Aktif Bergerak Bersama Anak di Masa Pandemi

 

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode kritis dalam membentuk keterampilan motorik, sensorik serta membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan fisik dan mental. Pada masa ini, terjadi perkembangan fisik dan kognitif yang pesat dimana kebiasaan anak terbentuk, berubah, dan terus beradaptasi. Aktivitas fisik yang rutin akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Durasi kondisi fisik yang aktif dan non-aktif (tidur, sedentary) yang seimbang dan teratur dapat menjamin baiknya kualitas kesehatan fisik dan mental.

Selama pandemi Covid-19, sesuai anjuran Pemerintah, dilakukan physical distancing (dikenal juga sebagai social distancing atau safe spacing) untuk mencegah penyebaran penyakit di komunitas. Dengan adanya physical distancing ini berarti anak harus membatasi kontak dengan orang lain, termasuk tidak bersekolah, diadakannya kelas virtual atau pekerjaan rumah (PR). Olahraga atau bermain outdoor juga harus dibatasi, interaksi sosial hanya bisa dilakukan secara virtual, baik melalui telepon seluler, komputer, atau video games.

Tantangan bagi orangtua adalah untuk menjaga anak tetap aktif dan sehat, agar daya tahan tubuh baik dan tahan terhadap penyakit. Perilaku hidup sehat juga penting untuk mengurangi risiko depresi dan kecemasan yang dapat timbul akibat isolasi diri di rumah.

 

Mengapa anak tetap harus aktif bermain di masa Pandemi Covid-19 ini?

Pentingnya anak tetap melakukan aktivitas fisik dan bermain pada masa pandemi ini adalah sbb:

  • Membantu melalui proses “new normal” selama masa yang penuh ketidakpastian.
  • Bermain penting untuk membantu anak menjalani proses respon emosi terhadap tantangan dan stress.
  • Aktivitas fisik outdoor dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengontrol keinginan dan kemampuan, serta membangun keterampilan fisik dan emosi.
  • Bermain dan aktivitas fisik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih “sehat” dibandingkan dengan hanya sedentary screen time. Selain itu memperbaiki kualitas tidur akibat keluarnya energi yang optimal selama anak aktif bermain.

 

Bagaimanakah rekomendasi aktivitas fisik menurut WHO?        

WHO merekomendasikan durasi waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam melakukan aktivitas fisik bagi anak usia kurang dari 1 tahun adalah 30 menit. Untuk anak berusia 1-5 tahun adalah selama 180 menit (3 jam). Sedangkan untuk anak usia 6-17 tahun sebanyak 60 menit.

Berikut ini adalah manfaat aktivitas fisik bagi anak secara umum menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO):

  • Membangun jaringan muskuloskeletal (tulang, otot, dan sendi) yang sehat.
  • Membangun sistem kardiovaskuler (jantung, paru) yang sehat.
  • Meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol gerak saraf dan otot (neuromuskuler).
  • Menjaga berat badan yang optimal.
  • Meningkatkan fungsi kognitif dari otak.
  • Efek psikologis: mengontrol gejala kecemasan dan depresi (fun and happy).
  • Perkembangan sosial (membangun percaya diri, kemampuan ekspresi diri, interaksi sosial, dan integrasi).

 

(Gambar Rekomendasi WHO)

 

 

 

Apakah ada latihan fisik tertentu untuk anak?

Tubuh anak terdiri dari ratusan tulang dan otot yang diatur oleh begitu banyak saraf dan dikontrol oleh otak. Otak berfungsi sebagai programmer dari gerakan-gerakan tersebut. Dalam buku Physical Activity Guidelines for Americans, dikatakan bahwa jenis aktivitas fisik pada anak dapat berupa latihan aerobik, latihan penguatan otot dan tulang, latihan fleksibilitas, serta latihan keseimbangan yang akan banyak melatih otot-otot besar demi meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Latihan aerobik disebut juga aktivitas daya tahan atau kardio. Menggunakan otot-otot besar tubuh yang bergerak dalam gerakan ritmis dalam suatu periode waktu tertentu. Contoh aktivitas pada anak misalnya berjalan, berlari, lompat tali, bersepeda, berbaris atau berjalan di tempat, dan berenang. Aktivitas bermain pura-pura, seperti mencari harta karun, latihan halang rintang dengan barang-barang yang ada di dalam rumah, serta membersihkan mainan dengan menggunakan balon panjang yang diletakkan di depan wajah sehingga menyerupai seekor gajah juga dapat dijadikan contoh untuk jenis latihan ini.

Latihan penguatan otot dan tulang mencakup latihan resistensi (tahanan) dan weight lifting (angkat beban). Pada latihan ini, otot tubuh bekerja atau menahan beban dengan melawan suatu gaya atau berat tertentu. Dapat dilakukan dengan mengangkat benda (barbel, dll) selama beberapa kali pengulangan untuk grup otot tertentu atau dengan menggunakan tali elastis khusus. Selain itu dapat pula dengan cara menahan berat badan sendiri, seperti halnya berlari, naik turun tangga, memanjat pohon, push-up, jongkok bangun (squatting), dan jumping jacks.

