oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Sahabat Kejora, bila Anda berencana untuk memiliki momongan, apakah perlu melakukan pemeriksaan skrining prakonsepsi (penapisan sebelum kehamilan)?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan skrining prakonsepsi?

Skrining prakonsepsi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk mengetahui risiko medis, perilaku, dan kondisi sosial kesehatan seorang perempuan atau luaran kehamilan melalui cara-cara tertentu secara medis.

Ada beberapa tujuan dari skrining prakonsepsi itu sendiri, antara lain:

  1. agar pasangan memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait kesehatan sebelum kehamilan,
  2. agar calon ibu memasuki kehamilan dalam kondisi kesehatan yang optimal, dan
  3. untuk menurunkan risiko kehamilan yang tidak diharapkan dari riwayat kehamilan sebelumnya dengan melakukan persiapan sebelum kehamilan.

Konseling prakonsepsi ini sebaiknya dilakukan dengan melibatkan beberapa ahli terkait seperti dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, dan dokter anak untuk mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat medis, riwayat penyakit genetik, risiko penggunaan zat berbahaya, serta permasalahan status gizi.

Apa saja kondisi yang perlu diperhatikan bagi perempuan yang berencana hamil?

Ada banyak kondisi yang memerlukan perhatian khusus bila seorang perempuan berencana hamil. Secara umum, calon wanita hamil dikatakan berisiko tinggi jika terdapat paling tidak satu dari beberapa kondisi di bawah ini:

  • Usia ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun
  • Riwayat kehamilan sebelumnya:
    • keguguran berulang
    • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
    • riwayat operasi sesar
    • preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
    • persalinan preterm (kurang bulan)
    • perdarahan sebelum atau sesudah persalinan
    • riwayat janin dengan defek tabung neural (neural tube defect)
  • Menderita atau memiliki riwayat medis:
    • Hipertensi kronik (tekanan darah tinggi yang sudah menahun)
    • Diabetes mellitus (penyakit gula)
    • Epilepsi
    • Penyakit jantung dan pembuluh darah
    • Asma
    • Trombofilia (gangguan pembekuan darah)
    • Penyakit ginjal
    • Hepatitis B atau C
    • Anemia
    • Penyakit tiroid
    • Penyakit jaringan ikat, seperti rheumatoid arthritis, lupus
    • Masalah psikiatri atau kejiwaan
    • Kanker
    • Penyakit infeksi
    • Penyakit menular seksual
  • Memiliki riwayat penyakit genetik:
    • thalassemia, fenilketonuria, dan lainnya
  • Penggunaan zat berbahaya:
    • narkotika, rokok, dan alkohol
  • Status gizi:
    • Status gizi kurang (underweight)
    • Status gizi lebih (overweight atau obesitas)

Bila ada salah satu saja kondisi yang disebutkan di atas, maka sebaiknya Sahabat Kejora berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining prakonsepsi agar memasuki kehamilan dengan kondisi yang optimal. Diharapkan dengan dilakukannya skrining prakonsepsi ini, maka luaran buruk saat kehamilan dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihindari.

Editor: dr. Sunita

Sumber:
Chapter 8 Preconceptional Care. Cunningham FG, et al, editors. Williams Obstetrics 25th Edition. 2018. New York: McGraw-Hill. p:146-56.,/p>

471total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *