Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Apa itu Maskne?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora, belakangan ini, setelah berlaku masa transisi dari PSBB ke New Normal, masyarakat digalakkan untuk memakai masker, baik masker bedah ataupun masker kain, ketika beraktivitas di luar rumah. Namun beberapa masalah kulit dapat muncul pada pemakaian masker jangka panjang, termasuk iritasi, alergi dan  yang belakangan banyak dikeluhkan adalah jerawat  di area wajah yang tertutup masker atau bisa disebut “maskne.

Apa itu Maskne?

Maskne  atau  jerawat masker (mask acne) sebenarnya adalah suatu bentuk akne, yang sering disebut sebagai akne mekanika, atau akne yang timbul karena gesekan berulang di kulit. Gesekan berulang pada satu area kulit dapat menyebabkan kerusakan sawar kulit atau microtear yang mempermudah bakteri dan kotoran untuk masuk kedalam pori-pori kulit dan memicu terjadinya infeksi. Selain itu, napas kita yang teroklusi di balik masker akan menyebabkan lingkungan yang lembab dan memudahkan bakteri berkembang biak.

Siapa saja yang dapat mengalami Maskne?

Maskne terutama dialami oleh para pekerja kesehatan yang harus menggunakan beberapa lapis masker dan alat pelindung diri dalam jangka waktu lama (lebih dari 6 jam). Namun maskne juga bisa terjadi pada semua orang yang rutin memakai masker dan memiliki kulit yang cenderung berminyak atau sensitive.

Bagaimana cara mencegah timbulnya Maskne?

Meskipun begitu, penggunaan masker tetap diperlukan untuk mencegah penularan virus Corona pada kondisi pandemik saat ini. Untuk mencegah terjadinya maskne, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Gunakan masker yang terbuat dari bahan yang halus dan natural, misalnya katun. Selain itu, pilih bahan yang dapat meyerap keringat dan halus, sehingga mengurangi faktor kelembapan dan gesekan pada kulit. Jangan gunakan bahan sintetik seperti rayon, polyester atau nilon.
  2. Ganti masker tiap 4 jam dan bersihkan wajah dengan facial wash atau micellar water yang lembut. Cuci masker tiap selesai pemakaian.
  3. Gunakan produk pelembap atau sunscreen yang ringan dan non-komedogenik, dengan formulasi gel atau lotion.
  4. Hindari pemakaian makeup atau skin care yang terlalu creamy, atau oil-based pada area yang tertutup masker. Hindari pemakainan produk seperti foundation, Cushion dan bedak padat yang dapat menyumbat pori-pori pada kulit yang tertutup masker.
  5. Saat ini jangan mencoba produk baru, terutama produk yang dapat mengeksfoliasi kulit, seperti AHA, BHA, benzoyl peroxide dan retinoid. Oklusi oleh masker dapat meningkatkan penyerapan zat aktif dan memicu iritasi dan peradangan.
  6. Jangan menyentuh wajah dibalik area yang tertutup masker. Jari kita dapat mentransfer bakteri dan virus ke area tersebut.

Apabila timbul maskne atau keluhan kulit lain yang cukup berat dan tidak bisa diatasi dengan skin care over the counter dan langkah pencegahan di atas, konsultasikan masalah kamu dengan dokter spesialis kulit dan kelamin, baik online maupun offline. Terkadang diperlukan obat minum atau obat yang harus diresepkan untuk membantu mengurangi maskne tersebut.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Sumber:

  1. https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/face-mask-skin-problems-treatment
  2. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/face/prevent-face-mask-skin-problems
  3. Plewig G., Kligman A.M. (2000) Acne Mechanica. In: ACNE and ROSACEA. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-59715-2_27

Adaptasi Kehidupan Baru pada Anak #dirumahaja

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Tidak terasa 4 bulan sudah berlalu sejak saya menulis topik bahasan ‘Fakta COVID-19 pada Anak’ untuk keluarga Kejora. Saat ini pandemi masih belum berakhir dan dalam 4 bulan ini kita sudah menyesuaikan diri dengan banyak kebiasaan baru, diantaranya #dirumahaja untuk memutus rantai penularan COVID-19. Yuk, kita pahami bersama adaptasi kehidupan baru untuk anak supaya mereka tetap dapat tumbuh dan berkembang optimal, meskipun di tengah pandemi.