Latihan fleksibilitas seperti halnya stretching atau latihan kelenturan dapat meningkatkan kemampuan sendi dalam bergerak melalui lingkup gerak sendi yang penuh. Pada anak-anak umumnya tingkat kelenturan sendi masih cukup baik, namun demikian dengan jenis latihan ini, akan semakin meningkatkan elastisitas jaringan tubuh dan performa anak dalam melakukan aktivitas. Bermain yoga dengan berbagai pose binatang, seperti halnya kupu-kupu, macan, sapi, ular, dan lain-lain dapat menjadi alternative untuk jenis latihan ini.

Latihan keseimbangan dapat memperbaiki kemampuan menahan gaya yang berada di dalam ataupun di luar tubuh, sehingga tidak terjatuh saat diam ataupun bergerak. Contoh aktivitas ini misalnya berjalan mundur, berdiri pada satu kaki, lompat kelinci, berdiri dengan menggunakan wobble board atau papan titian yang dibuat sendiri dari barang di sekitar rumah. Latihan penguatan pada otot punggung, perut dan kaki juga dapat memperbaiki keseimbangan, karena selain berfokus pada penguatan otot juga membantu meningkatkan kerja organ proprioseptif pada tubuh anak.

 

Jadi, cukup banyak kan jenis aktivitas fisik anak yang tetap dapat dilakukan di rumah meskipun pada masa pandemi ini? Artinya berada di rumah, bukan berarti kita harus membatasi gerak anak, namun kita sebagai orangtua tetap harus memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik “bermain“ yang bervariasi, aman, dan menyenangkan sesuai dengan usianya.

Stay safe and healthy!!

 

Editor              : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Patah Tulang pada Anak: Ke Dukun Tulang atau Dokter?

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Patah tulang, atau fraktur, pada anak selalu membuat orang tua menjadi sangat khawatir. Ayah dan Ibu pasti tidak tega melihat sang anak mengalami rasa sakit yang hebat dan terus menerus. Namun masih banyak ditemui sebagian orang tua yang ragu membawa anaknya ke dokter karena khawatir bila diharuskan operasi. Padahal, walaupun tulang anak masih mudah untuk menyambung, tetapi jika terjadi ‘salah sambung’ akan menimbulkan kecacatan yang akan mempengaruhi fungsi anak saat tumbuh dewasa loh, Ayah dan Ibu. Apa iya penanganan patah tulang oleh dokter sebegitu menyeramkannya?

Terkadang sangat sulit mengkonfirmasi riwayat trauma pada anak-anak, terutama bila anak belum lancar berbicara.  Namun, gejala patah tulang pada anak tidak berbeda dengan dewasa, yakni nyeri, bengkak, memar, deformitas/ bengkok. Tanda lainnya termasuk anak tidak mau menggunakan/ menggerakkan anggota tubuh yang patah dan dapat disertai luka yang menyebabkan bagian tulang menonjol keluar. Agar dapat menegakkan diagnosa, maka diperlukan pemeriksaan penunjang berupa x–ray (rontgen) untuk menunjukkan posisi dan kedudukan tulang yang patah.

 

Kapan harus ke dokter?

Setiap kali terjadi cidera sebaiknya anak diperiksakan ke dokter untuk memastikan kondisi otot dan tulangnya, terutama bila ia mengeluhkan nyeri pada anggota tubuhnya dan menolak untuk menggerakannya. Apabila terjadi patah tulang, kondisi ini wajib untuk segera dievaluasi oleh dokter orthopaedi.

Pada kondisi khusus dimana anak sangat mudah mengalami patah tulang, maka kemungkinan anak tersebut memiliki kelainan metabolik atau bawaan sejak lahir, misalnya yang kerap disebut sebagai osteogenesis imperfecta. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan tulang sang anak lebih rapuh, mudah patah, dan sulit sembuh, sehingga ia membutuhkan perawatan khusus.

 

Apakah dokter lebih menyeramkan dari dukun patah tulang?

Masih banyak stigma yang menyebutkan bahwa kasus patah tulang yang dibawa ke dokter pasti akan dioperasi. Padahal, ada beberapa jenis penanganan patah tulang pada anak, antara lain pemasangan bidai atau gips, traksi, dan operasi. Untuk operasi pun terdapat dua macam, yakni operasi terbuka dan operasi minimal invasif (luka sayatan hanya berukuran kecil). Pilihan jenis penanganan/ terapi ini tergantung pada jenis patah yang dialami anak. Jadi, tidak semua kasus patah tulang yang ditangani oleh dokter memerlukan operasi.

Bagaimana dengan dukun patah tulang? Dukun patah tulang tidak memeriksa anak Ayah dan Ibu dengan modalitas x-ray, sehingga mereka tidak mengetahui jenis patah tulang yang terjadi. Dukun patah tulang biasanya menangani kasus patah tulang dengan pijatan atau pemasangan bidai. Pemijatan pada tulang yang patah akan menyebabkan nyeri dan bengkak yang semakin hebat. Tidak jarang pula terjadi kasus infeksi karena metode penanganan ini, atau bahkan berubah menjadi tumor. Pemasangan bidai memang menyerupai salah satu penanganan pilihan dokter. Tetapi, kembali ke jenis patah tulangnya, tidak semua patah tulang dapat ditangani dengan bidai saja.

