang yang paling sering ditemui pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Tidak jarang kanker ini mengenai kelompok usia anak-anak, terutama usia remaja, dikarenakan kanker ini muncul ketika masa pesat pertumbuhan. Osteosarkoma juga lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding perempuan.

Selain faktor resiko tersebut, ada beberapa faktor lainnya yang dapat menyebabkan peningkatan resiko munculnya kanker ini seperti adanya penyakit genetik, sindroma genetik, mutasi genetik, paparan radiasi, dll. Perlu diketahui bahwa kejadian patah tulang yang tidak diobati bukanlah penyebab timbulnya tumor ini. Akan tetapi, kasus patah tulang dapat membuat penyakit osteosarkoma terdeteksi secara kebetulan, yaitu pada saat dilakukan pemeriksaan lengkap oleh dokter.

Apa saja gejala osteosarkoma?

Awal gejala dari penyakit ini adalah rasa nyeri pada area yang terkena. Nyeri ini dirasa dalam di tulang, lebih berat di malam hari hingga menyebabkan anak terbangun dari tidurnya, atau pada saat berolahraga hingga membatasi aktivitas. Kemudian gejala tersebut diikuti dengan munculnya benjolan keras pada salah satu bagian anggota tubuh. Benjolan ini membesar dengan sangat cepat dalam hitungan mingguan. Anggota tubuh yang paling sering terkena adalah sekitar lutut dan lengan atas hingga bahu.

Gejala penyertanyanya termasuk anak menjadi lebih lemah, malas/ tidak nafsu makan, tidak aktif, pucat, bahkan semakin kurus. Jika kanker sudah menyebar (metastasis), area penyebaran utamanya adalah paru-paru, sehingga sang anak bisa merasa sesak nafas. Walaupun anggota tubuh tampak membesar, namun kondisi tulang menjadi lebih lemah, sehingga sangat rentan untuk patah.

Mendeteksi osteosarkoma

Untuk mendiagnosa osteosarkoma, dokter akan mencatat riwayat benjolan tersebut dan penyakit lain yang diderita sang anak, memeriksa kondisi benjolan, dan akan dilakukan rontgen. Jika dari hasil rontgen dicurigai suatu keganasan, maka pemeriksaan lanjutan berupa laboratorium darah, MRI dengan kontras, dan biopsi (pengambilan sampel jaringan) dapat dilakukan untuk mengetahui jenis sel kanker yang ada. Semua hasil pemeriksaan tersebut sangatlah penting untuk menentukan jenis terapi yang dapat dilakukan kepada sang buah hati.

Deteksi dan diagnosis awal kanker tulang adalah penting, terutama untuk mencegah komplikasi penyakit menjadi stadium lanjut, penyebaran kanker, dan menentukan terapi. Semakin dini deteksinya, semakin tinggi tingkat keberhasilan terapinya. Akan tetapi, masalah kesehatan yang kompleks dan tingkat komplikasi penyakit yang cukup tinggi dari kanker ini membuat dokter tidak dapat terburu-buru dalam menatalaksana penyakit ini. Pemeriksaan menyeluruh, lengkap, perencanaan yang baik, dan kerjasama multidisiplin dengan spesialis lain juga diperlukan. Tingkat kesintasan dari penyakit ini jika terdeteksi dini dan diterapi bisa mencapai 60-80 persen.

Mengobati osteosarkoma

Penatalaksanaan dari osteosarkoma biasanya diawali dengan kemoterapi, lalu dilanjutkan dengan operasi pembedahan pembuangan tumor, dan diakhiri dengan kemoterapi kembali. Jenis operasi yang dapat dilakukan tergantung dari jenis dan stadium osteosarkoma ini, mulai dari pembuangan tumornya saja hingga amputasi. Walau mungkin terdengar menyeramkan, namun apa pun jenis terapi yang dipilih oleh dokter bertujuan untuk menyelamatkan nyawa sang buah hati.

Ayah dan Ibu Kejora, jangan menunda memeriksakan si buah hati bila tampak adanya benjolan yang tidak biasa. Dengan melakukan deteksi dini, kita dapat menyelamatkan sebuah kehidupan yang sangat berharga.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi

https://link.springer.com/article/10.1007/s40744-016-0046-y
https://www.cancer.org/cancer/osteosarcoma/about/what-is-osteosarcoma.html
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteosarcoma/symptoms-causes/syc-20351052

Peran DHA saat Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pasti sering mendengar tentang DHA. Apakah Ayah dan Ibu tahu apa itu DHA?

