PENGUMUMAN PENTING BAGI PASIEN GIGI TERKAIT COVID-19

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Semakin menyebarluasnya virus Corona di negara kita akhir-akhir ini pasti menimbulkan keresahan baik bagi orang awam maupun tenaga kesehatan. Terkait dengan hal ini, ada beberapa himbauan yang dianjurkan, terutama bagi Anda maupun si buah hati yang memiliki jadwal ke dokter gigi. Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai himbauan tersebut, yuk kita belajar sedikit mengenai virus ini dan bagaimana gejalanya.

 

Apakah itu Coronavirus?

Coronavirus merupakan sekelompok besar virus yang beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan sebagian lainnya beredar di antara hewan-hewan tertentu. Sebenarnya coronavirus yang terdapat pada hewan jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia, kemudian menyebar lagi di antara manusia lainnya. Wabah Coronavirus sebelumnya termasuk sindrom SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome). COVID-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, SARS-CoV-2. Cara penularan virus ini masih dipelajari lebih lanjut, namun sejauh ini telah diketahui bahwa virus ini dapat ditularkan melalui droplet maupun kontak langsung dengan penderita.

 

Apa gejala COVID-19?

Gejala yang dijumpai mirip dengan penyakit flu, yaitu demam, batuk, radang tenggorokan, serta adanya sesak / kesulitan bernapas. Mayoritas penderita memiliki gejala ringan, namun beberapa penderita yang memiliki komplikasi medis maupun bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun dapat memiliki gejala yang lebih berat termasuk terjadinya pneumonia.

 

Bagaimana himbauan kunjungan ke dokter gigi terkait dengan wabah ini?

Dengan semakin mewabahnya virus ini di berbagai belahan dunia dan sebagai upaya mitigasi terhadap penyebarannya, maka Organisasi-organisasi Kedokteran Gigi di berbagai negara seperti ADA (American Dental Association)  maupun PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) sepakat untuk mengeluarkan himbauan bagi dokter gigi maupun pasien. Secara garis besarnya, himbauan ini berupa penundaan prosedur elektif dan tidak penting sehingga kunjungan hanya dibatasi pada tindakan kegawatdaruratan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir penularan COVID-19 di antara pasien dan petugas kesehatan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya keterbatasan APD (Alat Perlindungan Diri) bagi petugas kesehatan yang memerlukan. Tindakan kegawatdaruratan gigi yang dimaksud disini adalah:

  • Rasa sakit pada gigi yang parah dan tidak tertahankan.
  • Adanya pembengkakan pada gusi, wajah, maupun leher.
  • Perdarahan dalam rongga mulut yang tidak dapat dihentikan.
  • Trauma / kecelakaan yang melibatkan area rongga mulut.

Hal ini akan dilakukan selama 2-3 minggu kedepan sembari melihat perkembangan situasi lebih lanjut. Jadi, apabila Ayah dan Ibu Kejora maupun si buah hati memiliki jadwal kunjungan ke dokter gigi selain tindakan kegawatdaruratan di atas, harap ditunda dulu ya…

Mari kita bantu pemerintah kita untuk mengurangi penyebaran virus ini dengan mematuhi anjuran social distancingatau yang dikenal dengan gerakan #dirumahsaja supaya tidak menularkan maupun ketularan virus ini. Hal ini juga akan sangat membantu meringakan kami sebagai tenaga medis, lho..

 

We stay at clinic for you… You stay at home for us!!”

Editor   : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Sumber:

 

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.

 

 

Apa itu Lasik?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di bulan-bulan kemarin saya membahas tentang kelainan yang dapat terjadi pada mata, pada bulan Maret ini saya akan bahas tentang salah satu prosedur operasi mata yang paling popular di antara orang awam yaitu LASIK. Pasti ayah dan ibu akan bertanya-tanya, kapan sih dok anak saya boleh di LASIK ? Minimal ukuran kacamatanya berapa ya dok? Apakah sakit dok di LASIK? Berapa lama prosesnya? Setelah LASIK bisa balik lagikah dok pakai kacamata lagi? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sering ditanyakan oleh orang tua ataupun pasien sendiri. LASIK ini merupakan prosedur operasi paling popular di dunia, menurut American Academy Ophthalmology (AAO) dilakukan sekitar 700.000 prosedur LASIK setiap tahunnya di US karena hamper setengah dari populasi yang berusia 20 tahun ke atas di US menderita kelainan refraksi. Sementara di Indonesia sendiri kelainan refraksi menjadi penyebab kebutaan ketiga terbanyak setelah katarak dan Glaukoma. Yuk mari sedikit kita bahas tentang Apa itu LASIK?, Apa saja syarat untuk menjadi kandidat LASIK? Bagaimana prosedur/tahapan-tahapan LASIK? Apa saja kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan LASIK?