Beberapa kasus yang jika tidak dilakukan operasi akan meningkatkan resiko infeksi, tidak menyambung (non-union), atau menyambung pada posisi yang salah (malunion) antara lain:

  • Patah tulang terbuka: kontaminasi dari debu dan udara luar dapat menginfeksi luka. Jika tidak segera dibersihkan dengan peralatan dan di ruangan yang steril dapat meningkatkan risiko untuk terjadi infeksi.
  • Patah dengan pergeseran, terutama terputar (rotasi): penyembuhan tulang dapat diibaratkan seperti menempelkan barang pecah dengan lem. Jika pergeseran antar kedua tulang cukup jauh, maka tulang baru akan sulit untuk menyambung dan dapat menempel pada posisi yang salah.
  • Patah remuk (segmental atau kominutif): jenis patah ini sangat tidak stabil, tergantung susunan pecahan tulangnya ada jenis patah yang dapat diterapi dengan gips saja tapi juga ada yang memerlukan operasi.
  • Patah pada area lempeng pertumbuhan (epifisis): patah tulang pada area ini memiliki risiko sangat tinggi untuk terjadinya gangguan pertumbuhan pada tulang yang terkait. Tindakan operasi diperlukan untuk mengurangi risiko dan mengembalikan posisi tulang pada tempatnya.

Ada banyak pertimbangan lainnya sebelum dokter menentukan jenis penanganan patah tulang pada anak, misalnya bila patah terjadi pada area penumpu beban tubuh seperti tulang kaki atau patah pada tangan di sisi dominan. Tindakan operasi dapat membuat anak Ayah dan Ibu lebih cepat kembali beraktivitas.

 

Operasi minimal invasif

Seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, kini tidak semua jenis patah tulang perlu dioperasi secara terbuka. Teknik operasi minimal invasif sudah dikembangkan dan dipraktekkan di kedokteran. Dengan teknik ini, tulang yang patah dapat dipertahankan menggunakan alat implan yang ditanam di dalam tulang melalui luka sayatan yang sangat kecil. Oleh karena itu teknik ini mempunyai banyak keuntungan seperti pemulihan luka yang lebih cepat dan luka yang kecil. Dengan demikian, anak dapat lebih cepat beraktivitas kembali.

Jadi, perlu diingat bahwa kasus patah tulang memiliki jenis penanganan yang berbeda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, namun yang utama adalah keselamatan dan kesehatan anak. Pastikan Ayah dan Ibu memilih dengan bijak. Jangan lupa gunakan jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan ataupun asuransi swasta) untuk meringankan beban biaya.

 

 

Sumber:

Kosuge D, Barry M. Changing trends in the management of children’s fractures. Bone Joint J. 2015;97-B(4):442-448. doi:10.1302/0301-620X.97B4.34723

Ömeroğlu H. Basic principles of fracture treatment in children. Eklem Hastalik Cerrahisi. 2018;29(1):52-57. doi:10.5606/ehc.2018.58165

https://www.assh.org/handcare/condition/fractures-in-children

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=fractures-in-children-90-P02760

https://reference.medscape.com/features/slideshow/pediatric-fractures

http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/f/fractures

http://www.pmmonline.org/page.aspx?id=848

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/fractures-in-children

https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/forearm-fractures-in-children/

https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2018/04/bone-fractures-in-children-when-should-parents-be-concerned

Tips Membantu Mengatasi Kecemasan pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, semoga Ayah dan Ibu dalam keadaan sehat!

Saat ini kita semua sedang menjalani masa transisi pandemi COVID 19. Selama 3 bulan ini keluarga kita mengalami perubahan cara hidup dan sangat memerlukan penyesuaian. Kecemasan, ketidakpastian, dan perubahan dapat menjadi sumber tekanan dalam hidup yang perlu dikenali. Bagaimana dengan anak-anak kita? Ternyata anak-anak pun bisa mengalami kecemasan karena perubahan situasi seperti ini. Mari kita pahami bersama bagaimana kita dapat menolong anak-anak kita untuk menghadapi kecemasan pada masa transisi pandemi COVID-19 ini.

  1. Ciptakan rutinitas

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi kecemasan anak adalah dengan membuat rutinitas, sehingga anak merasa aman dan nyaman. Buat jadwal yang baru bersama anak; jadwal hidup sehat, seperti mendorong anak untuk tidur yang cukup, pola makan sehat yang teratur, dan melakukan aktivitas fisik yang terjadwal. Aktivitas fisik dapat dilakukan di dalam ruangan atau sekitar rumah. Tentukan target dan tempelkan jadwal tersebut dan pencapaiannya di tempat yang mudah dilihat (misalnya, di pintu kulkas) sehingga anak mengetahui pencapaian mereka. Berikan pujian kepada anak, karena pujian akan membantu meningkatkan perasaan mereka.