Apakah pentingnya adaptasi kehidupan baru pada anak #dirumahaja?

Angka kejadian COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan. Terhitung 19 Juli 2020 terdapat 86.521 kasus terkonfirmasi dan 8,1% diantaranya adalah kasus anak dengan angka kematian anak adalah 1,5%. Hal tersebut tergolong tinggi dibandingkan kasus anak di negara lainnya. Oleh karena itu anak #dirumahaja dengan melakukan adaptasi kehidupan baru merupakan pilihan terbaik saat ini.

Perilaku hidup bersih dan sehat sebagai dasar proses beradaptasi dengan kehidupan baru

Ayah dan Ibu Kejora tidak boleh bosan untuk mengajarkan anak perilaku hidup bersih dan sehat, diantaranya adalah :

  • Cuci tangan yang bersih dengan menggunakan sabun sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.
  • Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.
  • Anak perlu makan dengan pola makan bergizi dan seimbang, olah raga teratur, berjemur dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Pentingnya peran orang tua untuk memberikan informasi dengan bahasa yang mudah kepada anak sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman tanpa perlu membuat mereka menjadi ketakutan. Hal tersebut memiliki andil untuk mencegah penyebaran COVID-19, diantaranya :

  • Anak menggunakan masker jika terpaksa keluar dari rumah dan melakukan prinsip physical distancing, yaitu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter.
  • Ajarkan anak untuk tidak memegang daerah wajah terutama mata, hidung, mulut.
  • Memberi pengertian pada anak untuk beraktivitas di dalam rumah.

Apakah ada dampak negatif bagi anak selama #dirumahaja?

Anak dan remaja merupakan kelompok yang rentan terdampak kesehatan jiwa dan psikososial akibat pandemi COVID 19. Anak mengalami rasa stres/tertekan, cemas dan bosan di rumah yang diekspresikan melalui emosi dan perilaku. Hal untuk mencegahnya, diantaranya :

  • Membuat jadwal kegiatan harian sesuai dengan usia anak.
  • Mengajak anak berbicara dengan tenang, penuh kasih sayang dan beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan mengungkapkan isi pikiran.
  • Memberi pujian dan motivasi terkait aktivitas yang dilakukan.
  • Fasilitasi interaksi anak dengan teman dan saudara melalui media sosial dengan pendampingan orangtua.
  • Membantu melakukan hobi atau hal yang disukai anak.
  • Hindari segala bentuk kekerasan fisik, psikologis dan sosial, seperti membentak atau kekerasan karena akan menambah stres dan marah.
  • Mengenali tanda masalah psikososial anak (gelisah, sedih, bosan, mudah tersinggung, agresif, dan menyendiri) dan segera konsultasi ke dokter, jika diperlukan.

Bagaimana proses belajar anak di sekolah?

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan melakukan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk pembelajaran jarak jauh. Usahakan Ayah atau Ibu Kejora dapat mendampingi Sang Buah Hati dalam proses belajar dan batasi penggunaan gawai di luar kegiatan sekolah untuk mencegah dampak negatif dari paparan sinar biru layar gawai.

Pesan bagi orang tua yang masih harus bekerja di luar rumah

Pastikan Ayah dan Ibu Kejora melakukan protokol kesehatan yang baik setelah menghabiskan seharian waktu di luar rumah, diantaranya adalah :

  • Buka sepatu sebelum masuk rumah.
  • Letakkan baju kotor di wadah khusus yang tertutup dan jauh dari jangkauan anak.
  • Bersihkan HP, kacamata atau benda lainnya yang dibawa dari luar dengan desinfektan.