Definisi

LASIK sendiri berasal dari bahasa Yunani dan merupakan kepanjangan dari Laser In Situ Keratomileusis. LASIK merupakan salah satu prosedur operasi mata yang digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi dengan menggunakan teknologi laser. Kelainan refraksi yang dimaksud adalah rabun dekat (hypermetropia), rabun jauh (miopia) dan silinder (astigmatisma). Tujuan dari LASIK adalah pasien dapat terbebas dari kacamata ataupun lensa kontak untuk dapat melihat jelas.

Anatomi

Tindakan operasi LASIK dilakukan pada organ mata yang disebut kornea. Kornea memliki 5 lapis antara lain:

  1. Epitel
  2. Membran bowman
  3. Stroma
  4. Membran Descemet
  5. Endotel

Tahapan-tahapan pada LASIK

Tindakan LASIK memerlukan waktu kurang lebih 20 menit untuk kedua mata. Walaupun tindakan LASIK ini membutuhkan waktu yang singkat, namun penting sekali bagi pasien untuk kooperatif terhadap instruksi dari operator selama tindakan. Anestesi yang digunakan pada prosedur LASIK adalah anestesi topikal yaitu obat tetes.

Tahapan-tahapan LASIK antara lain:

    1. Tahap pertama adalah membuat lapisan pada kornea yang disebut flap dengan menggunakan teknologi femtosecond laser. Femtosecond laser adalah sinar infra red yang memiliki kemampuan sangat akurat dengan tingkat panas yang sangat rendah. Femtosecond laser bekerja dalam ultra short impulses of light dan dapat membuat lubang sekecil 1/100 mm hanya dalam ¼ triliun per detik.
    2. Tahap kedua setelah flap terbuka maka dilakukan penyinaran laser pada bagian stroma kornea untuk mengubah bentuk kornea yang bertujuan untuk menghilangkan kelainan refraksi (minus, plus dan silinder) dengan teknologi Excimer Laser
    3. Tahap ketiga setelah penyinaran selesai, flap dikembalikan ke posisi awal.
    4. Dalam waktu kurang dari 3 menit, flap akan melekat dengan kornea kembali tanpa perlu dijahit

Kandidat LASIK yang ideal

  1. Disarankan pada usia minimal 18 tahun dan memiliki ukuran kacamata/lensa kontak yang stabil selama paling tidak 1 tahun terakhir
  2. Kedua mata harus dalam keadaan sehat
  3. Melepas lensa kontak lunak (soft contact-lens) selama 14 hari atau lensa kontak keras (hard contact-lens) selama 30 hari berturut-turut sebelum dilakukan tindakan LASIK
  4. Tidak sedang hamil atau menyusui
  5. Sudah mendapatkan
    informasi yang adekuat tentang keuntungan dan risiko dari prosedur LASIK

Kandidat LASIK yang kurang ideal (Less than ideal)

  1. Pasien -pasien dengan mata kering (dry eyes) karena setelah tindakan LASIK akan memperberat keadaan mata keringnya
  2. Pasien-pasien yang memiliki kelainan autoimun, pasien yang mengonsumsi obat steroid atau imunosupressan: dapat memperlambat proses penyembuhan
  3. Pasien pasien yang memiliki luka/jaringan parut pada kornea: hasil tidak akan maksimal
  4. Pasien – pasien yang memiliki risiko trauma tinggi seperti atlit-atlit olahraga dengan kontak (contact sports): risiko terjadi dislokasi dari flap LASIK

Kontraindikasi LASIK/non kandidat LASIK

  1. Pasien yang memiliki kelainan katarak
  2. Pasien yang memiliki kelainan glaukoma stadium akhir
  3. Pasien yang memiliki kelainan kornea dan penipisan kornea (Keratoconus atau pellucid Marginal Degeneration)
  4. Patients with unrealistic expectations

LASIK itu bisa mengkoreksi sampai berapa dioptri?

  1. Pada pasien miopia: sampai -12 D
  2. Pada pasien hipermetropia: sampai +6 D
  3. Pada pasien astigmatism: sampai silinder 6 D

Namun 3 hal di atas ini tidak mutlak melainkan disesuaikan dengan keadaan kornea mata kita melalui pemeriksaan pre-LASIK. Pemeriksaan pre LASIK yang dibutuhkan:

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan terbaik
  2. Pemeriksaan tekanan bola mata
  3. Pemeriksaan segmen anterior mata
  4. Pemeriksaan topografi kornea
  5. Pemeriksaan ketebalan kornea
  6. Pemeriksaan pupil
  7. Pemeriksaan saraf mata (retina)
  8. Assessment for Dry Eye Syndrome

Semua pemeriksaan ini harus dilakukan sebelum tindakan LASIK dilakukan.

Komplikasi dan efek samping LASIK

  1. Koreksi yang berlebihan atau kurang (over/under correction)
  2. Pandangan glare/halos
  3. Dry Eye Syndrome
  4. Infeksi pada kornea
  5. Inflamasi
  6. Masalah pada flap (flap bolong, flap berlipat atau flap hilang)
  7. Ectasia atau bulging of cornea
  8. Sensitif terhadap cahaya
  9. Rasa tidak nyaman /nyeri
  10. Penglihatan malam yang buruk/kesulitan untuk berkendara pada malam hari
  11. Penurunan sensitivitas kontras penglihatan

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Referensi :

1. American Academy of Ophthalmology. Is LASIK for Me? A Patient’s Guide to Refractive Surgery. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2008. Available at: http://www.aao.org/upload/LASIK_guide.pdf
2. American Academy of Ophthalmology. Refractive Errors & Refractive Surgery, Preferred Practice Pattern. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2007. Available at: http://one.aao.org/CE/PracticeGuidelines/PPP_Content.aspx?cid=e6930284-2c41-48d5-afd2- 631dec58628
3. Sakimoto T, Rosenblatt MI, Azar DT. Laser eye surgery for refractive errors. Lancet. 2006 Apr 29;367(9520):1432-47. PubMed PMID: 16650653
4. Vitale S, Ellwein L, Cotch MF, Ferris FL 3rd, Sperduto R. Prevalence of refractive error in the United States, 1999-2004. Arch Ophthalmol. 2008 Aug;126(8):1111-9. PubMed PMID: 18695106
5. Steinert RF, Koch D, Lane S, Stulting R. Lasik Surgery Screening Guidelines For Patients. Eye Surgery Education Council. Available at : https://med.virginia.edu/ophthalmology/wp-content/uploads/sites/295/2018/01/LASIK-guidelines-for-patients.pdf

COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

5 Hal Pentingnya Persetujuan Medis dalam Praktik Kedokteran Gigi (Informed Consent)

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora

Pernah tidak Anda mengalami suatu keadaan dimana saat Anda berhadapan dengan seorang dokter gigi dan berencana melakukan tindakan gigi, namun setelah dokter gigi memberikan informasi Anda diminta mengisi surat pernyataan sesaat sebelum tindakan dimulai?

Anda tidak perlu khawatir, surat pernyataan medis atau yang dikenal dengan informed consent merupakan salah satu elemen penting dalam tindakan kedokteran gigi terutama tindakan yang memiliki risiko tinggi.

Berikut merupakan informasi yang perlu anda ketahui mengenai persetujuan medis (informed consent) dalam praktik kedokteran gigi:

  1. Persetujuan medis (informed consent) adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas tindakan kedokteran gigi yang diajukan oleh dokter gigi setelah menerima informasi dan segala risiko yang akan terjadi.
  1. Persetujuan tindakan medis biasanya dilakukan pada tindakan kedokteran gigi yang memiliki risiko tinggi
  1. Persetujuan tindakan medis dianggap sah, apabila:
    • Pasien telah diberi penjelasan/informasi
    • Pasien atau wali dalam keadaan cakap (kompeten) untuk memberikan keputusan/persetujuan
    • Persetujuan diberikan secara sukarela

Selain itu persetujuan medis dapat disampaikan melalui berbagai cara:

    • Persetujuan tersirat atau tidak dinyatakan (implied consent)
    • Persetujuan yang dinyatakan (express consent) baik secara lisan (oral consent) dan tertulis (written consent)
  1. Fungsi penting Informed Consent :

Bagi dokter gigi, informed consent membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis kepada pasien dan sebagai bahan pembelaan apabila terjadi gugatan yang timbul dari akibat yang tidak dikehendaki. Bagi pasien merupakan penghargaan atas haknya memperoleh hak informasi dan keputusan untuk menolak atau menyetujui suatu tindakan kedokteran gigi.

  1. Tindakan dalam praktek kedokteran gigi yang membutuhkan informed consent

Ada beberapa tindakan yang memiliki resiko tinggi, sehingga membutuhkan informed consent seperti :

    • Perawatan saluran akar
    • Pencabutan gigi
    • Anestesi untuk pencabutan gigi
    • Operasi gigi

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda, terutama perlindungan terhadap risiko saat tindakan dalam praktik kedokteran gigi

Salam Sehat Kejora

Sindrom Brugada

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Halo Keluarga Sehat Kejora.. Semoga sehat selalu..

Keluarga Kejora, apakah Anda akhir – akhir ini mendengar pernyataan bahwa kematian jantung mendadak dapat diakibatkan oleh Bulu Dada Syndrome?

Sebelum ada yang mencukur habis bulu dadanya karena informasi ini, perlu diklarifikasi bahwa kelainan yang dimaksud adalah Sindrom Brugada, yang hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian jantung mendadak yang paling sering pada usia muda.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kelainan tersebut, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan Sindrom Brugada ini.

Sindrom Brugada adalah suatu gangguan irama jantung akibat kelainan genetik yang berpotensi mengancam jiwa. Sejak pertama kali dikenalkan pada tahun 1992 oleh Brugada bersaudara, jumlah kasus Brugada yang dilaporkan telah meningkat secara eksponensial hingga saat ini. Usia rata – rata kematian mendadak adalah 41 tahun, dengan usia saat diagnosis mulai dari 2 hingga 84 tahun. Ras dengan insiden tertinggi di Asia Tenggara di mana sebelumnya digambarkan sebagai Sudden Unexplained Nocturnal Death Syndrome (SUNDS) karena sindrom ini sering menyebabkan kematian mendadak saat seseorang sedang tertidur.