Jika anak belum memenuhi jadwal baru maka sampaikan bahwa tidak perlu khawatir dan  bisa dicoba lagi pada keesokan hari.

  1. Tingkatkan kebersamaan dan dengarkan cerita anak

Tingkatkan kebersamaan, tanyakan perasaan anak, dan dengarkan cerita anak tanpa memotongnya. Buka terus saluran komunikasi untuk mendukung anak-anak kita. Kita bisa menolong anak dengan membagikan cara kita menghadapi kecemasan kita. Beritahukan kepada anak bahwa merasa cemas adalah hal yang wajar, dan beri tahu bahwa kita sebagai orang tua selalu ada untuk membantu mereka mengatasi kecemasannya. Kita bisa mendukung anak dengan menanyakan apa kelebihan anak-anak kita? Sampaikan kelebihan-kelebihan tersebut saat anak-anak merasa cemas. Kita juga bisa membaca buku bersama anak saat ia merasa cemas. Seringkali anak hanya ingin mendengar bahwa kita ada untuk mereka dan mencintai mereka.

  1. Kenali tanda kecemasan lebih awal

Tanda kecemasan awal dapat berbeda dari satu anak ke anak lain, misalnya menggigit kuku, atau menjadi lebih rewel. Umumnya yang termasuk tanda kecemasan meliputi kekhawatiran berlebih, gelisah, selalu merasa lemas, kesulitan  konsentrasi/fokus dan tidak bisa tidur.

Anak tidak selalu dapat mengungkapkan dengan kata-kata, sehingga kecemasan dalam bentuk tantrum atau perilaku menyerang dapat terjadi. Pada remaja, kecemasan dapat berupa perilaku mengucilkan diri. Bicarakan dengan anak-anak Anda bila terdapat tanda-tanda tersebut.

  1. Ajarkan anak cara mengatasi kecemasan

Anak-anak bisa melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi kecemasan, misalnya dengan menarik napas dalam secara teratur, menghitung mundur dari 100, atau ke ruangan yang aman dan nyaman di rumah. Buat ruangan di rumah yang nyaman untuk anak, misalnya kamar tidur atau ruang bermain. Sediakan sesuatu yang bisa disentuh seperti selimut, boneka, atau bola stress. Persiapkan aktivitas di dalam ruangan seperti membaca buku, menggambar atau menonton video.

  1. Fokus kepada hal yang bisa dikontrol

Ajarkan anak untuk fokus pada hal yang bisa mereka kendalikan, seperti menyelesaikan pekerjaan hari ini, mengucapkan aku sayang kamu atau menggambar untuk guru dan teman. Ajarkan anak untuk aktivitas pencegahan penyakit, seperti cuci tangan dan jaga jarak.

  1. Dorong anak untuk berpikir positif

Anda bisa meminta anak untuk menceritakan apa yang mereka pikirkan, lalu bantu anak menjelaskan berdasarkan fakta atau menerangkan sebab akibat dengan konstruksi yang positif. Selalu bersyukur untuk apa yang sudah didapat bersama anak Anda, dengan fokus kepada percakapan yang menyenangkan, sehingga mood mereka akan membaik.

  1. Tetap berhubungan dengan sesama

Penting sekali untuk tetap berelasi dengan orang lain dalam masa isolasi ini. Dengan telepon, video call, menggambar untuk teman sekelas atau guru atau mengirim surat atau email. Kita bisa mendesain jendela rumah kita atau membuat masker.

  1. Minta pertolongan tenaga Kesehatan/professional

Jika gejala cemas terus menetap atau sulit dikendalikan maka Anda perlu mendiskusikan dengan dokter atau psikolog. Tanda bahwa anak membutuhkan bantuan salah satunya adalah tidak bisa menyelesaikan tugas harian, tidak mau terlibat dalam aktivitas yang dahulu mereka sukai, atau tidak bisa tidur sehingga mempengaruhi aktivitas dan pola makan.

Semoga keluarga kita selalu sehat dalam masa pandemi ini dan kita bisa melewati dan melakukan penyesuaian yang terbaik untuk anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber: https://www.childrens.com/health-wellness/8-tips-for-managing-childrens-anxiety-about-covid-19

Mengenal Ragam Kontrasepsi

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu dan Ayah sudah tau ragam-ragam kontrasepsi? Mari kita kenali jenis-jenisnya agar Ibu dan Ayah dapat menentukan jenis kontrasepsi yang nyaman.

Tujuan dari digunakannya kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, dan mengakhiri masa kehamilan. Idealnya, kontrasepsi memiliki harga yang tidak terlampau mahal, mudah digunakan dengan efek samping yang minimal, siklus menstruasi dapat segera kembali normal saat dihentikan, mudah didapatkan, memiliki tingkat efektivitas yang tinggi, dan dapat digunakan oleh orang non medis.

Jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia saat ini ada bermacam-macam:

  1. Alami:

Contoh kontrasepsi alami adalah seperti metode kalender, pantang berkala, dan pemeriksaan lendir serviks. Pada dasarnya, kontrasepsi jenis ini bertujuan agar Ibu dapat mengetahui kapan masa subur sehingga dapat mencegah terjadinya pembuahan dan tidak terjadi kehamilan.

  1. Penghalang atau barrier:

Jenis kontrasepsi yang termasuk penghalang adalah spermisida atau kondom. Pemakaian kondom selain cukup efektif dalam mencegah kehamilan, juga bisa mencegah dari terjadinya Penyakit Menular Seksual.

  1. Hormonal:

Contoh kontrasepsi yang mengandung hormon yaitu pil, suntikan seperti DMPA, atau implan. Kontrasepsi hormonal dapat mengandung satu jenis hormone atau dua (kombinasi). Hormon tunggal hanya mengandung hormon progestin seperti pil, suntikan berupa DMPA, dan implan. Sedangkan, kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung hormon progestin dan estrogen, seperti pil dan suntikan.

Kontrasepsi hormonal memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi hingga 99%. Namun, perlu diingat bahwa pemakaian kontrasepsi ini tidak melindungi dari penyakit menular seksual. Pil dan suntikan relatif sangat mudah untuk digunakan, namun untuk implant membutuhkan tenaga medis untuk pemasangannya.

  1. Non hormonal:

Spiral atau intrauterine device (IUD) adalah jenis kontrasepsi non hormonal. Jenis ini memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi, yaitu > 97%. Namun, pemasangannya membutuhkan keterampilan dari tenaga medis.

  1. Kontrasepsi mantap:

Kontrasepsi mantap adalah tindakan sterilisasi yang dapat terdiri atas vasektomi (pada laki-laki) dan tubektomi (pada perempuan). Jenis kontrasepsi ini bersifat permanen, meskipun pernah tercatat terjadi kehamilan pada penggunanya. Angka kegagalannya berkisar antara 0,8% sampai dengan 3,7%. Untuk membuka kembali kontrasepsi jenis ini membutuhkan tindakan operatif dengan angka keberhasilan yang relatif kecil.

Bila Ibu dan Ayah ingin menunda masa kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, Ibu dapat menggunakan jenis kontrasepsi pil, IUD, suntik, atau implan. Sedangkan, untuk mengakhiri kehamilan, pilihan yang paling tepat adalah kontrasepsi mantap atau steril. Namun selain itu Ibu juga dapat menggunakan IUD.

Pada keadaan khusus seperti Ibu menyusui, pasca melahirkan, pasca keguguran, atau kedaruratan, maka pilihan kontrasepsinya pun khusus. Maka dari itu, Ibu harus berkonsultasi lebih dahulu ke tenaga kesehatan terdekat, misalnya bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kandungan.

Metode kontrasepsi ternyata ada banyak jenisnya ya, Ayah dan Ibu. Semoga dengan mengetahui ragamnya, Ayah dan Ibu dapat menentukan pilihan yang terbaik.

Editor: dr. Nurul Larasati

Menjaga Kebersihan Rongga Mulut Diri dan Keluarga di Masa Pandemi

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora, pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia benar-benar telah mengubah cara kita dalam mengakses pelayanan kesehatan yah.. Tidak terkecuali dalam hal perawatan gigi.

Virus ini tidak pandang bulu dan dapat mengenai siapapun, dapat ditularkan melalui droplet yang dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Bahkan saat seseorang sedang melakukan pembicaraan normal (yang seringkali kita abaikan). Partikel droplet yang besar (yang dapat terlihat / kasat mata) dapat mendarat dalam jarak beberapa meter dari kita, namun partikel yang lebih kecil dapat melayang di udara dan jatuh pada jarak yang lebih jauh. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk selalu menggunakan masker saat bepergian, sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah,  serta mengatur jarak aman dengan orang sekitar. Selain itu, kebiasaan buruk meludah sembarangan juga harus dihentikan. Hal-hal tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita terlebih lagi keluarga yang kita sayangi.

Bisakah kita tetap pergi ke dokter gigi dalam masa pandemi ini?

Hampir semua pelayanan gigi hanya melayani tindakan kegawatdaruratan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan kunjungan ke dokter gigi, terlebih dahulu pastikan perawatan apa saja yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat maupun yang biasa dikunjungi. Sebisa mungkin, hindari melakukan kunjungan tanpa melakukan perjanjian. Bersiaplah apabila mengalami penundaan ataupun pembatalan, bahkan untuk jadwal perawatan yang telah dibuat jauh hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi ini?

Pandemi COVID-19 ini sepertinya akan tetap berada di sekitar kita selama beberapa bulan ke depan, atau terburuknya, bahkan dalam jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, selama Anda tidak memiliki kasus kegawatdaruratan, maka menjaga kebersihkan gigi dan mulut sangatlah penting.

Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain

Tidak peduli seberapa dekat hubungan anda dengan orang sekitar yang tinggal serumah dengan Anda (bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun), jangan pernah bertukar / berbagi sikat gigi Anda dengan siapapun. Sikat gigi adalah barang personal yang tidak seharusnya dapat dipinjamkan / diberikan pada orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara baik virus, maupun penyakit lain dapat ditularkan. Pastikan juga untuk menyimpan sikat dalam gelas secara terpisah satu sama lain dengan anggota keluarga lainnya, dan jangan menyimpan sikat gigi dalam wadah tertutup terutama bila baru saja digunakan agar tidak lembab.

  • Gantilah sikat gigi Anda secara rutin

Gantilah sikat gigi paling tidak 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat apabila bulu sikat sudah terlihat rusak sebelum jangka waktu tersebut. Hal ini sangat penting agar Anda dapat tetap menyikat gigi dengan efektif, karena bulu sikat yang telah rusak tidak dapat membersihkan dengan maksimal. Mengganti sikat gigi Anda secara rutin dapat meminimalkan penyebaran bakteri. Apabila sebelumnya Anda telah terinfeksi virus Corona, maka segera ganti sikat gigi Anda.

  • Pastikan untuk menutup penutup toilet sebelum disiram

Tempat penyimpanan sikat gigi pada saat tidak dipakai sangatlah penting. Bila tempat penyimpanannya dekat dengan toilet, maka setiap seseorang melakukan prosedur penyiraman / flushing, maka ada kemungkinan cipratan beserta virus maupun bakteri yang dapat keluar dari toilet dan mendarat pada permukaan sikat gigi. Oleh karena itu, pastikan letak sikat gigi anda tidak berdekatan dengan toilet dan lebih baik lagi tutuplah penutup toilet sebelum disiram.

  • Bersihkan kamar mandi secara rutin

Kamar mandi kita adalah tempat dimana kita biasanya membersihkan diri, serta menyimpan sikat gigi, handuk, dan beberapa barang personal lainnya. Oleh karena itu, bersihkan kamar mandi secara teratur dengan produk berbahan dasar pemutih.

  • Jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal mendasar

Sikat gigi Anda 2 kali sehari (saat pagi dan malam menjelang tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Gunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak dapat terjangkau sikat gigi. Selain itu, perbanyak minum air putih dan kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Computer Vision Syndrome

 

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Tak terasa sudah hampir 3 bulan selama pandemi COVID-19 ini kita berada di rumah saja guna memutus rantai penularan infeksi COVID-19. Hal ini pasti membuat ayah dan ibu Kejora harus bekerja dari rumah (work from home) dengan menggunakan komputer/laptop/ipad sementara adik-adik kejora otomatis harus sekolah juga dari rumah (school from home) yang tentu saja menggunakan media komputer ataupun laptop. Pada generasi millennial, teknologi elektronik seperti komputer sangatlah popular apalagi di masa pandemi ini, anak-anak menggunakan komputer selain untuk sarana rekreasi/bermain games juga untuk belajar karena tidak memungkinkan untuk datang ke sekolah Sebelum adanya pandemic COVID-19 saat ini, laporan oleh “The Vision Council” pada tahun 2015 dikatakan bahwa 1 diantara 4 anak di US menghabiskan waktu di depan komputer/alat elektronik digital lebih dari 3 jam dalam 1 hari. Peningkatan penggunaan media-media elektronik ini mengakibatkan terjadinya kondisi yang disebut Computer Vision Syndrome (CVS) yang akan saya bahas kali ini., apa itu Computer Vision Syndrome, penyebabnya dan bagaimana gejalanya serta apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi CVS ini. Yuk mari kita mulai…

 

Apa itu Computer Vision Syndrome (CVS)?

Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan suatu kumpulan/kelompok gejala pada mata dan penglihatan akibat penggunaan komputer, laptop, ipad, tablet, notebook dan handphone yang lama. Computer Vision Syndrome ini tidak hanya menyerang pada orang dewasa saja namun anak-anak juga dapat mengalami ini. Pada suatu penelitian dikatakan jika seseorang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam di depan komputer/laptop/handphone/ipad/notebook memiliki risiko 90 % untuk menderita CVS. Menurut penelitian di Universitas California (Berkeley School of Optometry) terdapat hubungan / korelasi yang kuat antara lama waktu anak di depan komputer dengan risiko miopia (rabun jauh), jadi anak yang menggunakan komputer dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita miopia (rabun jauh).

 

Apa tanda dan gejala CVS?

Tanda dan gejala yang dapat terjadi akibat CVS antara lain :

  1. Kelelahan pada mata

Gambar 1. Gambaran kelelahan pada mata karena terlalu lama menatap layar komputer

  1. Penglihatan buram

Gambar 2.  Gambaran anak yang berusaha menutup mata sementara karena penglihatan buram akibat terlalu lama menatap komputer

  1. Penglihatan dobel
  2. Mata berair
  3. Mata merah

Gambar 3.  Gambaran mata merah

  1. Mata gatal dan berair pada anak-anak sering dilakukan mengucek-ucek mata

Gambar 4.  Gambaran khas mata kering pada anak yaitu anak mengucek matanya

  1. Sakit Kepala

Gambar 5.  Gambaran anak sakit kepala akibat terlalu lama akomodasi di depan komputer

Apa saja penyebab dari CVS ini ?