Mari kita beradaptasi dengan kehidupan baru dengan selalu memperhatikan tumbuh kembang anak.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Referensi:

https://covid19.go.id/peta-sebaran

https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/Pedoman-dukungan-keswa-psikososial-covid-19.pdf

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/children.html

https://www.who.int/maternal_child_adolescent/links/covid-19-mncah-resources-care-for-young-children/en/

Skrining Hipotiroid Kongenital

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu bahwa bayi yang baru lahir perlu menjalani pemeriksaan skrining? Salah satu pemeriksaan skrining yang sudah menjadi program nasional adalah skrining hipotiroid kongenital. Berikut adalah informasi selengkapnya mengenai hipotiroid kongenital dan pemeriksaan skriningnya.

Hipotiroid kongenital (HK) merupakan suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan defisiensi hormon tiroid pada neonatus. Hormon ini sangat penting karena berperan dalam pertumbuhan tulang dan perkembangan otak. Selain itu, hormon ini juga berfungsi untuk mengatur produksi panas tubuh, metabolisme, kerja jantung, dan saraf. HK dilaporkan sebagai penyebab terbesar retardasi mental yang dapat dicegah di Indonesia dengan insidens HK sekitar 1:2916 kelahiran.

Gejala yang dapat terlihat pada HK terutama berupa lemas, tampak kuning, lidah besar (makroglosia), mudah kedinginan, perut buncit, serta penurunan tonus otot. Gejala-gejala tersebut biasanya tidak terlihat saat lahir dan baru dideteksi setelah bayi berusia 6-12 minggu. Selain itu, juga dapat ditemui hambatan pertumbuhan dan perkembangan yang mulai tampak nyata pada umur 3–6 bulan, disertai dengan gejala HK yang lebih jelas. Jika tidak diobati, dapat terjadi keterlambatan perkembangan, misalnya terlambat duduk, berdiri, serta belajar bicara, dan dapat berlanjut menjadi keterbelakangan mental. Deteksi dini yang diikuti dengan penatalaksanaan yang tepat, diketahui dapat mencegah dampak negatif yang dapat diakibatkan kelainan kongenital ini, terutama dampak negatif terhadap perkembangan otak. Oleh karena itu, dikembangkan program skrining nasional untuk mendeteksi dini HK.

Di Indonesia, program skrining nasional HK telah dikembangkan sejak tahun 2014. Berdasarkan Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014, skrining HK idealnya dilakukan pada bayi berusia 2-3 hari, namun masih baik dilakukan hingga bayi berusia 4-5 hari . Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, orang tua akan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan ini. Pengambilan sampel darah dilakukan melalui tumit bayi (heel prick) yang kemudian diteteskan pada kertas saring khusus dan dikirim ke laboratorium. Di laboratorium, sampel darah pada kertas saring akan diperiksa kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone). TSH merupakan hormon yang berfungsi untuk melepaskan hormon tiroid ke dalam darah. Jika hasil kadar TSH < 20 uU/mL, maka hasil dikatakan normal, namun jika hasil TSH > 20 uU/mL, maka perlu dilakukan konsultasi dengan dokter. Bergantung pada kondisi bayi, dapat dipertimbangkan pengambilan darah ulang untuk melakukan pemeriksaan lagi atau dilakukan tes konfirmasi pemeriksaan kadar hormon TSH dan T4 bebas dari dalam darah. Tes konfirmasi ini dilakukan untuk menegakkan kondisi hipotiroid kongenital.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora!

Sumber:

Kemenkes RI. Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital. 2014.

Kenali Fistul Preaurikula

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang fistul preaurikula? Kali ini, mari kita cari tahu tentang fistul preaurikula.