Pada dasarnya, setiap denyut jantung manusia dipicu oleh dorongan arus listrik yang dihasilkan oleh sel khusus seperti generator utama di ruang atas kanan jantung. Aliran listrik dari “generator utama” ini akan diteruskan melalui suatu saluran pori – pori hingga ke otot jantung. Aktivitas listrik yang sampai hingga serabut otot jantung ini menyebabkan otot jantung berkontraksi atau berdenyut. Pada Sindrom Brugada, saluran pori – pori tersebut mengalami gangguan akibat mutasi genetik, yang menyebabkan listrik jantung membentuk aliran sendiri di luar arus jalur yang seharusnya dan menyebabkan jantung berdetak tidak normal. Irama denyut jantung pada Sindrom Brugada dapat menjadi di luar kendali, tidak teratur, dan berbahaya. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa secara efektif dan darah yang beredar ke seluruh tubuh akan berkurang jumlahnya secara signifikan. Hal ini dapat menyebabkan pingsan jika irama abnormal tersebut berlangsung dalam waktu yang singkat (dalam hitungan detik), atau dapat menyebabkan kematian mendadak jika jantung tetap berada dalam irama yang di luar kendali dalam waktu yang lama (lebih dari tiga menit hingga hitungan jam).

Gejala Sindrom Brugada

Sindrom Brugada seringkali tidak memunculkan gejala apapun. Sindrom ini  terkadang terdiagnosis secara tidak sengaja saat pemeriksaan rekam jantung (EKG). Namun pada beberapa penderita, sindrom Brugada dapat menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda dengan gangguan irama jantung lainnya, seperti:

  • Rasa berdebar – debar,
  • Pusing,
  • Hilang kesadaran atau pingsan,
  • Sesak nafas,
  • Nyeri dada,
  • Kejang, hingga
  • Henti jantung

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Sindrom Brugada terjadi akibat perubahan atau mutasi satu atau beberapa gen yang berperan menjaga irama jantung agar tetap normal. Gen yang bermutasi tersebut diturunkan dari salah satu orangtua. Pria memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena sindrom Brugada. Munculnya gejala Sindrom Brugada juga dapat dipicu dan diperburuk oleh beberapa kondisi berikut:

  • Demam
  • Penyalahgunaan kokain
  • Gangguan ketidakseimbangan elektrolit

Diagnosis Sindrom Brugada

Diagnosis Sindrom Brugada dibuat berdasarkan riwayat klinis pasien, pemeriksaan fisik, rekam jantung, dan tes penunjang lainnya.

  • Rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG)

Alat ini akan merekam impuls listrik pada jantung anda, sehingga ketidakteraturan denyut jantung dapat terdeteksi. Terkadang gangguan irama jantung dapat tidak terdeteksi pada saat pemeriksaan, sehingga dokter Anda mungkin akan memberikan beberapa jenis obat selama pemeriksaan jantung dengan tujuan pola irama Sindrom Brugada akan muncul dan terlihat pada hasil rekam jantung.

  • Pemeriksaan elektrofisiologi jantung

Dokter mungkin pula menganjurkan pemeriksaan elektrofisiologi jantung (EP test) bila Anda pernah mengalami henti jantung mendadak. Tes ini juga memungkinkan dokter untuk mengetahui kecenderungan Anda dalam mengalami komplikasi Sindrom Brugada.

  • Tes genetik

Pemeriksaan genetik bisa dianjurkan bagi anggota keluarga dengan Sindrom Brugada, guna mengetahui apakah mereka menderita Sindrom Brugada atau tidak.

Kapan harus ke dokter?

Bila memiliki anggota keluarga yang menderita Sindrom Brugada atau riwayat anggota keluarga meninggal mendadak, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter jantung, agar penyakit ini dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

Bila Anda memiliki gejala gangguan irama jantung seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Pengobatan Sindrom Brugada

Pengobatan Sindrom Brugada tergantung pada risiko irama jantung abnormal (aritmia) yang akan distratifikasi oleh dokter jantung. Salah satu terapi utama Sindrom Brugada yaitu pemasangan alat implantable cardioverter-defibrillator (ICD), atau implant alat kejut jantung otomatis yang akan terus memantau irama jantung anda dan memberikan kejutan listrik bila diperlukan untuk mengendalikan detak jantung yang tidak normal. Sebagai penanganan tambahan, dokter juga bisa memberikan obat – obatan yang bertujuan mengendalikan irama jantung penderita.

Pada keadaan gawat darurat seperti henti jantung mendadak, resusitasi jantung paru (RJP) harus segera diberikan dan segera bawa penderita ke IGD di rumah sakit terdekat.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan mengenai Sindrom Brugada ini ya, Keluarga Kejora.

