Penyakit Kuning Pada Bayi Baru Lahir

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Adakah Ayah dan Ibu yang bayinya pernah mengalami penyakit kuning? Penyakit kuning pada bayi baru lahir atau neonatal jaundice adalah perubahan warna kuning yang terutama tampak pada kulit dan mata akibat penumpukan bilirubin. Penyakit kuning ini merupakan kondisi umum terutama pada bayi usia 2-4 hari setelah dilahirkan, pada bayi prematur yang lahir sebelum usia 37 minggu kehamilan dan pada bayi yang konsumsi ASI-nya kurang. Hampir 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi prematur akan mengalami kuning.

Pada umumnya penyakit kuning pada bayi tidak berbahaya dan dapat pulih dengan sendirinya dalam hitungan hari hingga minggu. Bayi yang terkena penyakit kuning tidak membutuhkan pengobatan. Pemeriksaan laboratorium dan perawatan lainnya mungkin juga diperlukan jika ditemukan penyebab yang lebih serius.

 

Penyebab penyakit kuning pada bayi

Penyakit kuning ini terjadi karena bayi memiliki kelebihan bilirubin pada darahnya. Bayi baru lahir memiliki kadar sel darah yang tinggi sehingga memicu produksi bilirubin. Bilirubin sendiri terbentuk ketika sel-sel darah merah yang tua dihancurkan.

Organ hati bayi yang belum berkembang sempurna menyebabkan proses metabolisme bilirubin terhambat. Kondisi ini disebut penyakit kuning fisiologis. Bayi akan mulai menguning sekitar 24 jam setelah lahir dan akan memburuk setelah empat hari, setelah itu kembali membaik ketika berusia sekitar 1-2 minggu.

Penyakit kuning juga bisa disebabkan oleh hal lain, seperti infeksi, anemia hemolitik, kekurangan enzim, masalah pada sistem pencernaan bayi (terutama hati), atau masalah pada jenis darah ibu dan bayi (inkompatibilitas golongan darah dan rhesus (ABO dan Rh)), tetapi hal ini jarang terjadi. Bayi Ayah dan Ibu mungkin bisa mengalami masalah ini jika awitan timbul sebelum usia 24 jam.

 

Tanda bahaya pada penyakit kuning adalah:

  • Awitan timbul sebelum usia 24 jam.
  • Bayi tampak lebih mengantuk dari biasanya.
  • Penyakit kuning yang membutuhkan fototerapi.
  • Kadar bilirubin serum lebih dari 5 mg/dl per 24 jam.
  • Bayi menunjukkan tanda sakit.
  • Kuning yang menetap lebih dari 2 minggu.
  • Bayi mengalami demam lebih dari 37,8 derajat Celsius.

 

Faktor risiko

Bayi yang berisiko tinggi memiliki penyakit kuning adalah:

  • Bayi prematur (bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu).
  • Bayi yang tidak mendapatkan ASI atau susu formula yang cukup, biasanya kuning muncul pada hari kedua atau ketiga saat produksi ASI belum banyak.
  • Bayi yang memiliki golongan darah yang tidak sama dengan golongan darah ibunya. Biasanya timbul pada ibu dengan golongan darah O namun bayinya memiliki golongan darah A atau B, karena antibodi pada ibu yang masuk lewat plasenta menghancurkan sel darah merah bayi dan menyebabkan peningkatan kadar bilirubin.
  • Memiliki saudara kandung yang mengalami penyakit kuning sebelumnya.
  • Mengalami trauma saat persalinan (karena vaccum, atau persalinan yang lama).
  • Memiliki gangguan genetik tertentu.

 

Tanda dan gejala penyakit kuning

Umumnya, kondisi bayi kuning akan dimulai dari wajah, kemudian mulai turun ke dada, perut, serta tangan dan kaki. Kondisi ini bisa semakin sulit dideteksi jika bayi memiliki kulit gelap, sehingga hanya bisa dilihat di bawah sinar matahari.

 

Penanganan penyakit kuning

Penyakit kuning ringan pada bayi biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu, sehingga tidak memerlukan pengobatan atau tindakan medis khusus. Untuk mencegah kenaikan bilirubin berlebihan bisa dilakukan dengan memberikan asupan ASI yang cukup. Asupan tersebut bisa membantu bayi mengeluarkan bilirubin pada tubuhnya. Pemberian ASI bisa dilakukan sebanyak 8 hingga 12 kali dalam 24 jam. Jika memberikan susu formula, biasanya bisa diberikan sekitar 6 hingga 10 botol dalam 24 jam.

Hanya penyakit kuning yang cukup berat yang memerlukan penanganan medis berupa fototerapi. Fototerapi dilakukan dengan memberikan sinar cahaya spektrum biru-kehijauan dengan panjang gelombang 460-490 nm. Saat dilakukan fototerapi, mata bayi akan diberikan pelindung khusus dan hanya memakai popok saja sehingga permukaan tubuh bayi maksimal terpapar cahaya. Terapi ini relatif aman dan jarang menimbulkan efek samping.

Pada kasus bayi kuning yang sangat berat dan tidak berespon walaupun sudah dilakukan fototerapi, diperlukan terapi transfusi tukar. Transfusi darah dilakukan untuk mengganti darah bayi yang rusak dengan sel darah merah yang sehat. Selain itu, transfusi darah juga dilakukan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah bayi dan mengurangi tingkat bilirubin.

 

Komplikasi

Komplikasi terjadi bila kadar bilirubin darah terlalu tinggi dan tidak kunjung turun. Bilirubin bisa melewati sawar darah-otak, menyebabkan otak keracunan bilirubin. Bayi menunjukkan tanda penurunan kesadaran dan bila dibiarkan akan menyebabkan gangguan perkembangan otak permanen.

 

Daftar Pustaka

  1. Ansong-Assoku B, Ankola P. Neonatal Jaundice. [Updated 2019 Dec 5]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing;2020 Jan- Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532930/
  2. Brits H, Adendorff J, Huisamen D, Beukes D, Botha K, Herbst H, et al. The prevalence of neonatal jaundice and risk factors in healthy term neonates at National District Hospital in Bloemfontein. Afr J Prm Heal Care Fam Med. 2018;10(1):1–6.
  3. Mitra S, Rennie J. Neonatal jaundice: aetiology, diagnosis and treatment. Br J Hosp Med. 2017;78(12):699–704.
  4. Hegar B, Juffrie M, Mulyani NS, Widowati T, Damayanti W. Hiperbilirubinemia. In: Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED, et al., editors. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011. p. 114–22.
  5. Ullah S, Rahman K, Hedayati M. Hyperbilirubinemia in Neonates : Types , Causes , Clinical Examinations , Preventive Measures and Treatments : A Narrative Review Article. Iran J Public Health. 2016;45(5):558–68.
  6. Canadian Pediatric Society. Jaundice in newborns. Paediatr Child Health. 2007;12(5):409–20.
  7. Wan ASL, Mat Daud S, Teh SH, Choo YM, Kutty FM. Management of neonatal jaundice in primary care. Malays Fam Physician. 2016;11(2–3):16–9.

Keluhan Kulit pada Infeksi Covid-19: Haruskah Panik?

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Salam Sehat Ayah Ibu Kejora. Saat ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemic penyakit infeksi Covid-19. Hampir 3 juta orang telah terinfeksi di seluruh dunia, dan 200.000 orang meninggal karena penyakit ini. Sebagian besar pasien tidak memiliki gejala, dan gejala yang ditemukan pun tidak sama pada semua pasien. Mayoritas pasien mengalami gejala demam, gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak napas, gangguan penciuman dan indra perasa. Namun belakangan ini, terdapat banyak sumber dan berita yang menyatakan bahwa ruam kulit atau kelainan kulit merupakan salah satu gejala klinis infeksi Covid-19. Hal ini menyebabkan orang tua banyak yang panik ketika anak mengalami ruam kemerahan atau lesi kulit lainnya.

 

Apakah kuman Covid-19 dapat menyerang kulit dan menimbulkan kelainan kulit?

Berdasarkan data dari berbagai negara, kelainan kulit merupakan gejala Covid-19 yang cukup jarang ditemukan dan dilaporkan. Laporan mengenai gejala kulit yang pertama adalah di Cina, ditemukan 2 kasus dari 1099 kasus. Meski demikian, lesi kulit dan perkembangan lesi pada pasien tersebut tidak dilaporkan.

Setelah itu, berbagai laporan kasus dan serial kasus mulai bermunculan mengenai lesi kulit pada pasien Covid-19. Yang pertama adalah di Itali, yang mendeskripsikan kelainan kulit sebanyak 20% pada pasien Covid-19 di rumah sakit (18 dari 84 kasus). Terdapat beberapa kasus dimana kelainan kulit mendahului gejala lainnya. Sampai saat ini belum ada penelitian yang melihat apakah pada lesi kulit tersebut ditemukan Virus novel SARS-COV2 penyebab Covid-19 ini.

 

Apa saja kelainan kulit yang dapat ditemukan pada pasien anak Covid-19?

Lesi kulit yang ditemukan pada pasien Covid-19 cukup bervariatif dan tidak terlalu khas. Lesi kulit yang telah dilaporkan biasanya berupa :

  1. ruam atau lesi yang sering ditemukan pada kondisi demam, alergi atau infeksi virus lain (ruam merah tidak gatal, biduran, lenting seperti cacar, dan bintik-bintik merah karena perdarahan atau petechie)

    Ruam merah tidak gatal                                           biduran

  1. lesi kulit karena gangguan pembuluh darah (ujung jari kebiruan atau kematian jaringan, ruam merah keunguan seperti pembuluh darah dan bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain). Terdapat keluhan nyeri atau gatal.

bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain

ruam merah keunguan seperti pembuluh darah (Livedo reticularis)

 

Kelainan kulit pada anak yang mengalami Covid-19 sampai saat ini baru dilaporkan sebanyak 2 kasus. Satu kasus anak berusia 8 tahun dengan keluhan ruam dan bintil merah diseluruh tubuh, seperti pada infeksi campak. Kasus lainnya terjadi pada anak usia 13 tahun dengan keluhan ruam merah keunguan di jari kaki, yang kemudian menjadi keropeng kehitaman (chillblain). Namun angka ini kemungkinan akan terus bertambah dan akan didapatkan data yang lebih lengkap.

Selain chilblain, kelainan kulit yang ditemukan tidak terlalu khas, gangguan pembuluh darah dan bisa ditemukan pada penyakit lain, misalnya alergi obat, demam berdarah dengue, infeksi virus seperti cacar, campak dan kelainan pada pembuluh darah.  Perlu diingat bahwa pasien Covid-19 biasanya mendapatkan banyak terapi obat, sehingga harus dipikirkan juga kemungkinan reaksi alergi terhadap obat.

 

Jika pada anak timbul lesi tersebut, bagaimana menyikapinya?

Apabila anak mengalami ruam kulit atau kelainan kulit lainnya, tidak perlu panik dan terlalu takut akan infeksi Covid-19, namun juga jangan dianggap tidak penting. Konsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin melalui konsultasi online (telemedicine) terlebih dahulu untuk dilihat apakah:

  1. Terdapat keluhan yang menjurus ke arah infeksi Covid-19 seperti demam, batuk, sesak napas, hidung tersumbat, flu, gangguan perasa dan penciuman
  2. Terdapat riwayat kontak dengan pasien Covid-19 atau pasien dalam pengawasan dalam 2 minggu terakhir, atau pasien yang telah sembuh kurang dari 2 minggu.
  3. Terdapat riwayat berpergian keluar kota/negeri dalam 2 minggu terakhir dan/atau kontak dengan orang dengan riwayat bepergian
  4. Orang tua atau orang di rumah merupakan orang dengan risiko tinggi, misalnya tenaga kesehatan atau pekerja esensial lainnya yang masih kontak dengan banyak orang.
  5. Keluhan kulit lebih mungkin disebabkan oleh hal lain seperti alergi obat, iritasi, ataupun infeksi virus lain, jamur atau bakteri.

 

Apabila ada kecurigaan kearah Covid-19, akan dianjurkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti pemeriksaan darah, rontgen ataupun pemeriksaan mikrobiologi. Sebaiknya bawa anak ke rumah sakit yang sudah memiliki prosedur pemeriksaan Covid-19 (swab PCR, Rontgen atau CT Scan, Rapid test) dan memiliki protocol keamanan yang baik (konsultasi dengan perjanjian, desinfektan pada alat pemeriksaan, alat pelindung diri yang sesuai pada tenaga medis dan anak, dan konsultasi dengan social distancing).

 

Referensi

  1. World Health Organization. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200419-sitrep-90-covid19.pdf?sfvrsn=551d47fd_2
  2. Guan WJ, Ni ZY, Hu Y, et al. Clinical Characteristics of Coronavirus Disease 2019 in China. N Engl J Med. 2020.
  3. Suchonwanit P, Leerunyakul K, Kositkuljorn C. Cutaneous manifestations in COVID-19: Lessons learned from current evidence. J Am Acad Derm. 2020
  4. Recalcati S. Cutaneous manifestations in COVID-19: a first perspective. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2020.
  5. Marzano AV, Genovese G, Fabbrocini G, Pigatto P, Monfrecola G, PiracciniBM, Veraldi S, Rubegni P, Cusini M, Caputo V, Rongioletti F, Berti E, Calzavara-Pinton P, Varicella-like exanthem as a specific COVID-19-associated skin manifestation: multicenter case series of22 patients, Journal of the American Academy of Dermatology (2020)

 

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Manajemen Kesehatan Gigi selama Bulan Ramadan dalam Kondisi Pandemi Covid-19

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo keluarga Kejora!

Ramadan adalah bulan ke-9 dalam penanggalan hijriah. Bulan suci yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini disebabkan dalam bulan Ramadan ada aktivitas penting yang dilakukan oleh seorang muslim dalam waktu sebulan penuh yakni, berpuasa.

Puasa merupakan salah satu rukun islam, yakni melakukan ibadah dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bulan Ramadan kali ini cukup berbeda, dengan adanya pandemi wabah penyakit Covid-19. Beberapa kebijakan diberlakukan seperti pembatasan sosial, menjaga jarak, hingga bekerja, bersekolah dan beribadah dari rumah dengan tujuan mengurangi jumlah orang terkena virus Covid-19,

Meski harus melakukan kegiatan dari rumah, namun kita tetap harus menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan tubuh agar selalu sehat dan keluar rumah seperlunya. Salah satu organ tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama bulan puasa adalah kesehatan gigi.

Sakit gigi disaat menjalankan ibadah puasa tentu tidak nyaman, karena akan mempengaruhi kualitas ibadah saat sakit timbul. Namun, dokter gigi saat ini menjadi salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi dapat terinfeksi virus Covid-19. Hal ini disebabkan kontak yang terlalu erat antara dokter gigi dan pasien serta percikan ludah atau air liur pasien yang dapat melekat pada permukaan alat, fasilitas kesehatan bahkan dokter gigi itu sendiri

Oleh karena itu, terdapat anjuran dari PDGI ( Persatuan Dokter Gigi Indonesia) bahwa dokter gigi dapat membantu pasien yang membutuhkan perawatan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri level 3 ( gambar terlampir ) dan hanya dapat menangani tindakan yang bersifat gawat darurat seperti ;

  1. Gusi bengkak karena infeksi
  2. Sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan
  3. Pendarahan yang tidak terkontrol
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan

Jadi bila terdapat keluhan pada gigi yang bersifat gawat darurat, anda tetap bisa melakukan perawatan. Tetapi bila tidak ada kondisi darurat sebaiknya anda menunda jadwal kunjungan ke dokter gigi di situasi pandemi. Beberapa hal dibawah ini juga harus diingat sebelum datang ke praktik dokter gigi :

  • Konsultasi keluhan gigi terlebih dahulu ke dokter gigi, untuk menentukan apakah perawatan bisa dilakukan atau tunda
  • Peralatan APD ( Alat Pelindung Diri ) dokter gigi dalam praktik menggunakan APD level 3
  • Buat perjanjian ke jadwal kunjungan untuk menghindari kontak dengan pasien lain
  • Tetap menjaga kebersihan saat datang ke dokter gigi dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan etika cuci tangan dengan bersih

Selain itu tetap jaga kebersihan gigi secara teratur agar mengurangi risiko sakit sehingga harus datang ke praktik dokter gigi.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi di bulan Ramadan :

  1. Bau mulut

Ibadah puasa dengan tidak makan atau minum dalam waktu cukup lama, membuat mulut kering. Hal ini karena produksi saliva menurun dan tidak bisa menetralkan asam di dalam mulut sehingga timbul halitosis atau bau mulut. Untuk menghindari bau mulut tetap lakukan sikat gigi 2x sehari pada waktu pagi dan malam hari dan jaga kebersihan gigi dan mulut