Fistul preaurikula adalah lubang di depan telinga. Lubang ini normalnya tidak ada sehingga keberadaannya merupakan suatu kelainan bawaan. Lubang ini merupakan muara dari saluran yang mengarah ke liang telinga dan dapat terinfeksi. Pada prinsipnya, apabila tidak terjadi infeksi, maka lubang ini hanya merupakan kelainan yang tidak perlu ditindak lanjuti.

Gambar 1. Fistul preaurikula atau lubang di depan telinga

Sumber Gambar: https://dragonsurgery.com/ear-pits/

Tetapi, apabila terdapat tanda-tanda infeksi pada fistul preaurikula, Ayah dan Ibu harus melakukan konsultasi ke dokter THT, ya? Berikut tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, yaitu:

  • Bengkak
  • Kemerahan
  • Nyeri
  • Bernanah
  • Demam

Gambar 2. Pembengkakan pada preaurikula

Sumber Gambar: https://www.healio.com/news/pediatrics/20120325/a-13-month-old-girl-with-pre-auricular-swelling

Tatalaksana yang biasa dilakukan pada fistul preaurikula adalah memastikan kebersihan daerah terinfeksi disertai obat-obatan anti radang atau antibiotik jika diperlukan. Jika terdapat infeksi berulang, maka dokter akan mempertimbangkan tindakan pembedahan untuk mengangkat saluran dan menutup lubang tersebut.

Referensi:

https://www.chop.edu/conditions-diseases/preauricular-pits

Peran dan Efek Radiografi dalam Perawatan Gigi Anak

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo Ayah dan Ibu Keluarga Kejora!

Pernahkah saat menemani si kecil ke dokter gigi, kemudian dokter gigi anda meminta untuk melakukan rujukan pemeriksaan radiografi pada gigi yang sedang dilakukan perawatan atau menjadi keluhan si kecil?

Mungkin ini kali pertama bagi anda sebagai orang tua menghadapi  tindakan pengambilan radiografi pada gigi anak. Hal ini bisa saja menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak anda, seperti apakah hal tersebut akan menyakiti si kecil, bagaimana prosedur pengambilan foto radiografi gigi atau efek radiasi yang akan ditimbulkan.

Mari kita bahas Ayah dan Ibu,

Radiografi pada kedokteran gigi merupakan hal yang penting dalam membantu proses penegakkan diagnosa, salah satunya pada kasus gigi anak. Diagnosa awal pada beberapa kasus seperti karies yang tersembunyi, abses pada gigi, kerusakan tulang rahang akibat trauma, fraktur pada gigi ( gigi patah ), dapat terlihat pada gambaran foto radiografi. Sehingga hal ini dapat membantu dokter gigi dalam mendeteksi masalah dan melakukan tindakan perencanaan perawatan gigi pada anak.

Meski terdapat risiko radiasi yang ditimbulkan dari paparan sinar x atau x-ray, baik pada pasien dewasa maupun anak. Berdasarkan paparan penelitian ilmiah, radiografi pada kedokteran gigi sangat aman untuk digunakan baik melalui permukaan luar atau dalam tubuh. Selain itu jumlah radiasi yang digunakan pada anak tergolong sangat rendah.

Terdapat 2 jenis pilihan radiografi pada gigi yang dapat dipilih berdasarkan kebutuhan jenis perawatan :

  1. Intra oral ( dalam mulut ) : Bitewing, Foto Periapikal, Foto Occlusal
  2. Ekstra oral ( di luar mulut ) : Panoramik, Cephalometri,  Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

Sementara bila anda khawatir dengan jumlah paparan sinar x-ray yang dapat masuk ke dalam tubuh si kecil, mungkin gambaran berikut dapat mengurangi rasa cemas anda bahwa tingkat radiasi pada radiografi gigi anak cukup aman:

  1. Radiasi radiografi pada radiografi intra oral berkisar di 1,5 μSV
  2. Radiasi pada radiografi panoramik berkisar 2,7 μSV – 24 μSV
  3. Berdasarkan data ilmiah, batas maksimum sinar x-ray yang dapat diterima seseorang dalam kurun waktu satu tahun sekitar 5000  μSV

Selain dari tingkat radiasi yang tergolong cukup rendah, beberapa hal dilakukan agar tubuh si kecil tidak langsung terpapar sinar radiasi x-ray. ADA ( American Dental Association) merekomendasikan penggunaan apron/ rompi yang menutupi bagian dada dan lead collar atau penutup bagian leher untuk melindungi kelenjar tiroid.

Lalu bagaimana apabila si kecil terlihat takut dan cemas saat pengambilan foto radiografi, berikut tips yang bisa dilakukan:

  1. Terkadang peralatan radiografi terlihat menyeramkan dan membuat anak menjadi takut jadi beri pemahaman dan komunikasi yang baik dengan si kecil, seperti bercerita mengenai bentuk film yang digunakan, tata cara pengambilan foto
  2. Komunikasi dengan dokter gigi terkait pemilihan jenis foto radiografi serta metode yang digunakan dengan melihat usia anak, tingkat kooperatif pasien dan kondisi gigi atau bagian di dalam rongga mulut yang sedang dilakukan perawatan
  3. Anestesi lokal bisa dilakukan, bila si kecil terasa sangat sakit atau mual saat pengambilan foto secara intra oral
  4. Konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis gigi anak, bila si kecil memiliki kebutuhan khusus

Sumber :

https://www.ecronicon.com › PDF
Web results
Dental Radiography and Radiation Damage to Children Article Review – ECronicon

Bolehkah Minum Kopi Decaf saat Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Aktif Bergerak Bersama Anak di Masa Pandemi

 

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode kritis dalam membentuk keterampilan motorik, sensorik serta membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan fisik dan mental. Pada masa ini, terjadi perkembangan fisik dan kognitif yang pesat dimana kebiasaan anak terbentuk, berubah, dan terus beradaptasi. Aktivitas fisik yang rutin akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Durasi kondisi fisik yang aktif dan non-aktif (tidur, sedentary) yang seimbang dan teratur dapat menjamin baiknya kualitas kesehatan fisik dan mental.

Selama pandemi Covid-19, sesuai anjuran Pemerintah, dilakukan physical distancing (dikenal juga sebagai social distancing atau safe spacing) untuk mencegah penyebaran penyakit di komunitas. Dengan adanya physical distancing ini berarti anak harus membatasi kontak dengan orang lain, termasuk tidak bersekolah, diadakannya kelas virtual atau pekerjaan rumah (PR). Olahraga atau bermain outdoor juga harus dibatasi, interaksi sosial hanya bisa dilakukan secara virtual, baik melalui telepon seluler, komputer, atau video games.

Tantangan bagi orangtua adalah untuk menjaga anak tetap aktif dan sehat, agar daya tahan tubuh baik dan tahan terhadap penyakit. Perilaku hidup sehat juga penting untuk mengurangi risiko depresi dan kecemasan yang dapat timbul akibat isolasi diri di rumah.

 

Mengapa anak tetap harus aktif bermain di masa Pandemi Covid-19 ini?

Pentingnya anak tetap melakukan aktivitas fisik dan bermain pada masa pandemi ini adalah sbb:

  • Membantu melalui proses “new normal” selama masa yang penuh ketidakpastian.
  • Bermain penting untuk membantu anak menjalani proses respon emosi terhadap tantangan dan stress.
  • Aktivitas fisik outdoor dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengontrol keinginan dan kemampuan, serta membangun keterampilan fisik dan emosi.
  • Bermain dan aktivitas fisik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih “sehat” dibandingkan dengan hanya sedentary screen time. Selain itu memperbaiki kualitas tidur akibat keluarnya energi yang optimal selama anak aktif bermain.