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi:

  1. Antzelevitch C, Brugada P, Brugada J, Brugada R, Towbin JA, Nademanee K. Brugada syndrome: 1992–2002: A historical perspective. J. Am. Coll. Cardiol. 2003;41;1665-1671.
  2. Brugada Foundation. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://www.brugada.org/en/muerte-subita-y-sindrome-brugada/brugada-syndrome.html
  3. Genetic and Rare Diseases Information Center. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/1030/brugada-syndrome
  4. Mayo Clinic. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brugada-syndrome/symptoms-causes/syc-20370489

 

Kenali Nyeri Panggul pada Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernahkah si kecil mengeluhkan nyeri pada panggulnya hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari? Keluhan pada panggul mempunyai kemungkinan diagnosa penyakit yang beragam. Mulai dari penyakit yang perlu penanganan segera sampai penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Dengan demikian, sangat penting bagi Ayah dan Ibu untuk belajar mengenali gejalanya dan membawa si kecil ke dokter orthopaedi agar diperiksa lebih lanjut.

Ada banyak penyebab nyeri panggul yang dapat terjadi pada anak-anak. Namun, tidak semuanya perlu penanganan segera karena sebagian perlu pemantauan jangka panjang. Berikut adalah beberapa jenis penyebab nyeri panggul yang sering ditemui pada anak, dimulai dari yang memerlukan penanganan segera.

  1. Septik Artritis

Penyakit ini merupakan kondisi gawat darurat yang disebabkan infeksi pada sendi. Sendi yang paling sering terkena adalah panggul dan lutut. Bakteri yang menyebabkan infeksi bisa didapat dari berbagai macam sumber, antara lain trauma (benturan) langsung, riwayat pembedahan, infeksi di area sekitar sendi, infeksi tulang dekat sendi, atau bahkan menyebar dari aliran darah.

(https://www.orthobullets.com/pediatrics/4032/hip-septic-arthritis–pediatric)

Kondisi ini perlu penanganan segera karena infeksi secara cepat dapat menghancurkan permukaan sendi dalam kurun waktu 8 jam. Ditambah lagi, tekanan tinggi dalam ruang sendi yang tertutup dapat menghalangi aliran darah ke sendi sehingga dapat berujung ke kematian jaringan tulang.

Biasanya anak yang menderita septik artritis akan tampak sakit, merasakan nyeri yang kuat, disertai dengan demam. Nyeri dirasakan pada sendi panggul yang terkena, bengkak, hangat, merah, dan anak lebih memilih pada posisi kaki mengangkang. Dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium darah dan penyedotan cairan sendi, dan memberikan antibiotik melalui infus. Pembedahan untuk membersihkan sendi juga penting untuk dilakukan.

  1. Osteomielitis

Osteomielitis adalah penyakit infeksi pada tulang. Penyakit ini seringkali terjadi karena penyebaran bakteri dari aliran darah yang berasal dari trauma benturan atau infeksi pada area tersebut. Jika terjadi pada tulang paha sebelah atas, maka dapat menimbulkan gejala nyeri panggul. Area panggul akan teraba bengkak, hangat, dan nyeri saat ditekan. Segala bentuk gerakan dari sendi panggul akan terasa nyeri. Gejala demam dapat ditemukan namun dapat juga tidak.

(https://www.uhhospitals.org/health-information/health-and-wellness-library/article/healthsheets-v1/when-your-child-has-osteomyelitis)

Dokter biasanya akan memeriksa tanda-tanda infeksi di sampel darah, serta mencari tanda-tanda perubahan tulang dari rontgen dan MRI. Pemberian antibiotik dapat memberikan perbaikan dalam 48 jam, terutama pada penyakit yang dideteksi awal. Namun jika infeksi sudah berat atau bahkan ada sekumpulan nanah didalam tulang, maka pembedahan untuk membersihkan jaringan dan jaringan tulang perlu dilakukan.

  1. Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)

Pada anak-anak, terutama yang kegemukan, seringkali ditemukan pergeseran lempeng pertumbuhan. Area panggul merupakan area yang memiliki kemiringan dan sekaligus menumpu sekitar separuh beban tubuh. Itu sebabnya, lempeng pertumbuhan (epifisis) pada area inilah yang rentan tergeser (selip). Penyakit ini paling sering ditemukan pada anak laki-laki yang kegemukan/obesitas pada usia 10-16 tahun.

https://www.uwhealthkids.org/kidshealth/en/teens/scfe.html/

Nyeri yang dirasa oleh anak dapat menjalar dari panggul ke lutut, dapat hilang timbul dengan lama mingguan hingga bulanan. Terkadang sang buah hati dapat merasa lebih nyaman duduk dengan kaki disilang. Untuk mencegah pergeseran yang lebih lanjut, biasanya dokter dapat melakukan pembedahan pemasangan implant sebagai penahan.