  1. Beri jeda untuk sikat gigi setelah makan

Banyak orang berpikiran bahwa setelah makan harus langsung menyikat gigi agar sisa makanan tidak melekat di permukaan gigi dan membuat mulut menjadi segar. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Setelah makan sebaiknya seseorang memberi jeda sekitar 30 menit sebelum sikat gigi. Hal ini agar menetralkan asam yang berasal dari konsumsi makanan, sehingga tidak merusak lapisan enamel

  1. Gunakan Dental Floss

Seringkali sisa makanan terdapat di sela gigi dan sulit dijangkau oleh sikat gigi. Jangan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkannya karena akan mengiritasi gusi, namun gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan pada sela gigi

  1. Minum cukup air putih

Tubuh harus memiliki cukup cairan, saat puasa pun tetap harus menjaga konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi. Sebaiknya konsumsi 8 gelas air setiap hari, dengan pembagian 2 saat berbuka puasa, 4 malam dan 2 saat sahur

  1. Pemberian obat

Bila ada rasa sakit atau infeksi, dapat menghubungi dokter gigi anda untuk melakukan pengecekan terhadap gigi yang bermasalah. Apabila diberikan resep obat, bisa dikonsumsi dengan periode waktu tertentu seperti sahur, berbuka puasa atau saat menjelang tidur

  1. Konsumsi buah dan sayur dengan cukup

Kebutuhan nutrisi vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Sayur dan buah dapat memberikan vitamin dan mineral untuk menghindari penyakit mulut

  1. Hindari konsumsi makanan dengan bau berlebihan

Hal ini untuk mengurangi risiko bau mulut selama menjalankan ibadah puasa

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26147170/
https://www.researchgate.net/publication/279195908_Ramadan_fasting_and_dental_treatment_considerations_A_review
PB PDGI ( Pengurus Besar –  Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

Pemberian Makan Bayi dan Anak selama Pandemi

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu tentu tahu bahwa nutrisi menjaga pertumbuhan sehat, meningkatkan perkembangan otak bayi dan anak, dan memperkuat sistem imun, sehingga mengurangi risiko terinfeksi virus atau penyakit terlebih lagi di saat pandemic seperti sekarang ini.

Nutrisi sangat penting pada 2 tahun pertama kehidupan anak. Nutrisi yang sesuai dengan usia anak akan mengurangi risiko overweight atau obesitas di kemudian hari, juga terhindar dari penyakit kronis di masa depan kehidupan.

Tetap teruskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bagi bayi usia 6 bulan ke atas, mulai berikan MP-ASI dari bahan makanan segar dan bukan makanan olahan mengandung komposisi dari 4 grup jenis makanan (karbohidrat, protein dan lemak dari lauk hewani, nabati, sayur, serta buah) setiap harinya.

Nutrisi yang beragam dapat meningkatkan sistem imun anak. Berikan pola makan sehat seimbang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, tak lupa sayur dan buah-buahan berwarna oranye/kuning, juga sayuran berwarna hijau tua. Ingatkan anak untuk minum air 8–10 gelas setiap harinya (termasuk dari makanan, misal sup, buah dan sayur berair seperti timun, tomat, bayam, jamur, melon, brokoli, jeruk, apel). Hindari pemberian makan makanan mengandung gula, garam, dan lemak jenuh/trans berlebihan.

Selalu utamakan makan makanan yang berasal dari masakan rumah dari bahan segar alami secara higienis untuk menjaga kualitas makanan keluarga. Dengan memasak makanan sendiri di rumah, Ayah dan Ibu mengetahui dengan jelas apa saja bahan-bahan masakan yang digunakan, dibandingkan membeli makanan jadi/junk food dari luar rumah. Ajak anak yang berusia lebih besar untuk membantu di dapur atau menyiapkan makanan di meja. Makan makanan rumah bersama keluarga mengurangi risiko kontak dengan virus.

Berikut panduan pemberian makan bagi bayi dan anak sesuai usia:

  • Usia 6–8 bulan: berikan makan 2–3 kali per hari dengan porsi setiap makan 2–3 sendok makan bertahap hingga ½ gelas atau 125 ml, konsistensi lumat/saring. Siapkan bubur saring/lumat dan tambahkan telur/daging matang, dan sayur. Buah dapat diberikan di jam selingan/snack. Jika bahan makanan segar tidak tersedia karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), maka dapat digantikan dengan makanan keluarga yang ditumbuk (mashed) atau dibuat puree. Bila terpaksa, dapat digunakan produk kalengan/frozen dengan kandungan gula dan garamnya rendah. Konsistensi makanan lumat/saring yang diharapkan yaitu makanan cukup kental sehingga dapat menempel pada sendok. Makanan lumat/saring yang terlalu encer akan cepat membuat perut bayi terasa kenyang.
  • Usia 9–11 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap makan ½ gelas bertahap hingga ¾ gelas atau 200 ml, konsistensi lembik. Usia 9–11 bulan, bayi mulai belajar mengunyah makanan sehingga dapat mengonsumsi lauk yang dipotong kecil-kecil.
  • Usia 12–24 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap kali makan nasi ¾ gelas, lauk hewani 1 potong kecil, lauk nabati 1 potong kecil, ¼ gelas sayur, 1 potong buah. Anak mulai makan makanan keluarga dan makan sendiri dari piringnya. Tambahkan 1–2 selingan/snack sehat berupa buah atau sayur berupa potongan kecil-kecil dan lembut agar dapat digunakan sebagai finger foods. Pisang merupakan contoh yang dapat digunakan sebagai snack Hindari pemberian cemilan asin seperti keripik kemasan atau manis (kue kering, cake, coklat) atau minuman soda/konsentrat jus buah/sirup atau susu dengan rasa yang dapat dibeli dengan harga murah. Jenis makanan/minuman tersebut membahayakan kesehatan anak karena mengandung tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan kimiawi.
  • Jika terpaksa, bijak dalam memilih makanan instan bagi bayi/anak. Perhatikan kandungan nutrisi, pilihlah makanan yang tidak mengandung tinggi gula, garam, atau lemak trans/jenuh, serta seimbangkan dengan masakan rumah dari bahan segar.