 

Bagaimanakah rekomendasi aktivitas fisik menurut WHO?        

WHO merekomendasikan durasi waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam melakukan aktivitas fisik bagi anak usia kurang dari 1 tahun adalah 30 menit. Untuk anak berusia 1-5 tahun adalah selama 180 menit (3 jam). Sedangkan untuk anak usia 6-17 tahun sebanyak 60 menit.

Berikut ini adalah manfaat aktivitas fisik bagi anak secara umum menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO):

  • Membangun jaringan muskuloskeletal (tulang, otot, dan sendi) yang sehat.
  • Membangun sistem kardiovaskuler (jantung, paru) yang sehat.
  • Meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol gerak saraf dan otot (neuromuskuler).
  • Menjaga berat badan yang optimal.
  • Meningkatkan fungsi kognitif dari otak.
  • Efek psikologis: mengontrol gejala kecemasan dan depresi (fun and happy).
  • Perkembangan sosial (membangun percaya diri, kemampuan ekspresi diri, interaksi sosial, dan integrasi).

 

(Gambar Rekomendasi WHO)

 

 

 

Apakah ada latihan fisik tertentu untuk anak?

Tubuh anak terdiri dari ratusan tulang dan otot yang diatur oleh begitu banyak saraf dan dikontrol oleh otak. Otak berfungsi sebagai programmer dari gerakan-gerakan tersebut. Dalam buku Physical Activity Guidelines for Americans, dikatakan bahwa jenis aktivitas fisik pada anak dapat berupa latihan aerobik, latihan penguatan otot dan tulang, latihan fleksibilitas, serta latihan keseimbangan yang akan banyak melatih otot-otot besar demi meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Latihan aerobik disebut juga aktivitas daya tahan atau kardio. Menggunakan otot-otot besar tubuh yang bergerak dalam gerakan ritmis dalam suatu periode waktu tertentu. Contoh aktivitas pada anak misalnya berjalan, berlari, lompat tali, bersepeda, berbaris atau berjalan di tempat, dan berenang. Aktivitas bermain pura-pura, seperti mencari harta karun, latihan halang rintang dengan barang-barang yang ada di dalam rumah, serta membersihkan mainan dengan menggunakan balon panjang yang diletakkan di depan wajah sehingga menyerupai seekor gajah juga dapat dijadikan contoh untuk jenis latihan ini.

Latihan penguatan otot dan tulang mencakup latihan resistensi (tahanan) dan weight lifting (angkat beban). Pada latihan ini, otot tubuh bekerja atau menahan beban dengan melawan suatu gaya atau berat tertentu. Dapat dilakukan dengan mengangkat benda (barbel, dll) selama beberapa kali pengulangan untuk grup otot tertentu atau dengan menggunakan tali elastis khusus. Selain itu dapat pula dengan cara menahan berat badan sendiri, seperti halnya berlari, naik turun tangga, memanjat pohon, push-up, jongkok bangun (squatting), dan jumping jacks.

Latihan fleksibilitas seperti halnya stretching atau latihan kelenturan dapat meningkatkan kemampuan sendi dalam bergerak melalui lingkup gerak sendi yang penuh. Pada anak-anak umumnya tingkat kelenturan sendi masih cukup baik, namun demikian dengan jenis latihan ini, akan semakin meningkatkan elastisitas jaringan tubuh dan performa anak dalam melakukan aktivitas. Bermain yoga dengan berbagai pose binatang, seperti halnya kupu-kupu, macan, sapi, ular, dan lain-lain dapat menjadi alternative untuk jenis latihan ini.

Latihan keseimbangan dapat memperbaiki kemampuan menahan gaya yang berada di dalam ataupun di luar tubuh, sehingga tidak terjatuh saat diam ataupun bergerak. Contoh aktivitas ini misalnya berjalan mundur, berdiri pada satu kaki, lompat kelinci, berdiri dengan menggunakan wobble board atau papan titian yang dibuat sendiri dari barang di sekitar rumah. Latihan penguatan pada otot punggung, perut dan kaki juga dapat memperbaiki keseimbangan, karena selain berfokus pada penguatan otot juga membantu meningkatkan kerja organ proprioseptif pada tubuh anak.