  1. Legg-Calvé-Perthes disease (LCPD)

Penyakit LCPD ini adalah kerusakan area pertumbuhan pada tulang panggul yang disebabkan oleh aliran darah yang tidak mencukupi. Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui, namun beberapa faktor risikonya termasuk riwayat trauma (benturan), riwayat keluarga, berat badan rendah, kelainan proses persalinan, paparan asap rokok dari keluarga serumah, dan ras asia. Nyeri biasanya cukup kuat dan semakin meningkat, sehingga panggul menjadi kaku dan menyebabkan anak berjalan pincang.

https://www.mountnittany.org/articles/healthsheets/7357

Jika penyakit ini ditemukan sebelum usia 6 tahun biasanya memiliki perkembangan yang baik namun perlu diperiksa secara berkala sampai usia 8 tahun oleh dokter. Lama penyembuhan juga bervariasi antara 2-5 tahun. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala nyeri, mengembalikan lingkup gerak, dan memastikan sendi panggul tetap terjaga pada tempatnya dengan bantuan obat-obatan hingga alat bantu seperti tongkat, gips, atau brace. Bila anak sudah berusia diatas 8 tahun, dapat dilakukan pembedahan jika terjadi kelainan bentuk tulang yang berat.

  1. Displasia panggul

Displasia panggul merupakan gangguan perkembangan sendi panggul dimana area mangkok sendi panggul berbentuk dangkal atau tidak cukup cekung dan menyebabkan sendi panggul mudah bergeser. Penyakit ini sering ditemukan pada saat bayi baru lahir, dan yang menjadi faktor risikonya antara lain anak pertama, perempuan, lahir sungsang, atau riwayat keluarga.

https://www.eugenepeds.com/medical-illustrations/hip-dysplasia/attachment/medical-illustration-hip-dysplasia/

Berbagai macam pemeriksaan tambahan radiologi seperti USG, rontgen, atau artrogram mungkin perlu dilakukan. Tergantung usia anak dan keparahan kelainan bentuk tulang, jenis tatalaksana untuk penyakit ini bervariasi mulai dari penggunaan brace, gips, hingga pembedahan.

  1. Multiple Epiphyseal Dysplasia (MED)

Penyakit MED terjadi oleh karena kegagalan pembentukan lempeng pertumbuhan sekunder (epifisis). Pada kondisi ini, tulang tumbuh lebih pendek dari normal sehingga menimbulkan panjang tungkai yang tidak proporsional. Lama-kelamaan, ketidakseimbangan ini akan menimbulkan perubahan pada gaya berjalan dan mencetuskan nyeri pada panggul karena beban tubuh yang tidak seimbang.

MED adalah kelainan genetik (bawaan) dan dapat terjadi pada tulang paha dan lengan. Pengobatan penyakit ini lebih ditujukan pada keluhan nyeri dan kelainan bentuk (deformitas) tulang. Jika kelainan bentuk tidak terlalu parah, dokter akan menunggu perkembangannya sampai akhir masa pertumbuhan. Namun bila berat, pembedahan akan disarankan.

  1. Juvenile idiopathic arthritis

Penyakit genetik ini paling sering ditemui pada anak-anak di bawah usia 16 tahun dan bersifat autoimun, yang artinya sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang diri sendiri. Walaupun paling sering menyerang sendi lutut, namun penyakit ini dapat juga menyerang sendi panggul. Anak biasanya mengeluhkan nyeri sendi, tampak ruam di kulit, demam yang hilang timbul, kaku sendi di pagi hari, infeksi lapisan jantung, nyeri atau kelainan bentuk leher, atau gangguan penglihatan.

Gambaran kerusakan sendiri baru akan terlihat bila sudah pada tahap lanjut. Pada pemeriksaan laboratorium didapati positif ANA dan terkadang positif rheumatoid factor. Untuk menekan proses penyerangan sistem kekebalan tubuh, dokter biasanya akan meresepkan obat khusus seperti DMARD (disease modifying antirheumatic drugs). Lalu tergantung dari kerusakan yang terjadi pada sendi, dokter mungkin perlu melakukan tindakan pembedahan.

  1. Transient synovitis

Setiap sendi manusia memiliki lapisan pembungkus yang disebut synovium dan bila terjadi peradangan pada jaringan ini seringkali akan mencetuskan rasa nyeri. Penyebabnya hingga saat ini belum diketahui, namun dapat dipengaruhi oleh infeksi virus, bakteri, alergi, sampai trauma. Anak biasanya merasakan nyeri pada area pangkal paha atau selangkangan sehingga tidak mau berjalan, atau mampu berjalan walaupun pincang. Biasanya anak merasa lebih nyaman pada posisi mengangkang.


(http://www.orthohyd.com/home/know-your-disease/transient-synovitis)

Secara keseluruhan transient synovitis bukanlah penyakit yang gawat atau berat. Walaupun dapat sembuh dalam beberapa hari hingga 1-2 minggu dengan bantuan obat-obatan, sangat penting bagi dokter untuk memastikan nyeri bukan disebabkan oleh infeksi (septik artritis) melalui berbagai pemeriksaan penunjang sesuai indikasi.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

Houghton KM. Review for the generalist: evaluation of pediatric hip pain. Pediatr Rheumatol Online J. 2009; 7: 10.