DHA atau docosahexaenoic acid merupakan asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (PUFA). PUFA berperan sebagai bagian dari komponen penyusun sel tubuh kita. PUFA juga menjaga sifat dan bentuk sel agar tetap fluid.   Di dalam tubuh kita, DHA ditemukan dalam jumlah relatif besar saat fase kehamilan dan bayi, di jaringan tubuh termasuk otak. Di dalam ASI juga ditemukan DHA untuk menyuplai kebutuhan DHA bagi bayi.

DHA memiliki banyak manfaat kesehatan, terutama bagi janin, bayi, dan anak.  Peran DHA selama kehamilan, yaitu berperan dalam perkembangan otak janin. DHA merupakan penyusun utama asam lemak di otak (sebesar 60% bagian dari otak terdiri dari lemak). Tak hanya selama kehamilan, DHA masih melanjutkan pembentukan otak bayi terutama dalam 2 tahun pertama kehidupan. Namun perlu diperhatikan bahwa tak hanya DHA, diperlukan juga stimulasi-stimulasi yang dapat membantu perkembangan otak bayi.

Selain itu, peran DHA selama kehamilan antara lain pembentukan sistem saraf dan sistem penglihatan (retina) janin. Dari hasil literatur ilmiah juga didapatkan bahwa DHA dapat mengurangi kejadian bayi lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Akan tetapi, peran DHA dalam mengurangi kejadian depresi ibu pasca melahirkan, hasilnya masih belum konklusif.

Omega-3 (mengandung DHA dan EPA) banyak ditemukan di seafood, khususnya fatty fish seperti salmon (>500 mg/150 g), kakap dan tuna (400–500 mg/150 g). Suplemen minyak ikan juga diketahui mengandung DHA dan EPA, namun pemberian suplemen (dosis tinggi) dibutuhkan konsultasi dokter terlebih dahulu.Kebutuhan omega-3 (DHA dan EPA) bagi bayi 0,5 g/hari, anak usia 1–9 tahun 0,7–0,9 g/hari, ibu hamil 1,4 g/hari, ibu menyusui 1,3 g/hari. Sebagai contoh, ibu hamil membutuhkan 3 porsi (masing-masing 150 gram) ikan tuna dalam sehari.  Jadi, jangan lupa cukupkan kebutuhan omega-3 ya Ayah dan Ibu!

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Jurnal Ann Nutr Metab
  2. European Journal of Nutrition
  3. Jurnal Pediatrics
  4. Heart Foundation
  5. Angka Kecukupan Gizi 2018

Dukungan Solid Perjalanan Menyusui Keluarga

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Menyusui merupakan salah satu tahapan penting dalam kehidupan seorang anak. Bagi ibu menyusui, hal ini dapat membantu dirinya dalam mengenal dan merawat bayi. Selain itu, dapat memberikan nutrisi dan kasih sayang terbaik sebagai fondasi kesehatan anak di masa depan.

Sama halnya seperti kehamilan, proses menyusui membutuhkan persiapan serta dukungan yang melibatkan berbagai elemen, seperti kedua orang tua, keluarga besar, tenaga kesehatan juga lingkungan.

Dukungan penuh bagi keluarga di setiap langkah menyusui, mulai dari kehamilan sampai akhir masa menyusui, seperti yang rekomendasi dari WHO melalui program 7 kontak laktasi plus, yakni :

    1. Pada usia kehamilan sekitar 28 minggu, diperkenalkan mekanisme dasar menyusui
    2. Pada usia kehamilan sekitar 36 minggu, sebaiknya dilakukan pemantapan materi dan diskusi tentang kesiapan keluarga
    3. Saat persalinan sebaiknya terjadi kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir atau biasa dikenal dengan Inisiasi Menyusu Dini
    4. Pada hari-hari awal setelah persalinan, untuk bimbingan posisi menyusui baik dalam keadaan tidur/duduk (disesuaikan dengan kondisi ibu). Hal ini dilakukan untuk membantu perlekatan mulut bayi pada payudara ibu dengan baik.
    5. Setelah 1 minggu pasca persalinan, identifikasi tantangan yang ditemui saat menyusui. Juga tidak lupa memberikan dukungan pada ibu dan suami untuk tetap menyusui buah hati
    6. Setelah 30 hari persalinan, lakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu.
    7. Lakukan pengecekan setelah 2 bulan persalinan, untuk melakukan pemantauan serta persiapan apabila ibu bersiap untuk bekerja.

             + Kontak berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan ibu dan suami terkait menyusui.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/program-pranatal-untuk-keberhasilan-menyusui

Materi Pelatihan Konseling Menyusui Modul 40 jam Kemenkes/WHO/UNICEF.

Mengenal Amandel pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini kita akan membahas tonsil palatina atau AMANDEL pada anak. Banyak pertanyaan seputar amandel yang disampaikan orangtua pada praktek dokter sehari-hari. Bahkan tidak jarang yang periksa ke dokter dengan keluhan sang buah hati “sakit amandel”, atau menanyakan apakah amandel anaknya yang besar perlu dioperasi. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai amandel pada anak.

Apa itu amandel?

Amandel atau tonsil palatina merupakan bagian dari kelenjar getah bening yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel terlihat seperti benda bulat yang menyerupai bakso di kanan dan kiri ujung belakang rongga mulut yang dapat dilihat bila anak membuka mulut lebar sambil menjulurkan lidahnya.

Bahayakah jika amandel anak besar?

Sistem kelenjar getah bening, termasuk amandel mengalami perkembangan pesat saat anak berusia 5-15 tahun. Pada usia tersebut ukuran normal amandel anak dapat mencapai dua kali ukuran dewasa sehingga orang tua tidak perlu kuatir jika ukuran amandel anak besar, asalkan tidak disertai gejala peradangan.

Apakah itu radang amandel?

Radang amandel atau yang dikenal dengan tonsilitis merupakan infeksi pada saluran napas bagian atas yang dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah amandel terlihat merah, nyeri dan bengkak sehingga tampak lebih membesar. Keluhan tersebut dapat disertai dengan demam, nyeri menelan, batuk, atau pun pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

Bagaimana penanganan radang amandel?

Radang amandel yang disebabkan akibat virus akan pulih dengan sendirinya. Hal yang perlu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Kejora adalah memastikan buah hati lebih banyak minum air putih untuk mengurangi nyeri pada tenggorokan dan mencegah dehidrasi. Berikan anak makanan bergizi yang bertekstur lembut, jika terdapat keluhan nyeri menelan dan pastikan anak beristirahat yang cukup untuk memulihkan sistem kekebalan tubuhnya. Jika radang amandel disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik. Pastikan anak minum antibiotik sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.

Apakah amandel yang besar perlu dioperasi?

Ukuran amandel yang besar pada anak bukan merupakan alasan untuk dioperasi. Penyebab amandel perlu dioperasi adalah adanya gangguan napas saat anak tidur yang disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Anak diduga mengalami OSAS, jika lebih dari 3 hari dalam seminggu tidurnya mendengkur, terdapat gejala henti napas saat tidur yang diikuti gelagapan seperti hendak terbangun, namun kemudian anak kembali tidur. Gejala lain yang bisa terjadi adalah sering mengantuk pada siang hari dan bahkan adanya gangguan prestasi belajar sekolah. Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis OSAS pada anak menggunakan polisomnografi (PSG).

Alasan kedua perlunya operasi adalah radang amandel dan tenggorokan (tonsilofaringitis) akibat kuman streptokokus yang terjadi hingga 7 kali atau lebih dalam 1 tahun terakhir, atau 5 kali per tahun dalam dua tahun berturut, atau 3 kali pertahun dalam 3 tahun berturut. Gejala radang amandel akibat kuman streptokokus, diantaranya adalah demam tinggi dengan nyeri tenggorokan yang berat, dan amandel terlihat sangat merah disertai bercak putih pada permukaannya sehingga anak memerlukan terapi antibiotik yang adekuat.

Jadi operasi amandel dilakukan hanya dengan indikasi yang sangat jelas. Apakah masih perlu kuatir dengan amandel sang buah hati? Semoga pembahasan ini bisa membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan amandel. Sampai bertemu pada topik ilmu kesehatan anak lainnya. 

 

Editor : Saka Winias

Sumber :

  1. Naning R, Triasih R, Setyati A. Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis Akut. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.289-95.
  2. Supriyatno B. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) pada anak. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.402-11.

Serba-Serbi Tas Sekolah Anak

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pastinya sudah tahu akan tingginya tuntutan kurikulum dan jam sekolah yang panjang saat ini telah menuntut anak sekolah untuk mempersenjatai diri dengan berbagai benda yang harus dibawa setiap hari di dalam tasnya. Seperti contohnya adalah buku-buku, pakaian olahraga, bekal makanan dan minuman, tugas-tugas ketrampilan, bahkan laptop atau tablet. Barang tersebut sudah menjadi hal umum yang ditemukan di dalam tas seorang anak sekolah.

Lantas, tas seperti apakah yang sebaiknya dipilih untuk anak? Ayah dan Ibu Kejora, mari kita simak ulasannya..

 

Seperti apakah kriteria tas yang baik?

Pemilihan tas ransel dengan dua tali bahu tentunya lebih baik ketimbang tas sandang/tas selempang. Karena pada tas sandang/tas selempang seluruh beban tas tersebut akan dipikul pada satu bahu saja, sedangkan pada tas ransel dengan dua tali bahu, beban akan didistribusikan secara lebih merata pada tulang belakang anak. Beberapa artikel kesehatan dan penelitian menunjukkan tas sekolah yang terlalu berat dapat menimbulkan risiko timbulnya berbagai keluhan medis pada tubuh pemikulnya terutama pada anak-anak. Bentuk keluhan yang terjadi dapat berupa kaku otot dan leher, kemiringan pada tulang belakang,1 maupun nyeri pada punggung (back pain).2

 

Berapakah berat tas yang diperbolehkan?

Belum ada batasan yang mutlak dan pasti mengenai standard berat tas yang diperbolehkan. Gabungan dari studi dan artikel-artikel yang ada selama ini menunjukkan variasi berat maksimal tas yang diperbolehkan berkisar antara 5-20% berat badan anak pada penggunaan tas ransel.3 Sementara pada penggunaan tas dengan satu tali berat yang diperbolehkan hanya setengahnya saja.1

 

Bagaimanakah cara memilih dan menggunakan tas yang baik?

Berikut adalah rekomendasi dari American Chiropractic Association mengenai pemilihan dan penggunaan tas ransel yang baik untuk anak dan dapat dianjurkan ke orang tua.4

  1. Bantulah anak untuk mengemas tasnya setiap hari, dan pastikan mereka tidak membawa beban lebih dari 5-10% berat badannya. Sebagai contoh apabila berat anak 20 kg, maka beban yang dibawa di dalam tas ransel mereka sebaiknya tidak melebihi 2 kg.
  2. Pilihlah ransel yang ukurannya sesuai. Ransel berukuran besar akan memungkinkan anak membawa beban yang lebih banyak dari yang ia mampu, dan ini memerlukan kehati-hatian dari orangtua.
  3. Panjang dan lebar ransel sebaiknya tidak melebihi batang tubuh (dada dan perut) anak dan tidak menggantung lebih dari 10 cm di bawah garis pinggang. Bila menggantung terlalu berat maka akan meningkatkan beban di pundak.
  4. Pilih ransel yang tali bahunya memiliki bantalan lebar di pundak dan dapat diatur panjang dan kekencangannya. Ransel yang menggantung dengan tidak pas dapat menyebabkan posisi tulang belakang menjadi tidak lurus dan menimbulkan rasa nyeri.
  5. Ransel dengan bantalan punggung akan lebih nyaman dipakai dan melindungi punggung anak dari benda-benda tajam seperti ujung pensil / pulpen, tepian buku dan penggaris.
  6. Gunakan tali pinggang yang ada pada ransel agar berat beban bisa didistribusikan secara merata tidak hanya ke bahu dan punggung tapi juga ke seluruh batang tubuh dan pinggul.
  7. Ransel dengan kompartemen khusus dapat membantu memposisikan benda-benda di dalamnya secara lebih efektif, pastikan benda yang berat dimasukkan ke dalam kompartemen yang paling dekat dengan tubuh.
  8. Bila mungkin, tanyakan kepada guru sekolah anak, apakah dapat meninggalkan buku atau benda yang cukup berat di sekolah saja, dan hanya membawa pulang benda-benda yang penting saja.
  9. Selalu ingatkan anak untuk menggunakan kedua tali bahu secara benar dan tanyakan pada anak secara berkala apakah ada rasa nyeri akibat membawa tas mereka. Dan bila ada nyeri yang terus berlangsung segera hubungi dokter untuk berkonsultasi.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

Referensi:

  1. Hong Y, Fong DT, Li JX. 4. The effect of school bag design and load on spinal posture during stair use by children [abstract]. Ergonomics. 2011 Dec;54(12):1207-13.
  2. Oviedo PR, Ravina AR, Rios MP, et all. School children’s backpacks, back pain and back pathologies. Archives of Diseases in Childhood. 2012;97:730-732.
  3. Dockrell S, Simms C, Blake C. Schoolbag weight limit: can it be defined?[Abstract]. Journal of School Health. 2013 May;83(5):368-77.
  4. American Chiropractic Association. Backpack Safety Tips. Diunduh dari https://www.acatoday.org/Patients/Health-Wellness-Information/Backpack-Safety

Pertolongan Pertama dan Manajemen Trauma pada Gigi Anak

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Kecelakaan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Kecelakaan dapat terjadi baik dalam skala kecil seperti terjatuh atau bisa juga berakibat fatal. Efek dari kecelakaan memiliki hal yang cukup serius, salah satunya terjadi pada gigi.