  1. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi
  2. Jarang berkedip
  3. Penerangan yang redup/kurang
  4. Glare pada layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad
  5. Terlalu lama menatap layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad tanpa adanya jeda/istirahat
  6. Jarak antara mata dengan layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ ipad terlalu dekat
  7. Posisi duduk yang salah/tidak ergonomis
  8. Kombinasi dari faktor-faktor di atas

 

 Bagaimana cara mengatasi CVS ?

  1. Lakukan rule of 20-20-20 yang berarti : Setiap 20 menit , istirahat/hentikan menatap layar selama 20 detik untuk melihat 20 feet/6 meter. Pada saat anak sedang belajar (SFH) ingatkan untuk melakukan jeda selama kurang lebih 20 detik dengan cara melihat ke arah luar jendela (penglihatan >6 meter memberikan istirahat pada otot mata).
  2. Pada anak-anak usia 2-5 tahun  screen time disarankan maksimal 1 jam/hari dengan waktu yang dipisah-pisah/terbagi (tidak disarankan langsung 1 jam)
  3. Pastikan pencahayaan cukup pada saat anak sedang belajar ataupun bermain dengan komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad dan disarankan untuk tidak menghadap sumber cahaya ataupun membelakangi (paling baik sumber cahaya dari samping)

  1. Pada layar computer dapat diberi anti glare atau bagi anak yang sudah menggunakan kacamata dapat memasang anti refelective coating pada kacamatanya untuk mengurangi risiko glare yang berasal dari komputer

  1. Posisikan layar komputer berjarak 40-75 cm dari mata dan 15 derajat di bawah eye level anak serta posisi meja di sesuaikan dengan posisi duduk anak yaitu tidak terlalu tinggi maupun tidak terlalu rendah serta kaki anak tidak menggantung. Tinggi kursi yang ideal yaitu setinggi lutut anak.

  1. Ingatkan posisi duduk anak yang baik (jangan membungkuk atupun kaki menggantung)

  1. Lakukan berkedip sesering mungkin (1 menit = 15-20 kali) dan strectching pada saat istirahat/jeda melihat layar komputer (anak dapat berdiri ataupun melakukan gerakan senam kecil) seperti contoh di bawah ini

  1. Gunakan kacamata apabila memiliki kelainan refraksi
  2. Kontrol ke dokter ahli mata untuk dilakukan screening mata apabila memiliki kelainan refraksi sebaiknya kontrol rutin setiap 1 tahun sekali
  3. Makan-makanan dengan gizi yang seimbang (kaya akan vitamin A)

 

Referensi :

  1. Kozeis N. Impact of Computer use on Children’s vision. Hippokratia; 2009; 13: (4) : 230-231
  2. Valcheva K.P, Valcheva E K, Stateva DV, Statev KN. Computer Eye Syndrome in Children Aged 3 to 6 years. J IMAB 2016, 22(1):1075-77
  3. American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus AAPOS. Computer Vision Syndrome and Children . Diunduh dari : https://aapos.org/HigherLogic/System/DownloadDocumentFile.ashx?DocumentFileKey=3d8ebe8d-3a8a-b2cf-0d16-d7db044d61ef
  4. A Colorado Eye Center Practice. Children and Computer Vision Syndrome. Diunduh dari : https://www.sunrisevisioncare.com/children-computer-vision-syndrome/

 

Program Hamil: Merencanakan Kehamilan dengan Baik

 

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Kehamilan adalah sebuah proses luar biasa yang menyebabkan perubahan pada ibu, perkembangan janin, dan dinamika keluarga. Oleh sebab itu kehamilan harus direncanakan dan dipersiapkan dengan optimal. Berikut beberapa tips untuk merencanakan kehamilan dengan baik.

 

Waktu Program Hamil

  • Diskusikan dengan pasangan kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan kehamilan. Terkadang ada pasangan yang ingin langsung memiliki keturunan setelah menikah, ada yang ingin menunda. Sesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing dan jangan terbebani tekanan sosial.
  • Kenali kondisi tubuh masing-masing. Kehamilan akan lebih mudah dicapai dan lebih baik bila kondisi istri dan suami sehat, baik secara jasmani maupun mental-emosional. Jika ada kondisi medis atau riwayat penyakit sebelumnya, sebaiknya kondisi tersebut diatasi atau dikontrol terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan.
  • Asupan nutrisi yang baik dan seimbang tentunya juga akan mendukung terjadinya pembuahan, mempengaruhi pembentukan janin dan dapat mengurangi risiko penyakit pada ibu maupun janin selama masa kehamilan.

 

Hubungan Seksual saat Program Hamil

  • Waktu berhubungan seksual yang dianjurkan pada saat program hamil adalah setiap 2-3 hari.
  • Posisi berhubungan seksual & pencapaian orgasme pada perempuan tidak berhubungan dengan keberhasilan kehamilan.