 

Jadi, cukup banyak kan jenis aktivitas fisik anak yang tetap dapat dilakukan di rumah meskipun pada masa pandemi ini? Artinya berada di rumah, bukan berarti kita harus membatasi gerak anak, namun kita sebagai orangtua tetap harus memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik “bermain“ yang bervariasi, aman, dan menyenangkan sesuai dengan usianya.

Stay safe and healthy!!

 

Editor              : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Patah Tulang pada Anak: Ke Dukun Tulang atau Dokter?

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Patah tulang, atau fraktur, pada anak selalu membuat orang tua menjadi sangat khawatir. Ayah dan Ibu pasti tidak tega melihat sang anak mengalami rasa sakit yang hebat dan terus menerus. Namun masih banyak ditemui sebagian orang tua yang ragu membawa anaknya ke dokter karena khawatir bila diharuskan operasi. Padahal, walaupun tulang anak masih mudah untuk menyambung, tetapi jika terjadi ‘salah sambung’ akan menimbulkan kecacatan yang akan mempengaruhi fungsi anak saat tumbuh dewasa loh, Ayah dan Ibu. Apa iya penanganan patah tulang oleh dokter sebegitu menyeramkannya?

Terkadang sangat sulit mengkonfirmasi riwayat trauma pada anak-anak, terutama bila anak belum lancar berbicara.  Namun, gejala patah tulang pada anak tidak berbeda dengan dewasa, yakni nyeri, bengkak, memar, deformitas/ bengkok. Tanda lainnya termasuk anak tidak mau menggunakan/ menggerakkan anggota tubuh yang patah dan dapat disertai luka yang menyebabkan bagian tulang menonjol keluar. Agar dapat menegakkan diagnosa, maka diperlukan pemeriksaan penunjang berupa x–ray (rontgen) untuk menunjukkan posisi dan kedudukan tulang yang patah.

 

Kapan harus ke dokter?

Setiap kali terjadi cidera sebaiknya anak diperiksakan ke dokter untuk memastikan kondisi otot dan tulangnya, terutama bila ia mengeluhkan nyeri pada anggota tubuhnya dan menolak untuk menggerakannya. Apabila terjadi patah tulang, kondisi ini wajib untuk segera dievaluasi oleh dokter orthopaedi.

Pada kondisi khusus dimana anak sangat mudah mengalami patah tulang, maka kemungkinan anak tersebut memiliki kelainan metabolik atau bawaan sejak lahir, misalnya yang kerap disebut sebagai osteogenesis imperfecta. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan tulang sang anak lebih rapuh, mudah patah, dan sulit sembuh, sehingga ia membutuhkan perawatan khusus.

 

Apakah dokter lebih menyeramkan dari dukun patah tulang?

Masih banyak stigma yang menyebutkan bahwa kasus patah tulang yang dibawa ke dokter pasti akan dioperasi. Padahal, ada beberapa jenis penanganan patah tulang pada anak, antara lain pemasangan bidai atau gips, traksi, dan operasi. Untuk operasi pun terdapat dua macam, yakni operasi terbuka dan operasi minimal invasif (luka sayatan hanya berukuran kecil). Pilihan jenis penanganan/ terapi ini tergantung pada jenis patah yang dialami anak. Jadi, tidak semua kasus patah tulang yang ditangani oleh dokter memerlukan operasi.