Trauma kecelakaan pada anak sering terjadi pada usia dini, seperti terjatuh saat anak belajar berjalan atau berlari. Hal ini karena kemampuan motorik pada usia tersebut masih sangat minim. Selain itu, memasuki usia pra sekolah anak juga seringkali mengalami trauma pada gigi seperti terdorong saat bermain dengan teman, bermain dengan benda keras dengan berbagai resiko lain. Namun, bukan hanya pada usia dini saja, pada usia 8-12 tahun kecenderungan gigi mengalami trauma karena terjatuh saat bermain sepeda, sepatu roda dan aktivitas lain dapat terjadi.

Beberapa aktivitas di atas dapat menimbulkan reaksi trauma pada gigi salah satunya adalah avulsi. ​Kondisi dimana gigi keluar dari tempatnya (soket/ruang gigi) karena trauma dikenal dengan avulsi​. ​Dimana pada kasus avulsi, gigi lepas secara utuh akibat adanya benturan​. Gigi avulsi terjadi pada 1% – 16% kejadian trauma pada gigi permanen anak. Bila hal ini terjadi pada gigi susu maka gigi tersebut tidak dapat dipasang kembali. Hal yang dapat dilakukan hanya observasi dan menunggu hingga gigi permanennya tumbuh, atau jika tidak mau terlihat ada gigi yang hilang maka dapat dipertimbangkan dibuatkan gigi buatan.

Bila hal ini terjadi pada gigi permanen maka yang dapat ayah ibu lakukan sebagai bentuk pertolongan pertama adalah

    1. Cari gigi yang lepas, kemudian cuci bersihkan. Usahakan untuk memegang bagian mahkota gigi bukan pada bagian akar gigi.
    2. Letakkan kembali pada gusi dimana gigi tersebut seharusnya berada, namun bila orang tua ragu segeralah ke dokter gigi. Gigi dapat direndam dalam wadah berisi susu (susu cair apapun) atau air liur.

Waktu yang paling baik untuk memasukkan gigi kembali ke gusinya adalah sesegera mungkin, namun periode waktu terbaiknya (golden period) adalah 60 menit pasca kejadian.

Selain posisi gigi yang terlepas dari soket, salah satu masalah yang dapat terjadi pada gigi anak saat trauma yakni fraktur gigi atau gigi patah. Fraktur dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen. Bagian gigi yang hilang dapat terjadi pada enamel, dentin, pulpa gigi, serta bisa juga fraktur pada bagian akar.

Perawatan yang dapat dilakukan

Alternatif perawatan dapat dilakukan tergantung pada stabilitas dari gigi yang terpapar trauma.

    • Bila gigi masih kokoh dan tidak menimbulkan sakit, anda dapat melakukan observasi dan mengecek berkala kondisi gigi anak
    • Bila terjadi rasa sakit cek ke dokter gigi, kompres es apabila terjadi perdarahan pada gigi dan berikan obat pereda nyeri untuk meredakan sakit
    • Bila gigi goyang dan terjadi rasa sakit, segera cek ke dokter gigi untuk dilihat derajat kegoyangannya. Pada gigi susu jika kegoyangan cukup parah dapat dipertimbangkan pencabutan gigi. Pada gigi permanen dapat dilakukan stabilisasi (menahan gigi dengan bantuan alat sehingga tidak goyang lagi), namun ini juga dilihat derajat keparahannya.

Segera konsultasikan dengan dokter gigi terdekat bila hal-hal diatas terjadi ya, ayah dan ibu..

Editor : drg. Stella Lesmana, SpKGA

Sumber :

https://www.ada.org.au/Your-Dental-Health/Children-0-11/Dental-Trauma
https://www.dentalcare.com/en-us/professional-education/ce-courses/ce98/root-fracture
https://www.ncbi.nlm.nih.gov
Replantation of an Avulsed Maxillary Incisor after 12 Hours: Three-Year Follow-Up – NCBI