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525

Si Kecil dalam Menghadapi Kehilangan Orang Tua

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, keluarga sehat Kejora Indonesia!

Kehadiran ayah dan bunda merupakan hal utama yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan si kecil. Ayah dan bunda adalah orang pertama yang seharusnya memberikan kasih sayang dan mengajarkan si kecil dalam banyak hal. Namun, dalam beberapa kondisi, beberapa anak harus dihadapkan  pada situasi kehilangan orangtua karena kematian.

Menghadapi kehilangan orangtua bukanlah hal yang mudah bagi si kecil  Kematian orang tua dapat menjadi salah satu peristiwa paling traumatis yang dialami seorang anak. Efek psikologis dari kematian orang tua dapat memengaruhi perkembangan anak selama sisa hidupnya. Yuk, kenali beberapa dampak yang bisa muncul pada si kecil ketika mengalami kehilangan orang tua :

Aspek Emosional

  1. Kecemasan dan ketakutan

Figur ayah diidentikkan sebagai sosok pelindung bagi keluarga.  Oleh karena itu, kehilangan seorang ayah dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan yang besar pada si kecil. Si kecil berpotensi tumbuh menjadi anak yang tidak tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri atau bagaimana menghadapi tantangan dalam hidup yang dapat memengaruhi munculnya kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi masalah.

  1. Kurang kasih sayang

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah cinta. Kehilangan orang tua dapat membuat kebutuhan kasih sayang si kecil tidak terpenuhi. Situasi ini dapat membuat si kecil mengalami perasaan hampa dan kosong hingga dewasa.

  1. Perasaan inferior dan kurang berharga

Kehilangan orangtua dapat membuat si kecil berpikir bahwa diri mereka lemah dan lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang memiliki keluarga utuh. Selain itu, tidak adanya figur orang tua dapat membuat si kecil menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, dan tidak berdaya dibanding anak-anak lain, sehingga memengaruhi keberhargaan diri dan kepercayaan diri si kecil.

  1. Permasalahan psikologis lainnya
    • Gangguan dalam pengembangan bahasa.
    • Kesulitan bicara.
    • Gangguan psikosomatis
    • Depresi, kecemasan, fobia, kemarahan, stress.
    • Asma, sakit kepala, masalah perut.
    • Bunuh diri.

Aspek Perilaku

  1. Kurangnya keterampilan

Salah satu proses pembelajaran si kecil adalah melalui modeling orang tuanya. Kehilangan role model membuat si kecil tidak lagi dapat belajar skill yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

  1. Kriminalitas dan penggunaan obat-obatan terlarang

Perasaan marah, sedih dan sakit akibat kehilangan orangtua dapat membuat si kecil melampiaskan perasaannya terhadap tindakan amoral seperti kriminalitas dan penggunaan obat terlarang.

  1. Masalah seksual

Dampak seksual akibat kematian orangtua dapat memberikan respon yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan cenderung mencari figur ayah pada orang lain khususnya dalam hubungan romantik. Sedangkan pada anak laki-laki, bisa memengaruhi perkembangan seksualitas dan dapat menyebabkan masalah identitas seksual.

  1. Kegagalan akademik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik anak dengan orang tua tunggal lebih rendah dibanding anak yang memiliki keluarga lengkap.

Aspek Sosial

  1. Sulit bersosialisasi

Dalam lingkungan yang ideal, orang tua menjadi pengasuh, panutan dan pemimpin yang mendisiplinkan kehidupan si kecil. Si kecil mempelajari aturan dan nilai pertama melalui orang tua mereka terlebih dahulu. Tanpa figur orangtua, si kecil menjadi bingung dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan sosial.

Bagaimana seharusnya Ayah atau Bunda membantu menghadapi si kecil yang kehilangan?

  1. Perhatikan bahasa yang digunakan saat menjelaskan kematian.

Gunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Jangan takut untuk menggunakan kata-kata seperti “meninggal” dan “mati” . Untuk anak yang lebih muda, bunda juga dapat mengatakan “Jantung ayah berhenti berdetak,” dan menekankan kalau jantung dan pernapasan itu hal yang dibutuhkan agar tetap hidup.

  1. Dengarkan dan hibur.

Setiap anak bereaksi berbeda ketika mengetahui bahwa orang yang dikasihinya meninggal. Ada yang menangis, dan ada mengajukan pertanyaan. Ada juga yang tidak bereaksi sama sekali. Tidak apa-apa. Tetap bersama si kecil, tawarkan pelukan, sediakan diri untuk mendengarkan ceritanya, jawab pertanyaan atau dampingi meskipun dalam keadaan diam.