Berikut panduan pemberian makan sesuai jenis makanan:

  • Protein diberikan sebanyak 2–3 porsi sehari. Protein hewani ikan (salah satunya jenis oily fish) minimal 2 kali per minggu. Kacang-kacangan merupakan protein nabati dan disarankan bagi anak di atas usia 5 tahun.
  • Buah untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–13 tahun sebanyak 350 ml
  • Sayur untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–8 tahun sebayak 350 ml per hari. Variasikan sayuran antara lain sayuran dengan daun berwarna hijau, sayuran warna merah dan oranye.
  • Usahakan /tidak memasak sayur dan buah ovecooked karena dapat kehilangan beberapa sumber vitamin.
  • Jika terpaksa harus memakan sayur buah kalengan/kering, pilihlah tanpa tambahan garam atau gula.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: Unicef, WHO EMRO, Perinasia Pelatihan MPASI

Perlukah Konsumsi Suplemen Vitamin C untuk Mencegah COVID-19?

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Keluarga Kejora! Tidak terasa ya, sudah lebih dari dua bulan sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Ayah dan Ibu Kejora pasti sudah mengetahui saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Ayah dan Ibu Kejora mungkin juga bertanya-tanya, “Apakah ada suplemen yang dapat dikonsumsi untuk mencegah penyakit ini?”. Salah satu suplemen yang banyak dipertanyakan oleh masyarakat adalah vitamin C. Bagaimana sebenarnya faktanya? Apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah COVID-19?

Vitamin C adalah mikronutrien penting yang berperan sebagai antioksidan dan telah terbukti dapat mencegah terjadinya berbagai kanker. Vitamin C secara alami bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayuran seperti jeruk, anggur, kiwi, tomat, brokoli, dan bayam. Kadar vitamin C yang diperoleh dari mengonsumsi 5 porsi buah dan sayuran per hari adalah sebesar 200 mg; cukup untuk kebutuhan tubuh kita, karena kadar vitamin C minimal yang kita butuhkan adalah 100-120 mg/hari. Lalu, apakah suplemen vitamin C dalam bentuk tablet ataupun injeksi berguna dalam mencegah infeksi? Ada sebuah literatur yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian mengenai hubungan antara suplemen vitamin C dengan common cold alias batuk pilek. Ternyata, literatur tersebut menyimpulkan tidak adanya peran yang bermakna dari konsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi (dosis 200 mg atau lebih) dalam mencegah timbulnya common cold. Selain itu, diketahui pula bahwa tidak terdapat hubungan antara konsumsi suplemen vitamin C dengan tingkat keparahan dan lama infeksi common cold, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Kemudian, bagaimana sih pengaruh suplemen vitamin C pada pasien-pasien COVID-19? Mengingat bahwa penyakit ini masih sangat baru, maka berbagai obat dan suplemen yang berpotensi dapat meringankan dan/atau menyembuhkan penyakit ini, masih sedang diteliti, sehingga belum dapat ditarik suatu kesimpulan. Salah satu penelitian yang akan dilakukan adalah sebuah penelitian di Amerika Serikat yang memberikan vitamin C melalui infus pada pasien COVID-19 dewasa yang tergolong berat. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah suplementasi vitamin C dapat membantu menurunkan jumlah kematian dan menurunkan tingkat keparahan pasien COVID-19. Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian yang menganalisis peran suplemen vitamin C untuk mencegah COVID-19. Oleh karena itu, belum diketahui apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah seseorang tertular dan terinfeksi COVID-19. Semoga hasil penelitian-penelitian yang sedang berlangsung nantinya membawa kabar baik untuk kita semua ya, Keluarga Kejora!

Nah, sembari menunggu hasil penelitian vaksin yang dapat mencegah penyakit COVID-19, Keluarga Kejora tetap dapat menerapkan prinsip hidup sehat seperti tidur cukup, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal, makan makanan yang bergizi dan seimbang, melakukan physical distancing, selalu memakai masker apabila terpaksa bepergian, dan rajin mencuci tangan dengan cara yang benar.

Sehat selalu ya, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Dinda Laras Chitadianti

Referensi

  1. Hemilä, H. Vitamin C and infections. Nutrients 2017;9(339):1-28
  2. Hemilä H, Chalker E, Treacy B, Douglas B. Vitamin C for preventing and treating the common cold. Cochrane Database of Systematic Reviews. In: The Cochrane Library, Issue 3, Art. No. CD000980. DOI: 10.1002/14651858.CD000980.pub1
  3. Kashioris MG. Early infusion of Vitamin C for treatment of novel COVID-19 acute lung injury (EVICT-CORONA-ALI). ClinicalTrials.gov
  4. National Institutes of Health. Vitamin C- fact sheet for health professionals. Available at https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminC-HealthProfessional/#h3

Parenting during Pandemic


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia! Bagaimana kabar Ayah dan Bunda? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Saat ini kita bersama-sama sedang mengalami pandemi Covid-19 secara global. Tentu, pendemi ini membawa banyak perubahan ya. Kita harus bekerja, belajar, beraktivitas, dan beribadah dari rumah. Ayah dan Bunda harus bekerja dari rumah, mengurus kebutuhan rumah tangga, menemani dan mendampingi si kecil yang belajar di rumah. Belum lagi jika si kecil rewel dan kita sedang banyak sekali pekerjaan, sambil terus menjaga kesehatan keluarga kita.