 

Gaya Hidup saat Program Hamil

  • Selama program hamil, makanan sebaiknya bergizi lengkap dan seimbang (lihat contoh Isi Piringku). Kurangi konsumsi makanan instan, makanan yang banyak zat oksidatif seperti makanan yang banyak bagian gosongnya. Pilihlah jenis makanan yang berasal dari bahan makanan segar sehingga memiliki kandungan nutrisi tinggi, dengan memperhatikan porsi setiap jenis zat makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral), dan jangan lupa untuk memperhatikan asupan cairan dan melakukan aktivitas fisik.
  • Salah satu suplementasi yang dianjurkan pada saat program hamil adalah asam folat. Ibu hamil dapat mengonsumsi bahan makanan sumber yang mengandung asam folat tinggi seperti edamame, sayuran berdaun hijau seperti bayam atau selada, brokoli, alpukat, mangga, jeruk, jagung manis, kacang-kacangan dan biji-bijian.
  • Suplementasi vitamin lainnya harus dipertimbangkan terutama pada ibu malnutrisi dan ibu yang sering mengalami mual dan muntah sehingga asupannya berkurang. contoh: kalsium, zat besi, vitamin B6, vitamin D, seng, dll.
  • Ibu hamil harus memperhatikan berat badan sebelum hamil, serta rutin memperhatikan kenaikan berat badan selama kehamilan. Kenaikan berat badan yang terlalu berlebihan atau kurang akan berisiko pada kesehatan ibu dan janin.
  • Upayakan gaya hidup sehat. Kebiasaan seperti merokok (termasuk rokok elektrik) dan konsumsi alkohol sebaiknya dihentikan pada istri dan suami pada saat program hamil. Konsumsi kafein dibatasi menjadi 1-2 gelas per hari.

 

 

Kapan Harus Program Hamil ke Dokter?

  • Sekitar 50% pasangan baru menikah akan hamil dalam 6 bulan pertama, dan 80% akan hamil dalam 1 tahun pertama pernikahan.
  • Bila sudah 1 tahun menikah dan berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi dan belum hamil, kondisi ini disebut infertilitas. Infertilitas terjadi pada sekitar 1 dari 7 pasangan (sekitar 15%).
  • Penyebab infertilitas adalah 30-40% faktor perempuan, 30% faktor laki-laki, dan 30% tidak diketahui penyebabnya.
  • Dianjurkan untuk program hamil ke dokter kandungan, bila:
    1. Sebelum 1 tahun: usia > 35 tahun, terdapat riwayat gangguan haid, perdarahan, nyeri haid hebat pada perempuan
    2. Setelah 1 tahun berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi.

  

Editor: @dr.kristinajoy

 

https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/how-can-i-increase-my-chances-of-getting-pregnant/

https://www.rcog.org.uk/en/patients/fertility/problems/

https://www.nhs.uk/conditions/infertility/

 

Gangguan Mood pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui  merupakan bentuk kerjasama tim. Bukan hanya membutuhkan partisipasi aktif seorang ibu dan bayinya, namun juga perlu disokong oleh beberapa faktor seperti pasangan, keluarga besar, kebijakan di lingkungan kerja dan komunitas.1

Salah satu cara memberdayakan ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui adalah dengan mengenali kondisi mental ibu yang  dapat menjadi hambatan dalam menyusui.

Gangguan psikiatri postpartum secara umum dibagi menjadi 3, yakni baby blues, postpartum psychosis, dan postpartum depression (depresi postpartum). Baby blues memiliki insidens global 300-750 per 1000 ibu. Kondisi ini merupakan gangguan psikiatri paling dini karena rasa sedih ibu saat bersama bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Namun pada 10-15% kasus, 1 kondisi ibu yang mengalami baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum.2

Depresi post partum terjadi pada 100-150 per 1000 ibu baru melahirkan dan perlu ditangani. Psikosis post partum merupakan kondisi psikosis yang muncul dalam empat minggu pertama postpartum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, gangguan psikiatri postpartum termasuk depresi postpartum diperkirakan mencapai 18.6% (interval kepercayaan 95% , 18.0-19.2%).2 Depresi postpartum ini bila dibiarkan dapat mengganggu hubungan ibu dengan bayinya. Anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki masalah kognitif, perilaku, dan interpersonal dibanding anak lainnya dengan ibu yang tidak memiliki kondisi yang sama. Anak-anak ini juga memiliki risiko lebih tinggi menderita berat badan kurang dan stunting.

Apabila seorang ibu menyusui merasakan ketidaksesuaian mood, segera cari pertolongan orang terdekat (suami, keluarga) maupun tenaga profesional (konselor, dokter, psikolog).

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

 

1 Webber E, Benedict J. Postpartum depression: A multi-disciplinary approach to screening, management and breastfeeding support.
Archives of Psychiatric Nursing, 2019;33(3):284-289.

2 Upadhyay RP, et al. Postpartum depression in India: a systematic review and meta-analysis. Bull World Health Organ 2017;95:706–717B
al.cfm.