  1. Refleksikan perasaannya.

Dorong anak-anak untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan dan rasakan  setelah kehilangan. Terbuka pada si kecil terkait perasaan sendiri karena hal ini dapat membantu si kecil untuk merasa nyaman dengan perasaan mereka. Katakan hal-hal seperti, “Bunda tahu kamu merasa sangat sedih. Bunda juga sangat sedih. Kita berdua sangat mencintai ayah, dan ayah juga pasti mencintai kita.”

  1. Lakukan aktivitas yang membuat perasaan si kecil lebih baik.

Berikan kenyamanan yang dibutuhkan si kecil. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan atau membicarakan topik yang membantu perasaan si kecil merasa sedikit lebih baik misalnya bermain, membuat karya seni atau pergi ke suatu tempat bersama.

  1. Beri si kecil waktu untuk sembuh dari kehilangan.

Menyembuhkan kesedihan itu membutuhkan waktu. Pastikan Bunda atau Ayah juga pelan-pelan menyembuhkan dirinya agar bisa membantu anak untuk kembali pulih. Tetap buat percakapan dengan si kecil untuk melihat bagaimana perasaan dan tindakannya terkait kesedihan tersebut.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://insamer.com/en/the-effect-of-parental-death-on-child_2264.html

https://kidshealth.org/en/parents/death.html

 

Pencegahan Sakit untuk Keluarga

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Saat musim hujan seperti sekarang ini, seringkali angka kejadian sakit meningkat. Sakit yang tersering adalah batuk, pilek, demam (common cold), diare dan muntah (gastroenteritis).  Kedua penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus, yang dapat menular dengan cepat di antara anak dengan temannya, atau anak kepada orang tua, atau orangtua kepada anak. Hal ini menyebabkan si kecil sembuh dan kemudian sakit kembali tidak lama setelah episode sakit sebelumnya. karena ping-pong dengan orangtua atau teman di sekolah.

Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa mencegah anak jatuh sakit? Secara umum, anak dapat menderita sakit akibat infeksi bakteri, virus, jamur atau parasit. Masing-masing penyakit memiliki cara penularan tersendiri. Saat patogen (bakteri/virus/jamur/parasit) masuk ke dalam tubuh kita,maka kita akan berisiko untuk jatuh sakit. Namun, jatuh sakit atau tidaknya seseorang bergantung pada sifat patogen yang masuk dan daya tahan tubuh orang tersebut.

Kebersihan pribadi

Mencuci tangan merupakan kebiasaan menjaga kebersihan pribadi yang memiliki peran penting dalam mencegah penyakit. Cuci tangan perlu dilakukan setelah keluar dari kamar mandi, sebelum makan atau menyiapkan makanan akan menghilangkan patogen. Cuci tangan juga sebaiknya dilakukan setelah bersin, batuk, merawat orang sakit, atau memberi makan binatang peliharaan. Bila terdapat kotoran maka cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Selain mencuci tangan, beberapa hal berikut juga dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri:

  • Tutup mulut dan hidung saat batuk. Etika batuk yang baik adalah dengan menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, bisa dengan tissue, atau punggung tangan

Sumber: https://www.cdc.gov/flu/professionals/infectioncontrol/resphygiene.htm

  • Tutup luka terbuka di kulit, untuk mencegah patogen masuk ke dalam tubuh kita
  • Jangan mengorek luka yang akan sembuh atau memencet bisul
  • Jangan berbagi alat makan
  • Jangan berkontak dengan tisu, sapu tangan, atau serbet yang digunakan orang lain

Vaksinasi

Vaksinasi akan memberikan tubuh kekebalan yang dapat melindungi kita dari sakit. Pastikan vaksinasi Anda dan anak Anda diberikan sesuai jadwal dan terus diperbaharui. Saat akan ke luar negeri, maka pastikan rekomendasi vaksin di negara tujuan. Jika anda memiliki binatang peliharaan maka pastikan binatang peliharaan anda juga telah divaksin.

Hindari penularan

Yang tidak kalah pentingnya dalam mencegah sakit adalah menghindari penularannya. Saat Anda sakit, maka Anda perlu menggunakan masker, dengan tujuan mencegah penularan kepada orang lain.

Saat anda berada di keramaian, maka jauhilah orang yang tampak sakit. Anda tidak perlu pergi ke tempat ramai bila tidak diperlukan.

Cuci tangan setelah anda bersalaman dengan orang lain, berkontak dengan permukaan yang mungkin dipegang banyak orang. Hindari menyentuh mata, hidung atau mulut dengan menggunakan tangan yang berkontak dengan orang lain dan atau lingkungan sebelum melakukan cuci tangan atau kebersihan tangan dengan cairan pembersih tangan. Gunakan cairan pembersih tangan yang minimal mengandung 60% alcohol.

Sumber: https://www.who.int/gpsc/5may/How_To_HandRub_Poster.pdf

Editor: dr. Sunita
Sumber:
https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/how-to-prevent-infections
https://www.cdc.gov/handwashing/when-how-handwashing.html