Bagaimana dengan dukun patah tulang? Dukun patah tulang tidak memeriksa anak Ayah dan Ibu dengan modalitas x-ray, sehingga mereka tidak mengetahui jenis patah tulang yang terjadi. Dukun patah tulang biasanya menangani kasus patah tulang dengan pijatan atau pemasangan bidai. Pemijatan pada tulang yang patah akan menyebabkan nyeri dan bengkak yang semakin hebat. Tidak jarang pula terjadi kasus infeksi karena metode penanganan ini, atau bahkan berubah menjadi tumor. Pemasangan bidai memang menyerupai salah satu penanganan pilihan dokter. Tetapi, kembali ke jenis patah tulangnya, tidak semua patah tulang dapat ditangani dengan bidai saja.

Beberapa kasus yang jika tidak dilakukan operasi akan meningkatkan resiko infeksi, tidak menyambung (non-union), atau menyambung pada posisi yang salah (malunion) antara lain:

  • Patah tulang terbuka: kontaminasi dari debu dan udara luar dapat menginfeksi luka. Jika tidak segera dibersihkan dengan peralatan dan di ruangan yang steril dapat meningkatkan risiko untuk terjadi infeksi.
  • Patah dengan pergeseran, terutama terputar (rotasi): penyembuhan tulang dapat diibaratkan seperti menempelkan barang pecah dengan lem. Jika pergeseran antar kedua tulang cukup jauh, maka tulang baru akan sulit untuk menyambung dan dapat menempel pada posisi yang salah.
  • Patah remuk (segmental atau kominutif): jenis patah ini sangat tidak stabil, tergantung susunan pecahan tulangnya ada jenis patah yang dapat diterapi dengan gips saja tapi juga ada yang memerlukan operasi.
  • Patah pada area lempeng pertumbuhan (epifisis): patah tulang pada area ini memiliki risiko sangat tinggi untuk terjadinya gangguan pertumbuhan pada tulang yang terkait. Tindakan operasi diperlukan untuk mengurangi risiko dan mengembalikan posisi tulang pada tempatnya.

Ada banyak pertimbangan lainnya sebelum dokter menentukan jenis penanganan patah tulang pada anak, misalnya bila patah terjadi pada area penumpu beban tubuh seperti tulang kaki atau patah pada tangan di sisi dominan. Tindakan operasi dapat membuat anak Ayah dan Ibu lebih cepat kembali beraktivitas.

 

Operasi minimal invasif

Seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, kini tidak semua jenis patah tulang perlu dioperasi secara terbuka. Teknik operasi minimal invasif sudah dikembangkan dan dipraktekkan di kedokteran. Dengan teknik ini, tulang yang patah dapat dipertahankan menggunakan alat implan yang ditanam di dalam tulang melalui luka sayatan yang sangat kecil. Oleh karena itu teknik ini mempunyai banyak keuntungan seperti pemulihan luka yang lebih cepat dan luka yang kecil. Dengan demikian, anak dapat lebih cepat beraktivitas kembali.

Jadi, perlu diingat bahwa kasus patah tulang memiliki jenis penanganan yang berbeda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, namun yang utama adalah keselamatan dan kesehatan anak. Pastikan Ayah dan Ibu memilih dengan bijak. Jangan lupa gunakan jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan ataupun asuransi swasta) untuk meringankan beban biaya.

 

 

Sumber:

Kosuge D, Barry M. Changing trends in the management of children’s fractures. Bone Joint J. 2015;97-B(4):442-448. doi:10.1302/0301-620X.97B4.34723

Ömeroğlu H. Basic principles of fracture treatment in children. Eklem Hastalik Cerrahisi. 2018;29(1):52-57. doi:10.5606/ehc.2018.58165

https://www.assh.org/handcare/condition/fractures-in-children

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=fractures-in-children-90-P02760

https://reference.medscape.com/features/slideshow/pediatric-fractures

http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/f/fractures

http://www.pmmonline.org/page.aspx?id=848

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/fractures-in-children

https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/forearm-fractures-in-children/

https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2018/04/bone-fractures-in-children-when-should-parents-be-concerned