Perubahan dan tekanan yang kita hadapi ini, bisa membuat Ayah dan Bunda, serta si kecil menjadi rentan terhadap stress. Untuk itu, kita perlu bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, termasuk beradaptasi dengan perubahan peran dalam parenting. Yuk, simak bagaimana Ayah dan Bunda bisa beradaptasi dan ber-partner dalam proses parenting selama pandemi global ini!

Parenting = Partnering

Pertama-tama, Ayah dan Bunda perlu memahami, bahwa parenting adalah partnering. Artinya, Ayah dan Bunda memiliki peran yang sama penting dan perlu bekerja sama dalam merawat dan mendidik si kecil. Hubungan yang positif dalam ber-partner bersama pasangan, akan memudahkan Ayah dan Bunda menjadi partner yang baik dalam parenting. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi Ayah dan Bunda untuk bisa saling ber-partner demi menciptakan sinergi positif selama #dirumahaja. Bagaimana bisa ber-partner dalam parenting di situasi pandemi seperti ini?

  1. Saling Mendukung. Dalam parenting, apalagi di saat seperti sekarang ini, dukungan emosional dari pasangan adalah hal yang amat diperlukan agar Ayah dan Bunda bisa selalu kuat dalam menghadapi ini semua. Jangan lupa untuk saling menghargai dan mengapresiasi pasangan kita ya, Ayah dan Bunda.
  2. Saling Berkomunikasi. Ayah dan Bunda perlu saling terbuka dan berdiskusi tentang pembagian peran, kesepakatan, dan aturan dalam mengurus si kecil di rumah. Komunikasi penting dibangun, sebagai antisipasi perubahan situasi yang sulit seperti sekarang ini. Selain itu, dengan komunikasi yang terbuka, akan memudahkan Ayah dan Bunda dalam membagi peran dan tanggung jawab selama #dirumahaja.
  3. Aktif Berpartisipasi. Dalam situasi pandemi global, Ayah dan Bunda perlu sama-sama saling mendukung dan aktif berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga dan merawat si kecil. Dengan aktif berpartisipasi dan saling berbagi tanggungjawab, tentu pekerjaan rumah tangga dan merawat si kecil tentu bisa lebih mudah dilakukan, bukan?
  4. Quality Time dengan Pasangan. Jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu berkualitas bersama pasangan ya, Ayah dan Bunda agar keharmonisan dalam rumah tanga tetap bisa terjaga. Sempatkan waktu untuk ngobrol berdua dengan pasangan, nonton di rumah, atau melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan berdua.

 

Selanjutnya, bagaimana tips dalam merawat si kecil selama pandemi ini?

  1. Berikan Briefing pada Si Kecil

Ayah dan Bunda bisa menjelaskan pada si kecil mengenai:

  • Situasi dan perubahan saat ini
  • Perbedaan belajar di rumah vs sekolah
  • Perubahan rutinitas, termasuk bila Ayah dan Bunda bekerja dari rumah

Hal ini akan membantu anak untuk antisipasi terhadap perubahan.

  1. Atur Schedule dan Kesepakatan

Mengatur ulang rutinitas harian, membuat schedule, dan kesepakatan bersama selama #dirumahsaja bisa membantu si kecil lebih disiplin. Hal ini juga membantu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi selama Ayah, Bunda, dan si kecil berada di rumah saja. Tips:

  • Buat rutinitas yang fleksibel namun konsisten
  • Buat jadwal (time line) yang jelas
  • Buat kesepakatan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak selama #dirumahsaja
  1. Team Work

Berkegiatan #dirumahsaja, bisa jadi sarana untuk Ayah dan Bunda memperkenalkan tanggung jawab dan melatih kemandirian si kecil, loh! Ajarkan si kecil mengenai daily life skill ya, Ayah dan Bunda! Lalu, ajak si kecil untuk bekerjasama dalam membangun kebiasaan selama di rumah.

  1. Work Station

Jika Ayah dan Bunda juga bekerja dari rumah, dan si kecil juga sekolah di rumah; Ayah dan Bunda bisa membuat suasana belajar dan bekerja yang kondusif. Misalnya, dengan menyiapkan ruangan / meja khusus untuk belajar dan bekerja yang minim distraksi. Hal ini akan membantu Ayah, Bunda, dan si kecil lebih fokus dan produktif selama beraktivitas #dirumahsaja.

  1. Ciptakan Jam Kerja Bersama

Atur jam kerja bersama agar Ayah, Bunda, dan si kecil bisa bersama-sama menyelesaikan tugas masing-masing.

  1. Siapkan Anak Belajar (dan Kita Bekerja)

Sebelum sekolah / kerja online, siapkan diri layaknya ketika kita dan si kecil harus ke kantor dan sekolah. Jangan lupa untuk, mandi yang bersih, pakai baju rapi, dan sarapan agar kita dan si kecil siap untuk belajar dan bekerja.

  1. Family Time

Meskipun rasanya ribet dan bikin pusing, momen #dirumahaja bisa jadi sarana untuk meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga. Ciptakan waktu berkualitas bersama si kecil ya. Selama family time, Ayah dan Bunda perlu fokus pada interaksi dan afeksi si kecil. Berikan pelukan, kata-kata kasih sayang, dan luangkan waktu beraktivitas bersama, ya. Momen ini bisa merekatkan keluarga, loh!

  1. Me-Time

Secapek-capeknya mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan si kecil di tengah situasi penuh tekanan seperti ini, Ayah dan Bunda tetap perlu melakukan self-care ya, demi menjaga kesehatan mental kita. Karena, mental yang sehat juga akan mendorong kita lebih produktif, lebih positif, dan menjaga imunitas tubuh kita. Jangan lupa istirahat dan ambil waktu untuk me-time ya, Ayah dan Bunda!

  1. Tetap Tenang dan Kelola Stress

Masa-masa ini adalah masa saat stress mudah menyerang. Ayah dan Bunda perlu bisa mengelola stress, merawat diri dengan baik, agar kita bisa merawat anak-anak kita.

  1. Anda Tidak Sendiri

Saat ini, ada jutaan orangtua yang mengalami hal sama dengan Ayah dan Bunda. We’re in this together! Ayah dan Bunda akan bisa melewati ini semua!

Terakhir, kami selaku tim Kejora, ingin mememberikan apresiasi sebesar-besarnya pada semua Ayah dan Bunda!

Terima kasih, karena Bunda bisa:

  • Bekerja dari rumah, sambil urus rumah, suami, dan anak (jangan lupa urus diri sendiri ya, Bunda!).
  • Meeting online sama bos, sambil gendong si kecil atau nemenin si kecil sekolah
  • Mendampingi si kecil sekolah dan belajar, ikut beradaptasi dengan sistem sekolah online yang masih membingungkan, sambil adaptasi juga sama sistem WFH (Work from Home).
  • Berkoordinasi dengan guru sekolah si kecil, sambil berkoordinasi dengan suami, Pak bos di tempat kerja, dan bapak GoFood yang lagi kirim makanan buat keluarga.
  • Masak di rumah, cari resep-resep kekinian di instagram / youtube, agar keluarga tetap terpenuhi gizi dan kesehatannya.
  • Tetap ber-partner bersama suami, bekerja bersama, demi keluarga, meski sama-sama repot, belum lagi urus mertua.
  • Menahan emosi dan amarah demi keharmonisan keluarga, meski susah dan capek sekali rasanya.

Bunda tidak perlu sempurna (Tidak mungkin juga bisa sempurna), tapi Bunda bisa! Bunda hebat! Terima kasih, Bunda!

Terimakasih, karena Ayah bisa:

  • Ikut nemenin si kecil main, sambil jaga-jaga kalau bos telpon.
  • Fokus kerja di rumah, dengar meeting online kantor, sambil dengar istri dan anak ramai di rumah, apalagi kalau si kecil lagi nangis dan istri lagi emosi.
  • Bantuin pekerjaan rumah istri, untuk cuci piring, bikin kopi, menyapu, jemur pakaian. Sambil bolak-balik urus kerjaan kantor.
  • Bekerjasama dengan istri mengurus si kecil, untuk bikinin susu, ganti popok, menyuapi si kecil makan, sambil mengatur karyawan.
  • Menahan emosi dan tekanan kerja demi menjaga ekonomi dan kebutuhan keluarga, meskipun rasanya capek dan entah kapan berakhir.
  • Memberi support dan tetap hadir secara emosi untuk keluarga.

Ayah tidak perlu sempurna, tapi Ayah keren! Ayah kuat! Terima kasih Ayah!

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menjalankan parenting bagi si kecil selama pandemi global ini. We are in this together. This too shall pass. There is always a rainbow after the rain. Stay safe & healthy, Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Mencegah Infeksi corona, Hindari Kelirumologi Disinfektan!

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu,

Saat ini infeksi virus corona menjadi ancaman bagi kita semua. Virus corona dapat bertahan sampai dengan 72 jam di permukaan dan untuk membasminya diperlukan upaya pembersihan. Namun banyak orang yang menjadi terlalu khawatir dengan hal tersebut sehingga menggunakan disinfektan secara berlebihan dan melupakan prinsip utama pencegahan infeksi virus corona.

Virus corona ditularkan melalui droplet atau percikan udara pernapasan, percikan tersebut akan jatuh sesuai gaya gravitasi sejauh 1-2 meter. Untuk itu pencegahan yang utama adalah:

    1. Mencegah percikan droplet
      1. Gunakan masker jika sakit
      2. Tutup mulut dan hidung saat bersin dan/atau batuk dengan tangan, siku bagian dalam atau tisu
      3. Jaga jarak >1 meter dengan orang lain
      4. Hindari bertemu dengan orang lain jika tidak diperlukan
    2. Cegah penularan melalui perantaraan tangan
      1. Tidak bersalaman
      2. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik setelah terkena percikan batuk/bersin atau dengan bahan dasar alkohol >60%
    3. Bersihkan lingkungan, terutama permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, tombol saklar lampu, dan pegangan tangga

Kapan kita perlu menggunakan disinfektan?

Kita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona. Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

  • Bersihkan dengan cara kering (sapu, lap dengan bahan microfiber) untuk membersihkan bahan yang ringan
  • Bersihkan permukaan dengan cara basah, menggunakan air hangat dan detergen. Bersihkan dengan menggosok untuk menghilangkan cairan tubuh atau kotoran yang menempel
  • Bilas dengan air bersih
  • Biarkan kering
  • Bersihkan dengan larutan disinfektan dengan konsentrasi yang sesuai, dan waktu kontak (biarkan tetap basah untuk waktu tertentu untuk membunuh bakteri/virus) umumnya 5-10 menit.
  • Bilas kembali dengan air bersihKita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona.  Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

Bahan disinfektan yang dapat digunakan adalah klorin dengan konsentrasi 0,1% (1 bagian klorin 5,25% diencerkan 49 bagian air – 1 mL klorin 5,25% ditambah 49 mL air). Sementara untuk bahan yang berpori (misalnya, karpet) dapat dilakukan pencucian dengan suhu 60-70 derajat Celsius.

Tidak ada rekomendasi yang menyatakan penyemprotan dengan disinfektan kepada manusia atau jalanan akan efektif mencegah penularan virus corona.

Untuk menjaga agar keluarga kita tetap sehat maka kembali kepada pencegahan utama: memakai masker, tutup mulut dan hidung saat batuk, cuci tangan setelah kontak dengan batuk dan sebelum memegang mata/hidung/mulut, jaga jarak 1-2 meter,hindari keluar atau berkerumun bila tidak diperlukan, serta bersihkan ruangan secara teratur.

Semoga kita selalu sehat ya!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://www.aaha.org/aaha-guidelines/infection-control-configuration/protocols/cleaning-and-disinfection2

https://www.nea.gov.sg/our-services/public-cleanliness/environmental-cleaning-guidelines/guidelines/guidelines-for-environmental-cleaning-and-disinfection

 

Hidung Tersumbat

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini kita akan mencari tahu tentang mengapa hidung kita bisa tersumbat.

 

Ayah dan Ibu Kejora atau bahkan si Buah Hati pasti pernah ya merasakan hidung tersumbat, yaitu hidung terasa penuh sehingga sulit bernapas melalui hidung alias mampet. Hidung tersumbat dapat sangat mengganggu. Selain dapat menyebabkan kesulitan bernapas saat beraktifitas, kesulitan bernapas juga terjadi pada saat tidur sehingga menyebabkan gangguan tidur. Hidung tersumbat menyebabkan aliran udara yang terhirup ke dalam hidung menurun dan mengganggu fungsi penghidu, karena udara yang membawa bau/ aroma ke dalam hidung tidak dapat masuk sepenuhnya ke dalam area penghidu di dalam hidung.

 

Hidung tersumbat biasanya terjadi karena adanya reaksi peradangan di dalam hidung akibat infeksi virus/ bakteri, polip hidung, reaksi alergi, atau adanya kelainan struktur hidung.

 

Peradangan yang terjadi pada hidung menyebabkan terjadinya: 1) pembengkakan pada lapisan permukaan, serta 2) pelebaran pembuluh darah di dalam hidung. Pembengkakan ini juga terkadang disertai dengan adanya produksi cairan/ ingus yang menyebabkan hidung semakin tersumbat.  Pada kasus-kasus tertentu peradangan yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya polip pada hidung terutama pada kasus-kasus alergi.

Gambar 1. Peradangan pada hidung

 

Kelainan pada struktur hidung juga dapat menyebabkan terjadinya sumbatan pada hidung, kelainan yang paling sering antara lain septum deviasi (tulang hidung bengkok), pembesaran amandel di belakang hidung dan beberapa kelainan bawaan seperti sumbing pada langit-langit mulut serta atresia koana (rongga hidung bagian belakang tidak terbentuk).

Gambar 2. Septum deviasi (tulang hidung bengkok)

 

Apa yang Ayah dan Ibu harus dilakukan apabila mengalami hidung tersumbat ? Hidung tersumbat yang terjadi sementara dan sebagai bagian dari suatu gejala peradangan dapat sembuh dengan sendirinya terutama bila penyebabnya adalah virus. Untuk kasus-kasus yang disebabkan karena alergi dan kelainan struktur hidung, hidung tersumbat biasanya akan terjadi secara berkepanjangan. Apabila terdapat hidung tersumbat yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu dan menyebabkan gangguan aktifitas atau gangguan tidur, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan dokter untuk mencari penyebabnya.

 

Editor: drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

 

Sumber : Naclerio, RM, Bachert C, Baraniuk, JN. Pathophysiology of nasal congestion. International Journal of General Medicine 2010:3 47–57

 

Sumber Gambar:

  1. https://www.google.com/search?q=nasal+congestion+&tbm=isch&ved=2ahUKEwiEk8b7-_HoAhVU8DgGHTqdDaIQ2-cCegQIABAA&oq=nasal+congestion+&gs_lcp=CgNpbWcQAzIECCMQJzICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADoHCCMQ6gIQJzoECAAQQ1DsrQNYuOUDYK7mA2gEcAB4BoABnAiIAaovkgEPNS42LjMuMy4xLjAuMi4xmAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWewAQo&sclient=img&ei=f_GaXsTXBdTg4-EPurq2kAo&bih=618&biw=1333&safe=strict#imgrc=gorcuDoZ4SqEAM
  2. https://www.stlsinuscenter.com/common-sinus-problems/septal-deviation/

 

Menyusui dan Covid-19

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui merupakan kebutuhan eksklusif bayi selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI memberikan kecukupan dan kelengkapan nutrisi serta perlindungan terhadap berbagai penyakit.

 

Berikut rekomendasi para ahli mengenai menyusui di tengah pandemik COVID 19 :

 

Banyak yang belum diketahui tentang sifat dan penyebaran penyakit COVID 19 serta virus penyebab penyakit ini, yakni SARS-COV 2.  Belum diketahui apakah seorang ibu dapat menularkan COVID-19 pada bayinya melalui ASI atau tidak. Namun, penularan virus sakit pernafasan melalui ASI tergolong rendah, sehingga WHO ( World Health Organization) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terinfeksi flu maupun COVID-19 untuk tetap menyusui. Hal ini juga berlaku bagi ibu dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lainnya.

 

Seorang ibu yang positif COVID-19 atau yang tergolong Pasien dalam Pengawasan (PDP) dapat menerapkan langkah-langkah berikut ini:

  • Cuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, peralatan pompa, dan peralatan minum bayi
  • Ikuti semua petunjuk cara membersihkan peralatan pompa dan minum bayi
  • Gunakan masker wajah saat menyusui bayi
  • Apabila ibu harus dalam perawatan terpisah dengan bayi, cari informasi terkait donor asi / orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Referensi:

https://www.bfmed.org/abm-statement-coronavirus

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/pregnancy-guidance-breastfeeding.html

https://www.ilca.org/main/learning/covid-19